
"Eugh .... Kok aku ada di sini?" guman Irene.
Ia terbangun dengan perasaan bingung dan terkejut saat menyadari bahwa dirinya berada di dalam kamar tidur. Ia yakin bahwa semalam ia tidur di sofa ruang tengah. Rasa panik mulai menghampiri pikirannya, dan dia segera mencari suaminya.
"Kak ... Kak ...." panggilnya.
Irene melihat ke sekeliling, mencari tanda-tanda keberadaan Alan. Dalam keadaan semakin panik, dia mulai memanggil-manggil namanya.
"Sayang ... Kamu dimana?" teriak Irene panik.
Suara teriakan Irene bergema di ruang apartemen yang hening. Dia berjalan dengan cepat, melewati ruang tamu dan akhirnya sampai di pintu ruang kerja Alan. Hatinya berdebar keras saat dia membuka pintu.
"Sayang ... Kak Alan ...."
Ketika dia memasuki ruang kerja, suara air dari arah kamar mandi mengalihkan perhatiannya. Irene merasa lega dan segera melangkah menuju pintu kamar mandi yang setengah terbuka.
Irene melihat Alan sedang mandi di dalam kamar mandi, air mengalir di tubuhnya yang terlihat tegap. Dia merasa sedikit malu karena telah mengganggu saat Alan mandi, tetapi juga merasa lega karena menemukannya dengan selamat.
"Oh, syukurlah," ucapnya.
Alan, yang sedang berada di dalam kamar mandi, terkejut mendengar suara Irene. Dia mematikan air pancuran dan membuka pintu kamar mandi dengan cepat. Wajahnya penuh dengan keheranan dan pertanyaan.
"Kamu sudah bangun?" tanya Alan dalam kondisi tanpa mengenakan pakaian.
Irene malu sendiri dan berusaha mengalihkan pandangan. "Aku terbangun di dalam kamar tidur dan panik. Aku semalam tidur di sofa, tapi aku yakin Kakak yang memindahkanku ke kamar. Aku mencarimu Kakak dengan panik," katanya dengan nada sedikit gugup.
"Kalau begitu, aku keluar dulu," pamit Irene.
Alan menghentikan Irene dengan pelukan erat. "Maafkan aku, Sayang," katanya.
"Aku ingin kamu mendapatkan istirahat yang baik, jadi aku memindahkanmu ke kamar tidur semalam. Aku tidak bermaksud membuatmu panik," lanjut Alan.
Irene merasa lega mendengar penjelasan Alan. Dalam pelukan suaminya, kepanikan dan kekhawatirannya mulai mereda. Dia merasa hangat dan aman di dalam pelukan Alan.
"Aku juga minta maaf untuk yang kemarin, ya! Aku sungguh tidak melakukan apa-apa. Lain kali aku akan lebih berhati-hati," ucap Irene. Kesempatan itu ia gunakan untuk meminta maaf.
"Aku yang harus minta maaf. Aku semalam terlalu emosi," kata Alan.
__ADS_1
Ia melepaskan pelukannya dan mencium mening istrinya. Wajah Irene seketika memerah.
"Lanjutkan dulu mandinya, aku akan menunggu di luar," ujar Irene. Ia menjadi semakin deg-degan menyadari suaminya yang masih tela njang.
Bukannya menuruti kemauan Irene, Alan Justru menariknya masuk ke dalam. Alan menyalakan kembali air shower dan membawa Irene di bawah guyurannya bersama.
"Aduh, Kak, bajuku basah!" seru Irene sambil mengusap wajahnya yang terkena air.
"Kalau begitu, lepaskan saja sekalian," pinta Alan dengan nada bicara yang iseng.
Tanpa basa-basi, Alan menanggalkan pakaian yang dikenakan istrinya. Irene ingin malu namun sudah terlanjur. Ia hanya pasrah saat Alan melepaskan semuanya.
Mereka saling berpelukan di bawah guyuran air dingin yang terasa hangat karena kehangatan tubuh mereka.
Irene menempelkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Ia merasa lega Alan akhirnya mau berbicara dengannya. Padahal semalam lelaki itu sudah tampak murka dan dia takut kalau sampai masalah mereka akan bertambah besar.
"Sayang, aku minta maaf, ya," ucap Irene sekali lagi.
Alan mengelus kepala istrinya. "Lain kali jangan diulangi," katanya.
"Iya, Kak. Aku akan lebih berhati-hati. Ares ...."
Irene mengangguk paham.
Alan melepaskan pelukannya. Ia memandangi kembali wajah wanita yang paling dicintainya. Kepolosan wajah itu membuatnya tidak tega untuk marah lama-lama.
Ia memagut bibir mungil di hadapannya. Keduanya saling menyecap bibir satu sama lain diiringi gemericik suara air.
Tangan Alan tak bisa diam harus bergerak menyusuri lekukan tubuh sang istri yang sama seperti biola. Perlahan ia mengelus kedua gundukan padat sembari memberikan pijatan lembut di sana. Ulahnya membuat Irene terus mengeluarkan lengkuhan yang merdu di telinga.
Dengan nakal ia arahkan tangan sang istri untuk menyentuh miliknya. Semalam ia sudah sangat kesepian dan membuat hasratnya begitu tinggi ketika mereka berbaikan.
"Sayang, mau lanjut di sini atau di atas ranjang?" tanya Alan.
Wajah Irene bersemu merah. Ia juga sudah turut diliputi hasrat. "Di kamar saja, Kak," pintanya.
Alan mengangguk mengerti. Ia sandarkan sang istri menempel pada dinding kamar mandi. Ia pagut kembali bibirnya dengan mesra. Irene merasa terlena.
__ADS_1
Irene melebarkan mata saat tiba-tiba Alan memasukkan miliknya. Ia terkejut dengan perbuatan suaminya sampai terdengar lengkuhan panjang.
"Kak, katanya mau di kamar," protes Irene.
Alan menyunggingkan senyum. "Iya, Sayang. Kita memang mau lanjut di kamar," katanya seraya mengangkat tubuh Irene ke dalam gendongannya.
Irene yang kembali terkejut hanya bisa melengkuh sembari mengaitkan kedua kakinya di pinggang Alan. Tangannya berpegangan erat pada leher suaminya itu. "Kak," rengeknya.
Irene menyembunyikan muka. Rasanya malu dengan posisi seperti itu.
Alan mengabaikan keluhan Irene. Dengan santai ia membawa Irene keluar dari kamar mandi sembari menggendong sang istri. Sesekali ia iseng menggerakkan tubuhnya sengaja membuat Irene mengerang.
"Sayang, turunkan aku! Aku takut jatuh!" rengek Irene lagi.
"Kamu tidak akan jatuh, Sayang. Kan ada aku," kata Alan menenangkan.
Rasanya ia sudah tidak sabar untuk sampai di kamar. Alan memutuskan untuk merebahkan Irene di atas ranjang yang ada di ruang kerjanya.
Keduanya kembali saling bermesraan dan menyalurkan hasrat satu sama lain.
***
Keduanya saling berpelukan setelah melewati pelepasan yang melegakan. Mereka masih berusaha mengumpulkan kembali tenaga yang terkuras setelah olah raga pagi.
"Sayang, kamu sudah memaafkan aku, kan?" tanya Irene memastikan. Ia sembari memanja kepada Alan.
"Iya, sudah, jangan dibahas lagi," kata Alan. "Tapi, kamu juga harus janji untuk menjauhi Ares. Jangan lagi dekat-dekat dengannya!" perintah Alan.
Irene mengangguk paham.
Alan terlihat begitu waspada pada adiknya sendiri. Ia tidak rela jika istrinya jatuh ke pelukan adiknya sendiri atau lelaki lain.
"Sayang, kamu hari ini tidak berangkat bekerja?" tanya Irene. Alan yang biasanya rajin jadi malas-malasan seperti pagi ini.
"Tidak, aku masih ingin bersantai denganmu seperti ini," kilah Alan.
"Jangan begitu, Sayang. Papa kan sudah mempercayakan padamu. Masa kamu mau melepaskan tanggung jawab?" tanya Irene.
__ADS_1
Alan tampak berpikir sejenak. Ia sudah tidak mau lagi ke kantor karena ada Alex. Meskipun ia sudah mengatakan untuk kembali bekerja kepada ayahnya, namun realitanya ia merasa tak sanggup satu kantor dengan Alex.
"Mungkin setelah istirahat selama satu minggu aku akan kembali bekerja. Aku juga perlu adaptasi lagi karena sekarang sudah punya istri," ujar Alan.