Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 208


__ADS_3

Alan datang ke kampus untuk menjemput Irene. Makanan yang telah ia bungkuskan sebelumnya dari restoran sengaja dibeli untuk Irene.


"Seharusnya siang ini Irene sudah pulang, kan?" gumamnya.


Beberapa lama ia menunggu namun Irene tak kunjung keluar dari dalam kampus. Alan terpaksa turun sendiri dari mobil dan mencari Irene di kampus. Kedatangannya tentu saja mencuri perhatian orang-orang, terutama kaum hawa.


Alan mengambil ponselnya dan menghubungi Irene. Sayangnya, ponsel Irene tidak aktif. Ia ganti menghubungi adiknya, Ares.


"Halo, Res, kamu tahu Irene dimana?" tanyanya.


"Loh, kok tanya aku? Kan Irene setiap hari Kakak yang antar jemput."


"Ini aku mau menjemputnya, tapi Irene tidak ada. Aku tanya teman-temannya juga tidak tahu Irene dimana."


"Aku apalagi, ya tidak tahu, lah!"


"Ya sudah kalau begitu!" Alan mengakhiri sambungan telepon dengan kesal.


Ia melihat jam tangannya, sudah waktunya untuk kembali ke restoran bertemu dengan Sovia.


Alan bergegas kembali ke mobilnya dan memacunya dengan cepat menuju restoran.


Di area parkir delan restoran, ternyata Sovia juga baru datang.


"Kamu baru datang, ya?" tanya Sovia dengan senyuman lebar di wajahnya. Ia menggandeng lengan Alan dengan mesra.


Alan yang melihat kondisi sekeliling sedang ramai, tidak bisa mencegah kelakuan Sovia. Berdebat dengan wanita itu di tempat umum hanya akan membuatnya malu.

__ADS_1


Keduanya berjalan beriringan memasuki area restoran dan duduk di meja yang telah dipesan. Irene yang masih berada di sana bertambah kesal melihat adegan yang menyebalkan itu. Ia sudah membuktikan sendiri kalau Alan di belakangnya masih berhubungan baik dengan Sovia.


Irene memutuskan untuk pergi, tak peduli lagi dengan apa yang akan mereka bicarakan. Ia lantas pulang ke rumah dengan raut wajah yang muram. Irene membuka kasar pintu kamarnya dan merebahkan diri di atas ranjang.


"Kenapa kamu? Kayaknya ada masalah yang berat?" celetuk Ares yang juga belum lama pulang dari kampus. Ia masuk ke dalam kamar Irene dan duduk di kursi belajar.


"Pergi sana!" usir Irene. Ia sedang tidak mood untuk berbicara dengan siapapun saking kesalnya.


"Kamu bertengkar dengan Kak Alan, ya? Tadi katanya dia ke kampus dan mencarimu tapi tidak ada. Kamu kabur kemana tadi?" tanya Ares.


Ares ... Buruan kamu pergi sana sebelum aku berubah menjadi monster. Aku sedang ingin memukuli orang!" Irene mengeluarkan ultimatumnya.


Ares yang merasa Irene sedang tak bisa diajak bicara akhirnya mengalah dan keluar dari kamar itu. Ia yakin antara Irene dan kakaknya pasti sedang ada masalah.


***


Irene masih kecewa dengan Alan baik soal Miranda maupun Sovia. Tidak seharusnya Alan membiarkan Miranda tetap bersekolah karena wanita itu pantas dikeluarkan dari kampus. Alan juga tidak seharusnya bertemu dengan mantan kekasihnya tanpa memberi tahu dirinya.


Irene menghela napas. Ia turun menggunakan lift menuju ke arah dapur. Ia mengambil botol susu dari dalam kulkas lalu menuangkannya ke dalam gelas dan meminumnya.


Secara tiba-tiba, ia merasakan pelukan dari arah belakang. Tubuhnya mematung saat mengetahui Alan yang memeluknya dengan hangat.


"Irene, kenapa kamu terus menghindariku?" tanya Alan. Ia rasanya sangat tersiksa diabaikan selama berhari-hari oleh wanita itu. Ia juga tidak bisa fokus bekerja karena pikirannya dipenuhi dengan Irene. Ia selalu bertanya-tanya, apa kesalahan yang telah diperbuat sampai Irene menghindarinya.


Irene melepaskan pelukan Alan. Ia membawa gelas kotor itu ke arah tempat cuci piring. Alan masih mengikutinya dengan raut wajah yang sedih.


"Irene ... Kalau ada kesalahpahaman, katakan saja, kita bisa meluruskannya bersama. Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau kamu diam terus seperti ini."

__ADS_1


"Tidak ada kesalahpahaman apa-apa!" jawab Irene ketus sembari mencuci gelasnya dan beberapa piring kotor lainnya.


"Kalau tidak ada kesalahpahaman, kenapa kamu mengabaikanku berhari-hari? Kamu tidak sadar sudah membuat orang lain tersiksa?"


"Coba pikirkan saja sendiri, apa tindakan yang dilakukan Kak Alan sudah benar?"


Alan mengerutkan dahi. "Bicara yang jelas, apa yang sudah aku lakukan sampai membuatmu semarah ini?" tanyanya.


Irene berhenti mencuci piring. Ia lantas membalikkan badan dan menatap tajam ke arah Alan.


"Kalau Kak Alan memang masih punya perasaan kepada orang lain, tidak usah memaksakan diri menerima perjodohan ini! Kakek juga sudah meninggal dan tidak ada alasan lagi untuk Kakak mempertahankan perjodohan ini!" kata Irene dengan tegas.


"Kamu ini bicara apa?" tanya Alan.


"Kalau memang Kakak merasa aku tidak pantas, pilih saja wanita lain yang menurut Kakak pantas. Tapi, jangan membuatku seperti orang bodoh karena tidak tahu apa yang Kakak lakukan di luaran sana!"


Tak tahan berada di dekat Alan, Irene lantas berjalan dengan langkah cepat menaiki lift ke lantai atas.


Alan masih tertegun di tempatnya. Ia benar-benar belum paham dengan apa yang barusan Irene katakan padanya.


"Masalah apa lagi kali ini, Kak?" tanya Ares yang kebetulan mendengar dari arah belakang. Ia baru saja memberikan makanan kepada kucing pelayan yang ada di halaman belakang.


"Mana aku tahu? Kalau aku tahu juga tidak mungkin jadi masalah," ucap Alan.


"Irene sejak kemarin seperti itu terus. Bukan hanya di rumah, di kampus juga. Ia sedang tidak mau diajak bicara. Bahkan aku juga kena marah kalau mencoba bicara dengannya," kata Ares.


Alan heran sendiri. Ia merasa tak berbuat apapun yang membuat Irene kesal. Bahkan, seharusnya ia yang kesal karena Irene sudah tak mau dihubungi olehnya dan selalu menghindar saat ia mencoba meluruskan masalahnya. Waktu yang ia luangkan untuk menjemput Irene di kampus juga jadi sia-sia karena Irene memilih pulang sendiri.

__ADS_1


"Pergi sana ke atas, Kak! Kalau perlu dobrak pintunya. Irene menakutkan kalau sedang marah. Aku yang tidak tahu apa-apa malah jadi sasaran juga," usul Ares.


__ADS_2