
Dor!
Tembakan tanda dimulainya balapan telah diluncurkan. Bryan memacu kudanya di bagian paling depan disusul oleh Alan dan Alberto di belakangnya. Sementara, Irene berada di paling belakang masih berusaha untuk mengejar. Rute yang akan mereka lewati berupa perbukitan dan sungai kecil yang ada di sekitar wilayah itu.
Irene merasa ada masalah dengan kuda tunggangannya. Kuda yang ia naiki sulit diajak berlari kencang seperti kuda-kuda lainnya. Gerakan kuda tersebut juga tidak seimbang.
"Kenapa ini? Apa kudaku sedang sakit?" gumam Irene sembari terus memegangi tali kekang kudanya.
Semakin lama Irene semakin tertinggal di belakang. Tiga kuda lainnya telah berlari kencang mendahului.
Menapaki jalanan yang menanjak, kekuatan kudanya terasa semakin melemah. Irene memutuskan untuk mencari tempat istirahat yang nyaman. Ia memandu kudanya agar naim sampai tempat yang rata dan hendak turun di sana.
"Ah! Aduh!"
Saat ia akan turun, kudanya tiba-tiba berlari kencang kehilangan kendali. Ia berusaha mengendalikan kudanya, namun kuda itu tetap berlari menerjang rerumputan dan ranting-ranting di jalanan yang melenceng dari rute.
"Kuda ... Tenanglah!" Irene kewalahan mengatasi kudanya. Kuda itu semakin liar berlari membawa Irene di atasnya.
***
Alan menoleh ke belakang mencari keberadaan Irene. Kuda milik Bryan dan Alberto sudah jauh di depannya. Ia lihat di belakang tak ada tanda-tanda keberadaan Irene.
"Kemana dia? Apa terjadi sesuatu? Seharusnya tak selama ini untuk menyusul," guman Alan. Ia mulai mencemaskan keberadaan Irene.
Alan memutuskan untuk berbalik arah. Ia akan menghampiri Irene di belakang dengan kudanya.
Sebelum ia sempat memacu kudanya, entah mengapa kuda yang ia naiki tiba-tiba menjadi liar. Kuda itu berlari tanpa bisa Alan kendalikan.
"Kuda ini kenapa?" tanyanya.
Alan merasa tidak bisa menghentikan laju kudanya yang terus berlari tanpa arah. Ketika ia melihat tumpukan jerami di depan, ia memilih untuk menjatuhkan diri di atasnya.
Alan selamat. Kuda yang tadi ia naiki sudah berlari entah kemana. "Hampir saja aku mati," gumamnya. Napas Alan masih tersengal-sengal. Ia tidak mengira kuda yang dinaikinya akan membuat repot.
Sementara itu, dari arah berlawanan, tampak seekor kuda berlari dengan cepat. Alan terkejut karena Irene berada di atas kuda tersebut.
"Minggir ... Minggir ...." teriak Irene yang mengetahui Alan ada di depan dan kuda gila yang ia naiki tak mau diarahkan. Kuda itu terus berlari lurus ke arah Alan.
"Dasar kuda s1alan!" maki Irene. Ia terpaksa menendang kuat perut kuda itu. Akibatnya, ia dilemparkan dari atas kuda.
__ADS_1
"Ah!"
Hampir saja Irene merasa mau mati. Untunglah Alan menangkapnya dan berguling melindungi tubuh Irene. Tubuh keduanya sangat berantakan dipenuhi jerami.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alan cemas.
Irene masih berusaha mengatur napas. Jantungnya seakan mau copot karena kuda itu. "Iya, aku baik-baik saja. Cuma kakinya sepertinya terkilir," katanya.
"Coba duduk dulu, biar aku pijat kakimu yang sakit," pinta Alan.
Ia membantu Irene agar duduk dan mensejajarkan kakinya. Perlahan Alan memberikan pijatan pada kaki Irene yang terasa sakit.
"Adududuh ... Aduh! Aduh!"
Irene terus menjerit saat kakinya dipegang.
"Kamu tahan saja sedikit. Ini memang agak sakit. Tapi, nanti kamu akan merasa lebih baik."
"Ah!" jerit Irene
Alan dengan tega menarik kencang kaki Irene. Tentu saja wanita itu sangat merasa kesakitan.
"Tapi, sekarang lebih baik, kan? Coba gerakkan kakimu," pinta Alan.
Irene mulai menggerakkan kakinya secara perlahan. Memang sudah tidak terlalu sakit seperti sebelumnya.
Alan menepuk-nepuk kepala Irene. "Syukurlah kamu baik-baik saja," katanya.
"Kakak kenapa ada di sini?" tanya Irene. Ia kira Alan sudah berada jauh di depan bersama ayah angkatnya dan Bryan.
"Aku mencarimu. Kamu lama sekali tidak kunjung menyusul," kata Alan.
"Kudaku aneh. Sejak awal balapan dia kelihatan malas bergerak. Larinya sangat lambat. Lalu, di area tanjakan pertama di sana, kudanya tiba-tiba lari kencang seperti kuda gila. Dia membawaku berlari tanpa arah sampai bajuku robek kena ranting." Irene menunjukkan bagian bajunya yang robek di bagian lengan.
"Tadi kalau tidak aku tendang perutnya, kuda itu juga pasti sudah menginjak Kakak," lanjut Irene.
"Kudaku juga sama seperti itu. Dia lepas kendali dan aku memilih untuk menjatuhkan diri," kata Alan.
Keduanya merasa ada hal aneh yang terjadi. Tidak mungkin kuda yang kelihatan sehat bisa bertingkah aneh saat dinaiki.
__ADS_1
"Irene, kamu kenapa?"
Bryan baru saja memacu kudanya menghampiri Irene. Ia terkejut melihat kondisi Irene yang cukup berantakan.
"Ah. Aku tidak tahu, tadi kudaku jadi gila," kata Irene.
Bryan terdiam. Ia tidak menyangka jika Zenta juga akan menyentuh kuda milik Irene. Ia melirik ke arah Alan. Seharusnya lelaki itu yang luka-luka sekarang, tapi malah baik-baik saja.
Bryan mengambil ponselnya. Ia menghubungi seorang dokter untuk segera datang ke sana.
"Ayo, Irene, biar aku bantu." Bryan mengulurkan tangannya menawarkan bantuan.
"Biar aku saja yang membawanya." Alan tanpa aba-aba langsung mengangkat tubuh Irene dan menggendongnya. Irene sampai melebarkan mata karena terkejut.
Alan membawa Irene kembali ke rumah Alberto. Sekitar setengah jam kemudian, dokter akhirnya tiba. Irene segera diperiksa kondisinya karena takut ada patah tulang.
"Nona Irene baik-baik saja. Ini hanya keseleo. Beberapa hari juga akan sembuh dengan sendirinya," kata dokter setelah selesai melakukan pemeriksaan.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Alberto yang tampak khawatir.
"Sudahlah Ayah Angkat, aku juga tidak apa-apa. Mungkin kudanya memang sedang dalam kondisi yang kurang baik." Irene berusaha menenangkan perasaan Alberto.
Bryan menyingkir dari sana. Ia bergegas mencari keberadaan Zenta yang telah melakukan hal itu.
Plak!
Bryan memberi tamparan keras kepada Zenta. Ia sangat marah melihat Irene sampai celaka. "Kenapa kamu juga mengganggu kuda milik Irene?"
"Aku tidak melakukannya. Aku hanya memberi rumput yang sudah diberi obat pada kuda yang lelaki itu naiki."
Bryan menghela napas. Ia menahan dirinya untuk tidak menghajar lelaki yang ada di sebelahnya.
"Aku akan mengusahakan cara lain lagi untukmu," kata Zenta.
"Tidak usah! Aku bisa melakukannya sendiri." Bryan menolak bantuan Zenta. Ia merasa lebih baik menangani sendiri dari pada menyuruh orang lain yang tidak becus melakukannya.
Bryan hendak kembali menghampiri Irene. Ia melihat wanita itu kembali digendong oleh Alan menuju ke arah pintu keluar. Melihat kedekatan mereka, ia merasa pesimis bisa menenangkan hati Irene.
"Aku belum menyerah," ucapnya lirih.
__ADS_1
Terbersit dalam pikiran Bryan untuk melakukan sesuatu yang licik demi meluluhkan Irene. Dengan mendapatkan wanita itu, Alberto akan lebih menyayanginya.