Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 252: Pencarian Irene


__ADS_3

Ares baru saja pulang dari kampus. Ia melihat empat mobil Rubicon berjajar di halaman rumahnya. Ia terkejut saat matanya menemukan logo organisasi Black Shadow pada kap mobil tersebut.


Tak berselang lama, Alan keluar dari dalam rumah mengenakan sweater hitam dan celana hitam dilengkapi blazer yang membuat penampilannya terlihat rapi.


"Mau kemana, Kak?" tanya Ares ingin tahu. Melihat kakaknya secara terang-terangan memperlihatkan kekuatan tersembunyinya, Ares yakin ada sesuatu yang serius tengah terjadi.


"Aku mau membawa pulang Irene," jawab Alan seraya memasang kacamata hitamnya.


"Aku ikut!" desak Ares.


"Ini bukan urusanmu, jadi jangan ikut campur. Biar aku menyelesaikannya sendiri!"


Alan secara tegas menolak kemauan adiknya. Ia tidak mau membuat Ares dalam bahaya jika ikut bersamanya. Ia yakin perjuangannya membawa Irene kembali tidak akan mudah. Bahkan mungkin harus bertaruh nyawa.


Alan membulatkan tekad mengorbankan segalanya. Ia merasa pantas untuk mengorbankan segalanya demi wanita yang dicintainya.


"Kak!" seru Ares.


Alan menoleh ke arah Ares sebelum memasuki mobilnya.


"Hati-hati dan bawa Irene kembali," kata Ares dengan nada yang lembut.


Alan menyunggingkan senyum. Ia senang melihat adiknya menunjukkan rasa perhatiannya. Ia lantas masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumahnya bersama anak buahnya yang lain.


"Senjata sudah saya siapkan di bawah tempat duduk setiap mobil, Pak," kata Aji.


"Terima kasih, Aji," ucap Hamish.


Ia tak pernah berniat untuk melakukan perlawanan secara frontal terhadap organisasi lawan. Selama ini ia hanya melakukan persaingan secara digital. Mungkin ini pertama kalinya akan menghadapi secara fisik.


Memang waktu itu beberapa anak buahnya sempat mengahadapi anggota Big-O saat Cookie dalam masalah. Tapi, kekuatan Hamish yang sesungguhnya ia yakin lebih besar dari itu.


Alan membawa beberapa anak buahnya dari organisasi Black Shadow ke sebuah desa yang terletak di daerah pegunungan. Perjalanan mereka dilakukan dengan hati-hati dan berusaha tidak menimbulkan kecurigaan di antara penduduk desa yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.


Sesampainya di desa, Alan langsung mencari kakek Irene yang tinggal di sebuah rumah di tepi sungai. Dari arah yang cukup jauh, Alan melihat beberapa orang berjaga di sekitar rumah itu.

__ADS_1


"Ji, tangani mereka secara diam-diam!" perintah Alan.


"Baik, Pak," kata Aji seraya turun dari mobil tersebut.


Alan menunggu di dalam mobil bersama sopirnya sambil mengamati dari kejauhan. Ia harap bisa melumpuhkan mereka tanpa membuat keributan. Orang desa akan curiga jika terjadi sesuatu di sana.


Tiga puluh menit kemudian, Aji kembali dan mengabarkan bahwa kondisi telah diamankan. Mobil yang membawa Alan kembali bisa dijalankan. Iring-iringan mobil mereka berhenti di depan rumah kakek Irene.


Kakek Irene terlihat sangat senang melihat kedatangan Alan dan anak buahnya. Mereka dipersilahkan masuk dan dijamu dengan teh hangat.


"Ini pertama kalinya kan, kamu datang ke sini? Dari mana kamu tahu tempat tinggalku?" tanya kakek.


"Ron yang memberitahukannya," kata Alan.


"Ah, dia ... Ternyata kamu mengenal dia juga." kakek terlihat mangguk-mangguk. "Oh, iya. Para penjaga di luar kamu pindahkan kemana?" tanya kakek.


Ia tahu bahwa setiap hari Hamish memerintahkan anak buahnya untuk menjaga rumah. Namun, saat Alan datang, satupun dari mereka sudah tidak tampak lagi.


"Kakek tenang saja. Mereka hanya dibuat pingsan," kata Alan.


Kakek menyunggingkan senyum. "Lalu, ada perlu apa kamu ke sini? Aku dengar kamu telah mengusir cucuku," ujar kakek.


"Kamu pernah berjanji untuk menjaga Irene, Alan. Kamu bilang tidak akan menyakitinya." Kakek terlihat kecewa dengan perlakuan Alan terhadap cucunya. Ia sangat berharap Alan merupakan orang yang bisa menjauhkan Irene dari Hamish.


"Itu memang kesalahan terbesar sekaligus kebodohanku. Kakek, aku sangat menyesal. Maafkan aku." Alan tak berusaha membela diri. Ia mengakui kesalahannya sendiri.


"Aku tidak butuh permintaan maafmu. Buktikan saja penyesalanmu dengan perbuatan," pinta kakek.


"Itu sebabnya aku datang ke sini, Kek. Ron bilang Irene pergi ke sini bersama Hamish. Lalu, dimana Irene sekarang?" tanya Alan.


Kakek menghela napas panjang. "Kamu sangat terlambat. Irene sudah dibawa Hamish pergi ke Eropa. Kemarin mereka memang ke sini," tutur kakek.


Seketika Alan merasa lemas. Usahanya menempuh perjalanan yang cukup jauh hingga sampai di sana berakhir sia-sia.


"Apa yang harus aku lakukan, Kakek?" tanya Alan.

__ADS_1


"Memangnya kamu mau bagaimana? Giliran Irene sudah pergi, kamu repot-repot mencari," sindir kakek.


"Aku menyesal, Kek. Aku berharap Irene bisa kembali," kata Alan.


"Memangnya kamu masih mencintainya?" tanya kakek memastikan.


"Masih," jawab Alan dengan malu-malu.


Kakek Irene mengangguk dan berkata, "Aku tahu keberadaan Hamish. Dia membawa Irene ke salah satu negara di Eropa. Aku sudah mencoba menghubungi mereka, tapi tidak ada jawaban. Hamish tentu saja akan melarang Irene menghubungi siapa saja yang ia kenal."


Alan terlihat lega mendengar kabar dari kakek Irene, "Terima kasih, kakek. Bisakah kakek membantuku untuk membawa Irene kembali?"


"Tentu saja. Aku akan membantu kamu. Tapi kamu harus berjanji padaku bahwa kamu akan menjaga Irene dengan baik setelah dia kembali."


Alan mengangguk tegas, "Aku berjanji, kakek. Aku akan menjaga Irene dengan baik."


Kakek Irene memberikan beberapa informasi kepada Alan tentang keberadaan Hamish dan Irene di Eropa. Dia juga memberikan surat kepada Alan yang berisi permohonan untuk Hamish agar membawa Irene kembali ke tanah air.


"Mereka pasti ada di salah satu desa di pedalaman Perancis. Kalau kamu kesulitan menemukannya, minta bantuan kepada Alberto Miguel," kata kakek.


"Apa?" Alan terkejut saat nama orang itu disebut.


"Dia ayah angkat Irene. Dia pasti akan membantumu. Katakan saja aku yang menyuruhmu menemuinya."


Alan mengangguk. Ia sangat berterima masih kepada kakek yang telah mau membantunya.


"Pagang kata-katamu, Alan! Jangan sia-siakan Irene," pinta kakek.


"Iya, Kakek. Aku berjanji," kata Alan meyakinkan kakek. Ia lantas berpamitan dan pergi bersama rombongannya meninggalkan tempat kakek.


Di dalam mobil selama perjalanan pulang, ia berdiskusi dengan Aji membahas rencana kepergiannya ke Perancis untuk menyusul Irene.


"Apa kamu bisa mengurus semua dalam waktu yang singkat?" tanya Alan.


"Tentu saja bisa, Pak. Saya juga akan menghubungi anggota yang ada di sana untuk mempersiapkan tempat tinggal sementara Anda. Jumlah mereka juga cukup untuk melakukan pengawalan terhadap Anda."

__ADS_1


"Aji, kalau begitu, kamu harus ikut aku. Kamu juga lancar berbahasa Perancis, kan?" tanya Alan.


"Ah, iya, Pak. Tidak terlalu mahir tapi lumayan." Aji terlihat senang ketika ditawari untuk ikut. Meskipun hendak melakukan misi yang cukup berbahaya, namun ia senang bisa jalan-jalan ke luar negeri.


__ADS_2