
Alan meraih tangan Irene yang hampir sampai di puncak. Keduanya ingin meluncur bersama dari sana.
Alan membenarkan letak topi Irene yang agak miring. "Kau masih kuat berseluncur? Udaranya seperti semakin terasa dingin."
"Setelah ini kita istirahat. Sebenarnya aku sangat menyukainya." Irene terlihat bersemangat untuk melakukan permainan yang cukup melatih adrenalin itu.
Alan terdiam sesaat. Ia seperti mendengar suara aneh. "Irene, coba dengarkan sebentar. Apa kamu mendengar sesuatu?" tanyanya.
Irene ikut terdiam dan fokus mendengarkan suara yang ada di sana. Samar-samar ia memang mendengar seperti suara gemuruh yang lambat laun kian mendekat ke arah mereka.
Alan dan Irene saling berpandangan. Mereka menoleh ke arah belakang. Longsoran salju dari puncak tertinggi tengah meluncur ke bawah menerjang pepohonan pinus yang ada di sekitar.
"Irene ... Berlindung!" seru Alan.
Lelaki itu langsung mendekap Irene dalam pelukannya. Mereka terguling ke bawah menelusuri tumpukan salju yang sangat banyak. Longsoran salju kian mendekat dan membuat panik orang-orang yang tengah berlibur di sana.
Bruk!
Setelah berguling-guling cukup lama, mereka membentur sebuah batu besar. Irene merasa kepalanya sangat pening. Longsoran salju masih terus meluncur ke bawah dan Irene terselamatkan karena telah menepi.
Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling, Alan tak ada di dekatnya.
"Kak Alan ... Kak Alan ...."
Irene terlihat panik. Ia menaiki batu besar yang ditabraknya untuk melihat dimana Alan berada. Dari tempatnya berdiri, hanya ada tumpukan salju yang menggunung, tak ada siapapun, termasuk Alan yang jatuh bersamanya.
"Kak Alan! Kak ...."
Irene terus berteriak memanggil nama Alan. Sama sekali tak ada sahutan. Ia terduduk lemas dan merasa khawatir jika Alan ikut terbawa longsoran salju.
"Are you okay?"
Sekelompok tim penyelamat menemukan keberadaan Irene. Mereka memberikan selimut untuk menghangatkan tubuh Irene.
"Pak, tolong selamatkan teman saya. Dia jatuh di sekitar sini," pinta Irene dengan bibir yang bergetar karena kedinginan.
"Iya, nanti tim kami akan melakukan pencarian. Anda harus beristirahat dulu di tempat yang aman. Mari ikut kami."
Irene dipandu oleh mereka menuju pusat perlindungan bagi pengunjung yang telah diselamatkan.
__ADS_1
Bangunan pondokan yang luas itu dibangun dari bahan material kayu. Di dalamnya terdapat perapian. Ada banyak orang yang berada di sana, beberapa tampak menangis mungkin karena ada keluarganya yang ikut menjadi korban longsor.
Irene terduduk sendirian di pojokan memikirkan keberadaan Alan. Seorang petugas memberikannya minuman dan makanan namun ia sama sekali tak berselera.
***
Hari telah berganti. Irene belum juga mendengar berita tentang Alan. Bahkan yang lebih membuatnya bersedih dan hampir putus harapan, Arvy dan Adila ikut dalam deretan korban yang tersapu longsor. Ia benar-benar sendirian di sana dengan kondisi yang tak berdaya.
Ponselnya berbunyi. Ada telepon masuk dari Ares. Dengan perasaan duka yang masih menyelimuti, ia mengangkat telepon itu.
"Halo, Res, kenapa?" tanyanya.
"Dimana Kak Alan, Ren? Aku sudah berkali-kali menghubunginya tapi tidak bisa tersambung. Kondisi perusahaan sedang kacau. Beberapa pemegang saham utama ingin penggantian presdir. Berikan teleponnya kepada Kak Alan, Ren!"
Irene terdiam. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. "Res, Kak Alan juga sedang sibuk di sini. Kamu coba tangani masalah perusahaan sendiri. Jika butuh bantuan, hubungi temanku saja, namanya Ron. Nanti aku berikan nomor kontaknya padamu," ucap Irene.
"Hah? Coba berikan pada Kak Alan. Ini masalah serius perusahaan, setidaknya aku harus bicara padanya." Ares tampak protes dari seberang telepon.
"Nanti akan aku sampaikan, Kak Alan juga tidak ada di sini. Sudah dulu, ya!"
Irene memutuskan sambungan telepon itu. Ia tak bisa mengatakan apa yang terjadi dengan kedua saudara Ares di sana.
Sejenak Irene menyandarkan punggungnya pada dinding seraya merenung san memikirkan apa yang bisa ia lakukan. Tiba-tiba ia teringat pada bibinya yang saat ini tengah berada di Swiss. Myria Teressia Miguel, artis terkenal yang selama ini tinggal bersama Alberto Miguel, ayah angkatnya.
Irene terisak. "Tante Myria ...."
"Heh! Sembarangan kamu memanggilku tante. Panggil aku kakak!"
"Tante ... Aku di Swiss di tempat main ski daerah XXX yang terkena longsor. Teman-temanku menghilang. Huhuhu ...."
"Ah, kamu ini bicara apa? Kenapa malah menangis?"
***
Myria dengan raut wajah yang panik mengunjungi daerah yang terkena longsor. Ia membawa serta 20 orang bodyguard saking cemasnya terhadap kondisi Irene. Ia masuk ke dalam tempat penampungan korban yang selamat mencari keberadaan Irene.
"Tante Myria!"
Myria mengarahkan pandangan pada asal suara orang yang memanggilnya. Ia keheranan melihat sosok wanita yang memanggilnya itu.
__ADS_1
Irene berjalan menghampiri bibinya. "Ini aku, Tante, Irene," ucapnya.
Myria mencubiti pipi Irene. Ia heran sepupunya sangat jauh berbeda dari yang ia kenal.
"Aku memakai riasan body painting, Tante," ucap Irene.
"Hah, kamu ini ada-ada saja!" Myria memeluk sepupunya. Sudah lama mereka tidak bertemu.
"Jadi, apa yang terjadi?" tanya Myria.
Irene menjelaskan kejadian yang menimpanya. Myria membahas bersama bodyguard yang datang bersamanya. Orang-orang yang Myria bawa setidaknya berpengalaman dalam melakukan evakuasi korban longsoran di daerah pegunungan.
Irene menunjukkan posisi terakhirnya bersama Alan. Ia juga memperlihatkan foto-foto Alan, Arvy, dan Adila agar mereka bisa langsung memberikan informasi saat menemukan mereka.
"Sudah, kamu tenang saja. Mereka akan berusaha menemukan teman-temanmu," kata Myria berusaha menenangkan sepupunya.
"Dia tadi menolongku, Tante. Sebelum longsoran itu terjadi. Padahal kami bersama, tapi dia hilang."
"Seharusnya kalian jangan bermain ski di wilayah ini. Memang setiap tahun selalu terjadi hal semacam ini. Tapi, aku yakin mereka pasti bisa ditemukan. Kamu tenangkan saja dirimu," pinta Myria.
"Oh, iya. Kenapa kamu harus mrnyamar seperti ini? Kamu sangat jelek, Irene ...," kritik Myria.
"Entahlah, Tante. Sepertinya aku bosan jadi orang cantik."
Myria geli sendiri mendengar jawaban Irene.
"Ayah memberi tahu kalau dia baru saja bertemu denganmu di tanah air. Katanya kamu sudah punya pacar, ya?" tanya Myria.
"Itu yang hilang bersamaku, dia calon suamiku," katanya.
"Woh, anak kecil ini sudah mau menikah rupanya? Tapi, dia memang tampan. Lalu kenapa kamu berpenampilan seperti ini? Apa dia tidak jijik padamu?" tanya Myria.
"Dia malah suka denganku yang seperti ini."
"Hahaha ... Jangan bercanda. Mana ada lelaki yang menyukai wanita jelek sepertimu."
"Aku serius, Tante. Makanya kalau bisa aku ingin jadi tetap jelek saja. Mungkin kalau dia tahu wajah asliku, dia akan berbalik membenciku. Aku tidak mau dicap sebagai pembohong."
"Hah ... Kelakuanmu ada-ada saja. Makanya tidak usah pakai menyamar-menyamar segala. Sekarang jadi kamu sendiri kan yang kerepotan?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu akan jadi begini, Tante. Kalau Tante sendiri kapan mau menikah? Tante kan sudah tua."
Myria sedikit kesal dengan pertanyaan keponakannya itu. "Aku ini kakakmu, bukan tantemu! Berhenti menyebutku begitu!" omelnya.