Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 36: Kemiripan


__ADS_3

Alan memusatkan perhatiannya pada sosok Sovia yang sedang tertawa dengan begitu bahagia dengan lelaki lain yang entah dia sendiri tidak mengenalnya. "Mungkin itu hanya rekan kerjanya," kilah Alan.


Irene tidak menyangka kalau Alan masih menyangkal apa yang saat ini mereka saksikan bersama. "Ah, ya ... Kak Alan memang sebodoh itu. Aku mengaku hantu saja percaya," lirih Irene dengan nada kesal.


"Kamu bilang apa?" Alan yang merasa Irene sedang membicarakannya langsung bertanya.


Irene nyengir kuda. "Tidak ... aku tidak bilang apa-apa. Mungkin hubungan mereka memang biasa saja seperti kita. Iya kan, Kak?" katanya.


"Namanya juga orang yang berkecimpung di dunia hiburan. Dekat dengan banyak orang hal yang wajar."


"Jadi, Kakak mau menyapa Sofia nggak?" tanya Irene.


Alan mengerutkan dahi. "Kenapa aku harus menyapanya?"


"Ah, benar ... untuk apa juga Kak Alan menyapa dia. Lebih baik Kak Alan temani aku masuk ke area salju, ya!" Irene menarik tangan Alan agar mengikutinya.


Mata Alan masih terfokus pada Sovia yang belum menyadari keberadaannya. "Irene! Aku mau pulang, bukan untuk menemanimu main." protes Alan.


"Sekali-kali ... Kak Alan belum pernah mengajakku main." Irene tampak bersemangat menuju trmpat yang sudah ditargetnya.


"Kenapa tidak minta ditemani Alex, bukankah seharusnya minggu ini gilirannya menemanimu?" Alan agak malu dilihat orang-orang.


"Mumpung sudah di sini, aku mau main sekarang. Kalau menunggu Kak Alex mood-ku bisa rusak."


"Oh, Ya Tuhan ... apa tidak ada tempat lain yang ingin kamu datangi? Sungguh kekanak-kanakkan," gumam Alan.


Mereka sampai di area permainan salju buatan yang terhubung dengan kawasan swalayan tempat tadi mereka berada. Tempat permainannya dibuat semirip mungkin dengan pegunungan bersalju yang terdapat di luar negeri. Kebanyakan yang ada di dalam sana anak-anak dengan orang tua mereka dan pasangan muda-mudi yang sedang pacaran. Ia merasa terlalu tua untuk main di tempat seperti itu.


Sebelum masuk, mereka perlu membeli tiket dan menyewa pakaian tebal agar tidak kedinginan di dalam sana.


"Memangnya kamu bisa main ski?" Alan agak meragukan Irene saat wanita itu meminta untuk disewakan peralatan ski juga.

__ADS_1


"Hanya ada satu hal untuk membuktikannya, kan? Kak Alan harus melihat sendiri nanti." Irene tersenyum. Ia tampak begitu antusias memasang sepatu ski di kakinya. Terakhir kali ia main ski saat masih kuliah dulu.


Alan tidak bisa berkata-kata lagi kalau Irene sudah mengambil keputusan. Terpaksa ia juga memakai sepatunski mengukuti kemauan Irene. "Jangan sampai merepotkanku nanti."


"Siap!" Irene berdiri di atas sepatu ski miliknya. Ia dan Alan berjalan menuju chair lift, seperti gondola, yang akan membawa mereka sampai ke titik tertinggi dari gunung salju buatan.


Meskipun salju di sana merupakan salju buatan, namun teksturnya hampir mirip dengan salju aslim Ada alat yang digunakan untuk mengubah air menjadi butiran salju yang kasar sehingga di negara tropis itu masyarakat bisa menikmati wahana permainan salju.


Dari atas chair lift Irene bisa menyaksikan pemandangan yang diseting semirip mungkin dengan kondisi tempat main ski di luar negeri. Ada rumah-rumah kayu yang berjajar serta pengunjung lain yang sedang bermain di bawah sana. Butiran-butiran salju lembut juga turun membangkitkan memori saat-saat indah ia memegang salju sungguhan di luar negeri.


"Ah, ini terlalu memalukan." Alan menyembunyikan wajahnya saat berada di atas chair lift. Hal konyol untuk menuruti kemauan Irene.


"Jangan terlalu kepedean, tidak ada yang memperhatikan Kak Alan," celetuk Irene dengan pandangan meremehkan.


Alan langsung bersikap biasa. Bisa jadi apa yang Irene katakan memang benar. Mungkin ia terlalu sombong merasa orang-orang memperhatikannya.


"Mereka masuk ke sini untuk bersenang-senang, tidak ada waktu untuk mengomentari penampilan orang."


"Kak ...."


Sapaan Irene membuyarkan lamunan Alan. Lelaki itu mengedip-ngedipkan mata lalu memandang kembali ke arah Irene. Mereka sangat berbeda. Mungkin penglihatannya yang sedang salah sampai ia bisa menyamakan antara Irene dengan Miss A. Bisa jadi Miss A memang sedang usil padanya, merasuki Irene yang ada di sampingnya.


"Mikirin Sovia?" sindir Irene.


"Tidak," kilah Alan. Ia membuang muka. Justru yang ada di pikirannya saat ini adalah hantu cantik yang biasa ia temui di rumah. Sungguh, ia merasa sudah gila memiliki ketertarikan dengan makhluk yang berbeda dunia. Bahkan ia tak peduli sama sekali dengan Sovia.


Chair lift yang membawa mereka telah sampai di puncak teratas. Irene tersenyum lebar menatap ke bawah. Tinggi puncak yang mereka tempati 15 meter cukup untuk berseluncur dengan sepatu ski.


"Sudah siap, Kak?" tanya Irene.


"Kamu yakin bisa? Takutnya nanti jatuh, patah tulang, aku yang disalahkan." Alan bersama Irene saat ini, tentu saja ia yang harus bertanggung jawab.

__ADS_1


"Kita balapan. Siapa yang sampai bawah duluan, boleh minta traktiran sepuasnya," tantang Irene.


"Memangnya kamu bawa uang?"


Irene melirik ke arah lain. Ia memang tak pernah punya banyak uang selama di sana. "Em, tidak sih ... tapi nanti aku hutang Kak Alan dulu kalau kalah."


"Ck!" Alan ingin terkekeh. Wanita itu terlalu percaya diri padahal tidak punya uang.


"Aku yakin akan menang dan tidak perlu uang. Kak Alan yang bakal keluar uang lagi." Irene berkata dengan sungguh-sungguh.


"Oke, terserah kamu saja. Asalkan tidak sampai cedera saja aku sudah bersyukur."


"Siap! Kita mulai saja, ya ...." Irene menyiapkan tongkatnya. Alan berdiri di samping Irene juga bersiap-siap.


"Satu ... dua ... tiga!"


Irene langsung menggerakkan kakinya meluruncur ke bawah dengan gerakan yang cepat. Sepanjang jalur yang ditempuh ia terus tertawa kegirangan saking senangnya. Alan kaget melihat kelincahan gerakan Irene. Akibat meremehkan wanita itu, ia jadi tertinggal di belakang.


"Yuhu ...."


Pada akhirnya Irene berhasil mendarat di bawah dengan mulus. Ia kembali tersenyum lebar. Sementara, Alan masih tidak percaya sudah dikalahkan oleh Irene.


"Sudah aku bilang kan, kalau aku bakalan menang. Kak Alan harus bayar makanan kita nanti." Irene berkata dengan ekspresi mengejek Alan.


"Hah! Aku tidak menyangka kamu bisa main ski. Aku kira kamu biasa main lumpur di sawah." Alan agak kesal juga karena kalah.


"Sawah? Mana ada sawah di Jakarta. Aku sudah biasa main seperti ini." Irene sampai keceplosan mengatakan hal itu.


"Benarkah? Wajahmu tidak meyakinkan kalau kamu sudah sering main ski. Apalagi olahraga seperti ini termasuk olahraga mahal. Darimana kamu dapat uang?"


Irene sudah tahu kalau ucapannya akan membuat curiga. "Kenapa harus heran, aku orang yang banyak akal. Seperti sekarang juga bisa main sesuka hati tapi kakak yang bayar," kilah Irene.

__ADS_1


__ADS_2