Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 199: Ancaman Datang


__ADS_3

"Irene, kenapa?" tanya Alan.


Irene terlihat lemas saat kembali dari toilet setelah menerima telepon tersebut. Alan menduga ada sesuatu yang serius telah terjadi.


"Tidak ada apa-apa, Kak. Hanya sedikit urusan kampus saja yang perlu diurus," kilah Irene.


"Makanlah dulu, nanti aku antar kemana nanti kamu akan pergi," pinta Alan.


"Tidak perlu, Kak. Temanku akan menjemputku katanya. Aku pergi dulu, ya, Kak," pamit Irene.


"Aku bisa mengantarmu," kata Alan.


Namun, kata-katanya tak didengarkan. Irene sudah lebih dulu pergi dari hadapannya. Ia merasa curiga melihat gelagat Irene.


"Benarkah ini hanya urusan kampus?" gumamnya.


Sementara, Irene bergegas keluar dari area mall dan mencegat satu taksi untuk mengantarnya. "Pak, tolong antar saya ke alamat XXX," pinta Irene.


Sesampainya di markas rahasia, tak ada siapa-siapa di sana, baik Ron ataupun anak buahnya yang lain. Memang, hari libur biasanya mereka melakukan kegiatan di luar.


Irene menuju ke tempat brangkas. Ia memindahkan tumpukan uang Dollar yang ada di sana ke dalam koper yang telah disediakan.


"Siapa mereka? Kenapa bisa tahu identitasku?" gumam Irene.


Selama ini ia sudah berusaha untuk menyembunyikan keberadaan dirinya tapi tetap saja ada yang menyadarinya. Ia tak tega jika harus mengorbankan Ron, anak buah yang paling dipercaya olehnya. Ia yakin lawannya kali ini memang sengaja menahan Ron untuk memancingnya keluar.


Irene membuka sebuah kotak rahasia yang sama sekali tak pernah ia buka sebelumnya. Barisan senjata dari yang terpendek hingga terpanjang terjajar rapi di dalam kotak besar itu.


Irene tentu saja tak pernah mengharapkan benda itu akan keluar dari tempatnya. Namun, kali ini ia butuh untuk berjaga-jaga. Ia mengambil sepucuk pistol dan menyelipkan di pinggang kanannya.


Drrtt .... Drrtt ....


Ponsel Irene kembali berbunyi. Ia masih mendapatkan telepon dari orang yang sama.


"Halo," ucap Irene.


"Kami masih menunggumu. Jangan lupa datang sendiri. Aku tidak bisa mentolerir jika mengendus sedikitpun kecurangan darimu."

__ADS_1


Irene menyunggingkan senyum sinis. "Apa kalian terlalu takut menghadapiku?" ledeknya.


"Hahaha ... Kami hanya melakukan strategi agar urusan tak jadi terlalu rumit."


"Tenang saja, aku cukup berani untuk datang sendiri menghadapi kalian. Aku juga akan membawa uang yang kalian minta. Tepati janji kalian untuk membebaskan anak buahku!"


"Hahaha ... Kamu tenang saja, Nona. Kami hanya membutuhkan uang dan ketenangan. Lain kali, jangan mengusik bisnis kami. Cepatlah datang!"


Orang tersebut kembali mematikan sambungan telepon seenak hati. Irene menghela napas. Pasti pelakunya merupakan salah satu orang atau organisasi yang merasa dirugikan akibat aktivitas yang ia lakukan sebagai hacker.


***


Drrtt ... Drrtt ....


Bunyi ponsel membuat lamunan Alan terhenti. Ada telepon masuk dari anak buahnya. Alan beranjak dari tempatnya dan mencari tempat yang sekiranya aman untuk menerima telepon penting itu.


"Halo?" sapanya.


"Tuan, saya membawakan berita yang sedikit kurang baik," ucap lelaki dari seberang telepon.


Tidak ada yang tahu siapa pemimpin dan anggota Black Shadow. Bahkan, dimana markas dan pusat organisasi itu tak ada yang tahu secara pasti selain Alan sendiri selaku pimpinannya.


Di balik penampilannya yang biasa-biasa, aktivitas yang normal seperti pengusaha lainnya, diam-diam Alan membangun organisasi bawah tanah itu untuk mengetahui berbagai informasi rahasia yang dimiliki negara atau bahkan dunia.


Ia bersaing dengan banyak organisasi tersembunyi lainnya. Ketika terjadi perseteruan di antara mereka, maka mereka akan melakukan perang dingin dan senyap yang tidak akan diketahui orang awam, namun imbasnya dapat dirasakan oleh sepuruh penduduk negara itu atau bahkan dunia.


"Katakan, Aji, berita apa itu?" tanya Alan.


Sudah cukup lama organisasinya aman dan damai dalam menjalankan bisnisnya. Jika Aji menelepon, berarti ada suatu masalah yang bisa berimbas pada organisasi yang telah dibangunnya sejak tiga tahun yang lalu.


Alan tak pernah mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya kepada siapapun, baik kepada keluarganya sendiri maupun Irene. Pekerjaan yang dilakukannya bersama Black Shadow bisa dikatakan ilegal dan melanggar hukum bahkan terlarang. Jika identitasnya terbuka, ia takut akan dijauhi atau bahkan dimusuhi oleh orang-orang yang disayanginya, terutama Irene.


"Kelompok Big-O mulai melakukan gerakan, Tuan," kata Aji.


"Apa yang mereka lakukan?" Sudah lama Alan tak mendengar nama organisasi itu disebut. Mereka sudah lama bermusuhan dan saling bertentangan.


"Menurut informasi yang saya dapatkan, mereka berhasil menculik salah satu orang penting dari tim hacker Cookie, Tuan."

__ADS_1


Alan tertegun sejenak. Tim hacker Cookie merupakan salah satu tim pengaman beberapa situs milik organisasinya. Jika sampai Cookie membocorkan rahasia organisasinya, maka dirinya akan ikut hancur.


"Untuk apa mereka menyasar hacker itu? Apa mereka tahu kalau Cookie ada hubungan kerjasama dengan kita?" tanya Alan meminta kejelasan.


"Itu belum bisa saya pastikan, Tuan. Saya menjamin Cookie bahkan tidak tahu dengan siapa sebenarnya mereka melakukan kerjasama. Namun, tetap saja jika ada informasi yang bocor, kita akan kesulitan untuk mengatasinya," ujar Aji.


Biasanya Big-O akan bersaing dengan mereka secara langsung dalam perdagangan di pasar gelap atau perebutan tender tertentu dengan para pengusaha yang memiliki bisnis sampingan rahasia. Organisasinya lebih banyak menang dari Big-O.


"Mungkin mereka hanya ingin memancing pemilik Cookie untuk muncul," ujar Aji.


Alan menyeringai. "Tidak akan aku biarkan itu terjadi. Yang tersembunyi haruslah tetap tersembunyi," kata Alan. "Kirimkan lokasinya sekarang, Aji. Biar aku yang akan menanganinya sendiri."


"Tapi, Tuan ... Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Anda?"


"Aku akan sangat berhati-hati. Kamu awasi saja aku dari kejauhan dan jika situasi nantinya semakin membahayakan, kerahkan bala bantuan!" pinta Alan.


"Baik, Tuan."


"Suruh orang untuk mengantarkan kendaraan ke tempatku sekarang juga!" perintah Alan lagi.


Alan menutup sambungan teleponnya. Tak berselang lama, Aji telah mengirimkan posisi pertemuan antara anggota Big-O dengan Cookie.


Ia buru-buru menuju mobilnya yang terparkir di basement parkir mall. Alan mengambil jaket kulit hitam dari dalam mobil lalu mengenakannya. Ia melihat ke sekeliling. Saat situasi terlihat aman dan sepi, Alan membuka bagasi mobilnya.


Ia menyingkirkan karpet yang menutupi dasar bagasi lalu membuka pintu rahasia. Di bawah bagasi mobil ada ruang kecil tersembunyi.


Alan mengambil sepucuk pistol, sarung tangan motor, serta masker buff warna hitam dari dalamnya. Ia kembali menutup bagasi mobilnya setelah mengambil barang-barang tersebut.


Tak berselang lama, dua orang lelaki berboncengan mengendarai Yamaha R1 berhenti tepat di depan mobilnya. Mereka turun dari motor dan menghampiri Alan.


"Kalian bawa pulang mobilku, maksudku ke apartemenku," kata Alan.


"Baik, Tuan."


Salah satu dari mereka memberikan helm untuk Alan. Keduanya lantas menaiki mobil Alan. Sementara, Alan memasang masker buff menutupi sebagian wajah lalu mengenakan helmnya.


***

__ADS_1


__ADS_2