
Irene menunggu di depan halaman kampus kedatangan Arvy. Tak berapa lama, mobil Audy milik Arvy berhenti tepat di depan Irene. Kaca mobil diturunkan, tampak Arvy yang menyetir. Di sebelahnya ada Marco, manajer Arvy.
Irene mengernyitkan dahi saat matanya menangkap sosok seseorang di bangku belakang. "Kenapa Kak Alan ada di mobilmu juga?" tanyanya heran.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin dia sedang stres tiba-tiba ikut masuk ke mobil tadi. Kamu juga masuk, Irene!" pinta Arvy.
Irene menurut. Ia membuka pintu belakang dan duduk di samping Alan. Sedikit tidak nyaman ia berada di sana. Sejak kejadian di Perancis, mereka belum saling berbicara. Mau membahas juga tidak memungkinkan karena Irene waktu itu menggunakan identitas Alenta.
"Kak Arvy kenapa menyetir sendiri? Biasanya kan Kak Marco," tanya Irene heran.
"Aku sedang menghukumnya, Irene," sahut Marco tanpa melepaskan pandangannya dari layar tablet di tangan.
"Karena suatu hal aku disuruh jadi sopirnya selama satu bulan. Bukankah dia manajer yang sangat keterlaluan?" gerutu Arvy sembari mulai melajukan mobilnya.
"Masih untung hanya aku jadikan sopir. Kalau skandal percintaanmu sampai tersebar, kamu bisa aku cincang!" omel Marco.
"Kak Arvy ketahuan pacaran?" tanya Irene ingin tahu.
"Bukan lagi ... Dia ketahuan sedang bertengkar dengan pacarnya dan juga putus hubungan. Untung saja aku cepat datang dan memberi alasan mereka sedang latihan akting."
Marco sudah sangat pusing mengurusi artisnya itu. Arvy yang karirnya semakin menanjak dan baru saja merilis album baru, tiba-tiba ribut dengan pacarnya yang sama-sama seorang artis.
"Cie ... Ada yang jomlo ... Selamat, ya!" ledek Irene.
"Cih!" kesal Arvy dengan sindiran wanita jelek yang duduk di belakangnya.
"Maksudku, selamat atas perilisan album barunya ya, Kak! Aku sudah bantu streaming 5x tadi. Sudah aku ajak teman-teman yang lain juga untuk nonton single baru Kakak."
"Kamu ajak mereka nonton konserku juga nggak?" tanya Arvy sembari menyetir.
"Nggak! Tiketnya kan mahal. Kalau aku bilang ajak, mereka mintanya gratisan."
"Kak, berikan dua tiket untuk Irene!" perintah Arvy kepada manajernya.
__ADS_1
Marco langsung mengeluarkan dua lembar tiket dan menyerahkannya pada Irene.
"Yah, kok cuma dua tiket. Pelit banget!" gumam Irene sembari memandangi tiket konser itu. Ia kagum dengan Arvy yang langsung berani membuat konser untuk debut awalnya sebagai penyanyi.
"Itu untuk dua teman kamu, Irene! Kalau kamu bisa ikut nonton konser tanpa tiket karena sudah aku masukkan ke daftar khusus keluarga."
Irene tersenyum mendengar ucapan Arvy. Artinya, ia juga diakui menjadi bagian dari keluarga.
"Wah, Selena meretweet postinganmu, Arvy," ucap Marco.
"Paling juga dia mau pansos!" cibir Arvy.
Irene terlihat kurang suka mendengar nama Selena disebut. Wanita itu pernah menjelek-jelekkan Arvy di belakang dan ia sempat ribut dengannya.
"Kamu jangan ketus begitu. Bagaimanapun juga, Selena punya banyak penggemar. Meskipun sikapnya kurang menyenangkan, tetap jaga ucapan dan perilakumu saat bertemu dengannya." Marco berusaha mengingatkan Arvy.
Irene ingin sekali membantah ucapan Marco. Selebriti seperti Selena memang seharusnya dicubit sesekali supaya sadar. Namun, jika salah langkah Selena bisa playing fictim dan membuat rumor yang tidak-tidak.
"Sore, Kakek!" Irene langsung menyalami dan memeluk Kakek Narendra saat mereka sampai di rumah.
Alan dan Arvy juga sama seperti Irene memberikan salam kepada kakek mereka. Sementara, Marco manajer Arvy langsung pulang setelah mereka sampai. Mobil Arvy dibawa oleh Marco.
Irene dan Arvy langsung naik ke atas menggunakan lift. Sementara, Alan menemani kakek di ruang tengah. Lelaki tua itu tampak menantikan kehadiran Alan untuk mengetahui banyak hal.
"Tuan Damian sangat sehat, Kakek. Beliau sangat ingin bertemu secara langsung dengan Kakek," kata Alan.
Sejak kemarin kakek sangat ingin mendengar cerita Alan tentang Perancis, namun Alan terlihat sibuk dan tidak ada waktu berdua dengan kakeknya.
"Apa kamu senang di sana kemarin?" tanya Kakek.
Alan tertegun sejenak. Pengalamannya di Perancis kemarin sama sekali tidak menyenangkan. Ia bahkan dibuat semakin bingung dengan sosok wanita bernama Alenta. Wanita itu jika diperhatikan baik-baik benar-benar mirip dengan Irene. Ia sengaja ikut Arvy menjemput Irene hanya untuk memastikan saja kemiripan di antara mereka.
Alan tidak bisa lagi memungkiri kemiripan di antara Alenta dan Irene. Bahkan, gestur tubuh untuk hal-hal kecil, mereka memiliki banyak kesamaan.
__ADS_1
"Alan ...." tegur kakek.
"Ah, iya, Kek. Aku menikmati selama di sana," kilah Alan.
"Jadi, kapan kamu mau menikah? Kakek sudah tidak sabar melihatmu menikah," kata Kakek.
Alan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Otaknya akan langsung pusing setiap kali ditanya mengenai hal tersebut.
"Aku pasti akan menikah, Kek. Tapi, waktunya tidak tahu kapan!" jawab Alan.
"Kakek sudah semakin tua. Sebagai anak tertua, seharusnya kamu sudah mulai memikirkan masa depan untuk menjaga kelangsungan hidup keluarga kita."
Alan menghela napas lalu bangkit dari duduknya. Jika ia tetap berada di sana, sang kakek tidak akan berhenti bicara. "Aku masuk dulu, Kek! Rasanya lelah!" ucap Alan seraya berjalan meninggalkan ruang tengah.
"Anak ini kalau sedang diajak bicara serius malah suka kabur!" omel Kakek.
Alan tidak menggubris ucapan kakeknya. Ia tetap berjalan memasuki lift menuju lantai atas kamarnya.
Kakek hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia berjalan ke arah telepon dan berbicara dengan seseorang. Ternyata Tuan Damian.
"Alan dan Irene sudah sampai selamat sampai tujuan," ucap kakek Narendra.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sempat khawatir karena di sini ada kericuhan yang lumayan parah."
Kakek tampak terkejut. Alan tidak bercerita apapun tentang kejadian yang menimpanya. "Lalu, bagaimana dengan perkembangan hubungan mereka di sana?"
"Cucumu terlalu kaku, Narendra! Tidak ada hal signifikan yang terjadi. Apalagi Irene juga pura-pura jadi orang lain. Irene itu suka penampilan yang asal dan cuek. Aku sudah tidak tahu lagi dengan keduanya." Damian terdengar frustasi dari ucapannya.
"Ya sudah! Aku akan tetap berusaha mendekatkan Alan dan Irene. Pokoknya, aku sudah sangat senang jika Irene menjadi cucu menantuku."
Di balik tembok, tanpa kakek tahu, Alex tampak berdiri di sana menyimak percakapan kakek di telepon. Meskipun tidak terlalu jelas mendengar, ia sudah paham apa yang lelaki tua itu inginkan.
Alex mengepalkan tangan kuat-kuat. Ia semakin tidak menyukai kakaknya sendiri. Kakeknya terlalu mengatur. Ia yang memiliki rasa ketertarikan pada Irene tidak pernah mendapat dukungan sejauh itu dari kakeknya sendiri.
__ADS_1