
"Selamat datang, Nona Amina."
Alan menyambut kehadiran perwakilan dari Iran di sebuah ruangan restoran yang telah dipesannya. Ia mengenakan pakaian rapi, begitu pula dengan Amina dan Alenta. Kedua wanita itu memakai gaun yang elegan demi menghadiri acara makan malam itu.
Amina merasa tersanjung dengan sambutan yang Alan berikan. Apalagi ia diberikan buket bunga oleh Alan sebagai ucapan selamat datang. Perlakuan yang Alan berikan memberikan kesan spesial dalam kunjungannya ke negara itu.
"Alenta, bisa minta tolong ambilkan anggur yang telah aku persiapkan?" pinta Alan.
Alenta segera bangkit dari tempat duduknya menuju suatu ruangan tempat Alan menyimpan anggur khusus yang memang ditujukan untuk penyambutan Amina.
Seharusnya Alenta di sana sebagai penerjemah, namun karena tidak ingin melibatkan banyak pelayan, ia diminta membantu melayani Alan dan Amina.
Secara hati-hati Alenta membawa botol anggur super mahal milik Alan. Ia membawanya dengan mempertahankan gaya anggunnya. Sesampainya di meja Alan dan Amina, ia menuangkan anggur dengan anggun. Alan sampai terpaku melihat gaya Alenta.
Setelah mengikuti kursus online, kemajuan berbahasa Persia Alan semakin baik. Lelaki itu mulai bisa berkomunikasi sendiri dengan Aminta. Alenta merasa posisinya sebentar lagi tidak akan dibutuhkan lagi. Ia bahkan merasa diabaikan mendengar pembicaraan keduanya yang diselingi banya senda gurau.
"Alenta, kamu duduk di sini!" pinta Alan. Ia hampir lupa untuk mempersilakan Alenta duduk kembali saking asyik berbicara dengan Amina.
Alenta hanya tersenyum. "Tidak usah, Pak. Saya berdiri saja," tolaknya.
"Kamu bicara apa? Pertemuan kita akan berlangsung lama. Duduklah!" paksa Alan.
Akhirnya Alenta mau kembali duduk.
"Jika perusahaan Anda membutuhkan minyak goreng berbahan sawit yang berkualitas, kami bisa memfasilitasi. Atau jika Anda menginginkan bahan mentah atau bahan setengah jadi, kami juga bisa mengusahakan. Ladang sawit yang kami miliki cukup luas, kami juga bekerja sama dengan beberapa pengusaha perkebunan sawit. Anda tidak perlu khawatir akan kekurangan pasokan. Kami jamin stok yang dibutuhkan perusahaan Anda akan terpenuhi." Alan kembali menjelaskan kerjasamanya dalam Bahasa Persia. Amina begitu terkesima mendengar gaya bicara Alan yang penuh wibawa. Meskipun belum terlalu lancar, Alan telah berusaha dengan baik untuk menuturkan penjelasannya dalam bahasa yang mudah Amina pahami.
"Jadi, perusahaan kita akan melakukan barter. Kami akan menyediakan pasokan minyak bumi sesuai permintaan perusahaan kalian. Kalau kualitas sawit yang kalian miliki terbukti baik, tentu saja kami akan mengambilnya sebagai penukaran untuk minyak bumi."
__ADS_1
"Kualitas sawit kami siap diuji kapan saja. Perusahaan kami terkenal sebagai salah satu penghasil sawit kualitas terbaik. Anda tidak akan menyesal."
Amina menyunggingkan senyum. "Tentu saja. Dari orang yang berbicara, sudah bisa dinilai seperti apa perusahaanmu bekerja, pasti bisa dipercaya," pujinya. "Sungguh beruntung perusahaan ini dipimpin oleh pengusaha cakap seperti Tuan Alan. Selain cerdas juga tampan. Saya yakin banyak wanita yang tertarik dengan Anda."
"Anda terlalu berlebihan. Saya hanya pimpinan perusahaan biasa."
"Anda terlalu merendah, Tuan Alan. Terus terang saya sangat terkesima dengan Anda. Bahkan kalau boleh, ingin lebih mengenal dekat tentang Anda secara personal."
Alan terlihat sedikit tidak nyaman ketika pembahasan bisnis mereka berbelok ke ranah personal. Meskipun mungkin tujuan Amina hanya ingin bercanda, namun tetap membuatnya kurang nyaman.
Alenta merasa kepanasan. Ia rasa keberadaannya hanya seperti obat nyamuk di sana. Alan hanya menanyakan sedikit-sedikit kalimat yang tidak dipahaminya. Wanita dari Iran itu juga terkesan sangat berani mengungkapkan isi hatinya kepada Alan. Ia ingin pertemuan hari ini segera berakhir.
"Alenta, tolong panggilkan pelayan untuk menghidangkan makanannya!" pinta Alan.
Alenta segera melaksanakan tugas yang Alan berikan. Ia meminta kepada para pelayan untuk masuk dan menghidangkan makanan yang telah diberikan. Usai mengeluarkan semua makanan, mereka kembali keluar. Alan menginginkan ruangan itu hanya ada mereka bertiga saja.
"Hm, ini rasanya enak sekali!" seru Amina saat ia mencicipi salah satu makanan berbumbu lengkap dan berwarna kecoklatan.
"Rendang? Ini enak sekali dagingnya empuk dan bumbunya terasa." Baru pertama kali Amina merasakan makanan khas di sana. Meskipun rasanya tidak familiar, ia tetap menikmati makanan lezat itu.
"Aku ingin sekali merasakan sensasi berendam air panas di alam. Aku dengar negara ini memiliki banyak tempat pemandian air panas alami," ucap Amina.
Alan melirik ke arah Alenta. Ia memberi isyarat kepada Alenta agar menjawab kemauan Amina. Ia sendiri tidak tahu tentang tempat-tempat menarik di kota mereka.
"Kalau Nona Amina memang ingin berendam air panas, saya bisa membawa Anda ke suatu tempat yang sangat indah."
"Benarkah?" Amina terlihat antusias mendengarnya.
__ADS_1
Alenta mengangguk. "Tempatnya juga tidak terlalu jauh dari sini. Anda bisa menikmati liburan tanpa takut kelelahan akibat kemacetan dan jarak yang jauh."
"Oh, itu yang aku suka, Alenta. Gajimu harus dinaikkan karena telah melayaniku dengan sangat baik sejak kemarin," puji Amina.
Alenta hanya tersenyum kaku. Ada satu hal yang masih belum ia mengerti. Saat mengurusi check in, entah mengapa Amina meminta dua kamar untuknya yang letaknya bersebelahan. Namun, karena Amina merupakan kolega penting Alan, ia tidak berani berkomentar sedikitpun.
***
Keesokan harinya, Alenta dan Amina sampai lebih dulu di tempat pemandian air panas karena mereka memang tinggal satu hotel. Alan masih dalam perjalanan menyusul mereka. Sudah hampir satu jam menunggu, Alan belum juga sampai. Mereka sampai jenuh.
"Alenta ...," sapa Amina.
"Iya, Nona Amina?" jawab Alenta.
"Boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Amina.
Alenta mengerutka dahi. "Apa yang perlu Anda pertanyakan? Saya akan berusaha menjawabnya," ucap Alenta.
Amina merasa senang fengan respon baik yang Alenta tunjukkan. Penerjemah yang Alan bawa sangat perhatian dan santun kepadanya. "Bagaimana penilaianmu tentang Alan?" tanyanya.
Alenta melebarkan mata dengan pertanyaan tersebut. "Pak Alan orang yang baik, Nona. Dia seorang atasan yang disiplin, pekerja keras, dan bertanggung jawab," jawab Alenta sekenanya.
"Kenapa kamu tidak memberikan penilaian tentang penampilan atau parasnya?" tanya Amina.
"Ah ... Em, apakah saya juga perlu mengatakan kalau Pak Alan sangat tampan dan mempesona? Bukankah tanta saya bilang wajahnya sudah menjelaskan semuanya?"
Amina tertawa dengan perkataan Alenta. Apa yang Alemta katakan ada benarnya. Namun, kebanyakan orang pasti akan membahas fisik saat menilai orang lain.
__ADS_1
"Apa kalian sudah lama menunggu?" sapa Alan dari jarak lima meter di depan mereka. Kedatangan Alan sontak membuat percakapan Amina dan Alenta terhenti.
Kali ini Alan datang dengan dandanan yang kasual memakai kaos polos dan celana pendek seatas lulut. Melihat penampilan lelaki yang mempesona tersebut bagaimana tidak membuat kaum hawa terlena akan pesonanya. Setelah putus dengan Sovia, kharisma Alan semakin terlancar dan seakan semakin sulit untuk digapai.