Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 286


__ADS_3

Arvy duduk di dalam mobilnya, wajahnya masih penuh dengan kekesalan dan kekecewaan. Ia menyalakan mesin dengan kasar dan melaju dengan kecepatan tinggi, memutuskan untuk pergi dari rumah Adila sejenak untuk menghilangkan rasa frustasinya.


"Kamu mempertanyakan ekspektasiku? Mungkin memang kita tidak sejalan dalam hal ini!"


"Kenapa? Kamu ingin hitung-hitungan denganku? Memangnya kapan aku menyuruhmu untuk melakukan apa yang aku mau? Bukankah kamu sendiri yang menginginkannya?"


"Itu kan menurutmu. Seleramu rendah! Itu pancake paling tidak enak yang pernah aku makan!"


"Bagus! Jangan pernah temui aku lagi!"


Perkataan buruk Adila berputar-putar di kepalanya. Biasanya ia tidak terlalu memikirkan ucapan Adila yang terkadang memang keterlaluan. Tapi, kali ini ia rasa Adila sudah melampaui batas.


"Kenapa aku jadi seperti ini?" gerutunya pada diri sendiri.


Tidak fokus dan masih terhanyut dalam emosi yang melanda, Arvy melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Pikirannya masih dipenuhi dengan kata-kata hinaan dan permintaan putus yang diucapkan oleh Adila. Hatinya terasa tercabik-cabik oleh pertengkaran mereka yang memanas.


"Ah! Awas!" teriak Arvy.


Di tengah perjalanan, saat mobil Arvy hampir menabrak seseorang, ia dengan cepat menginjak rem dengan keras. Beruntung mobilnya masih bisa dikendalikan meskipun harus terperosok sedikit keluar jalan. Arvy mengatur napasnya.


"Apa aku menabrak orang?"


Arvy bergegas turun dari mobil menghampiri orang yang hampir tertabrak olehnya.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanyanya.


Ia melihat dengan kaget bahwa orang yang hampir ditabraknya adalah Jeha, seorang artis baru yang belum bergabung dengan manajemen yang sama dengannya. Keduanya saling menatap dengan campuran rasa kaget dan lega.


"Wah, maaf sekali! Aku benar-benar tidak fokus tadi. Kamu tidak apa-apa?" tanya Arvy khawatir.


Jeha tersenyum sembari meringis menahan sakit di bagian lengannya. "Tidak apa-apa. Aku juga harus lebih berhati-hati saat berjalan di jalan raya," katanya.


Jeha menyadari bahwa dirinya juga turut bersalah karena menyeberang jalan sambil sibuk pada ponselnya.

__ADS_1


Arvy menghela nafas. "Syukurlah, Jeha. Aku hampir menabrakmu."


Jeha mengangguk. "Tidak-apa, Kak. Semuanya baik-baik saja," katanya.


"Lenganmu terluka, biar aku obati," kata Arvy yabg menyadari luka itu.


"Ini hanya luka kecil, Kak. Aku bisa mengatasinya sendiri," tolak Jeha.


"Aku membawa obat-obatan. Ikut denganku!" pinta Arvy.


Ia membantu Jeha agar bangkit dari tempatnya. Ia membawa Jeha berjalan mendekat ke arah mobilnya.


"Ah. Kamu duduk di sana saja dulu, ya!" pinta Arvy menunjuk pada sebuah bangku yang ada di bawah pohon dekat pantai.


Jeha mengangguk dan menurut. Sementara, Arvy berlari menuju mobil untuk mengambil kotak obat. Sejak Adila sakit, ia selalu mempersiapkan kotak obat untuk berjaga-jaga.


"Kemarikan lenganmu!" pinta Arvy sembari mengeluarkan peralatan dari dalam kitak obatnya.


Ia mencuci bagian lengan Jeha yang terluka dengan air mineral. Setelah bagian lukanya bersih. Ia oleskan obat dan membalutnya dengan perban.


Arvy menggeleng. Usai menyelesaikan membalut luka Jeha, ia duduk di samping wanita itu sembari memandangi lautan.


"Kamu sendiri mau kemana?" tanya Arvy.


"Aku mau pulang. Baru saja tadi selesai syuting di dekat sini," jawab Jeha.


"Ponselmu bagaimana?" tanya Arvy lagi.


"Ah, itu ...." Jeha berusaha menyembunyikan ponselnya.


Arvy merebut paksa ponsel itu dari tangan Jeha. Ternyata ponsel itu retak. "Nanti aku ganti," katanya.


"Tidak usah, Kak! Ini masih nyala, kok! Aku bisa memperbaikinya nanti!" tolak Jeha seraya merebut kembali ponselnya.

__ADS_1


"Kalau ponsel sudah seperti itu, sebaiknya tidak usah diperbaiki. Nanti aku belikan yang baru. Takutnya diapa-apakan oleh tukang reparasi, apalagi kamu termasuk artis baru," ujar Arvy.


Jeha tersenyum kikuk. "Kakak tidak perlu menggantinya, aku bisa membeli sendiri," katanya dengan nada tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, aku yang sudah menyerempetmu tadi dan harus bertanggung jawab."


Jeha mengangguk saja. Ia merasa canggung berada di sana bersama seniornya di dunia artis. Arvy yang biasanya galak sepertinya berbeda dan lebih membuatnya takut.


"Oh, iya. Bagaimana bunganya waktu itu? Apa Kak Adila suka?" tanyanya.


Arvy tertawa kecil. "Terima masih bunganya waktu itu. Seharusnya aku tidak bersusah payah menginginkannya," katanya dengan sedikit rasa menyesal.


Jeha tidak paham dengan perkataan Arvy. "Kak Adila tidak menyukainya?"


Arvy sambil menghela nafas panjang. "Aku hanya lelah, Jeha. Pertengkaran dengan Adila, semakin memburuk. Aku merasa tidak dihargai dan terhina."


"Apa itu gara-gara bunga itu?" telisik Jeha.


"Bukan ... Ada banyak hal yang selalu menjadi masalah. Mungkin hanya alasan saja. Mungkin memang dia sudah bosan denganku," kata Arvy.


Jeha bersikap empati. :Kadang-kadang hubungan bisa menjadi sulit, terutama saat kita merasa tidak dihargai."


Arvy memandang ke laut. "Ia bahkan memintaku untuk putus. Hanya gara-gara pancake. Dia memarahiku karena tidak bisa memasak pancake."


"Apa?" Jeha hanya ternganga mendengar cerita Arvy yang tidak membuatnya paham.


"Intinya dia bilang aku tidak berguna. Melakukan apapun tidak pernah benar." Arvy merasa sangat kecewa sampai begitu terbuka bisa bercerita kepada Jeha yang tidak terlalu dikenalnya.


"Bukankah itu tidak benar? Kak Arvy punya banyak bakat, bisa akting dan bernyanyi dengan baik. Bahkan aku sampai masuk dunia hiburan karena ingin sepertimu," kata Jeha.


Mendengar idolanya direndahkan, sebagai fans Jeha merasa tidak tela. Menurutnya, Arvy sangat mengagumkan terlepas sikapnya yang menyebalkan.


"Hahaha ... Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang terinspirasi dariku," kata Arvy seraya tertawa. "Kebanyakan orang bilang aku tidak pantas jadi artis karena menyebalkan," katanya.

__ADS_1


"Kak Arvy memang sangat berbakat. Banyak sekali penggemar Kakak di luar sana. Jangan sampai satu kata-kata buruk mengalahkan banyaknya dukungan di luar sana untukmu."


Arvy tersenyum. "Terima kasih, Jeha. Aku benar-benar butuh pendengar dan kata-kata semangat seperti itu."


__ADS_2