
Keempat tuan muda itu duduk di ruang keluarga yang terlihat begitu hening. Mereka membicarakan tentang kepergian Irene yang tiba-tiba pergi tanpa kabar yang jelas. Ares, yang tampaknya sangat marah, terus menyalahkan kakaknya, Alan, sebagai penyebab kepergian Irene.
"Semua ini karena kamu, Kak!" kata Ares dengan nada tajam. "Kamu sudah melakukan sesuatu yang membuat Irene pergi."
Alan hanya menatap Ares dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu? Aku sudah berusaha meminta maaf."
"Siapa pula orang-orang yang datang bersama Irene? Kelihatannya mereka menakutkan. Apa tidak apa-apa membiarkan Irene pergi bersama mereka?" gerutu Ares. Setelah kejadian tadi siang, ia terus mengkhawatirkan Irene.
"Kamu kira hanya kamu yang khawatir padanya? Aku juga merasakan hal yang sama!" kilah Alan.
"Kalau kemang peduli, kenapa kamu biarkan dia pergi?" Ares berkata dengan nada yang meninggi.
"Aku sudah berusaha untuk membujuknya. Irene sendiri yang memilih pergi!"
"Halah! Kalau Kakak ada usahanya sedikit, Irene juga pasti masih ada di sini!"
"Kalian ini sebenarnya ribut tentang apa?" tanya Arvy heran.
Arvy dan Alfa sejak tadi hanya mengamati pertengkaran kedua saudara mereka dengan kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Ares dan Alan.
"Tadi Irene pulang, tapi pergi lagi!" kata Ares mencoba memberi penjelasan.
"Kak Alan, kamu sebenarnya suka apa nggak dengan Irene? Kenapa jadi begini?" tanya Alfa dengan nada kecewa. Ia termasuk orang yang menyayangi Irene. Apalagi wanita itu telah banyak berjasa membantunya di butik.
__ADS_1
"Kak, Irene yang jelek saja bisa kamu terima, masa Irene yang cantik kamu sia-siakan?" sambung Arvy.
"Kalian berdua tidak tahu apa-apa, jadi diam saja!" bentak Alan.
Pikirannya sedang sangat kacau. Meskipun di luar sepertinya ia tenang, namun dalam dirinya sangat kacau. Ia merasa sangat stres ditinggalkan oleh Irene. Pengusiran yang ia lakukan waktu itu merupakan penyesalan terbesarnya. Tidak seharusnya ia bertindak gegabah terhadap hal semacam itu.
Dari rekaman CCTV jelas terlihat jika ibunya yang lebih dulu emosi dan mulai bersikap kasar pada Irene. Posisinya Irene hanya mencoba bertahan. Namun, wanita itu tidak sengaja mendorong ibunya sampai jatuh dan kepala membentur lantai.
Alan terlalu khawatir dengan kondisi ibunya yang telah lama terpisah darinya sampai melupakan perasaan Irene yang selama satu tahun ini selalu mengisi hari-harinya.
"Kalian lihat sendiri kan, kelakuan kakak kita? Dia memang punya sisi arogan dan egois," sindir Ares.
Alan bangkit dari duduknya. Ia merasa emosinya terpancing oleh kemarahan Ares. "Maumu apa sekarang? Aku juga sudah berusaha! Kenapa terus menyalahkan aku!" bentak Alan.
"Siapa yang munafik? Mungkin itu kamu sendiri! Kalau memang menyukai tunangan kakakmu, kenapa harus sembunyi-sembunyi?" sindir Alan.
Ares terdiam menahan amarahnya. Ucapan Alan tak sepenuhnya benar tapi juga tidak sepenuhnya salah.
"Ya! Sepertinya aku memang menyesal tidak lebih awal membuat Irene jatuh cinta padaku. Kenapa dia harus jatuh cinta pada orang bodoh sepertimu!"
"Sialan!"
Ucapan Ares kembali menyulut amarah Alan. Keduanya akhirnya bertengkar dan saling pukul. Arvy dan Alfa terlihat kewalahan untuk menahan mereka. Anak sulung dan anak bungsu yang bertengkar menjadi sangat menyeramkan. Keduanya tak ada yang mau mengalah.
__ADS_1
Arvy dan Alfa membagi tugas untuk menenangkan kedua saudaranya.
"Kalian tidak akan menemukan Irene dengan bertengkar seperti ini," kata Vito dengan suara tenang. Ia baru saja keluar dari dalam kamar bersama istrinya. "Lebih baik kalian fokus pada mencari Irene dan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih baik," imbuhnya.
Alan dan Ares kembali duduk setelah ayah mereka buka suara.
Vito menoleh ke arah istrinya di belakang. "Indira, mulai sekarang jangan pernah membenci orang secara keterlaluan. Kamu sudah sangat jahat membenci Irene yang sama sekali tidak terlibat dengan permasalahan yang menimpa kita," ujarnya kepada sang istri.
Alan telah menjelaskan informasi yang diperoleh kepada kedua orang tuanya. Dia menunjukkan foto keluarga Bramasta dan ternyata mereka mengenalnya. Ia bilang bahwa Irene berasal dari keluarga yang berbeda.
Setelah mendapatkan fakta itu, Indira langsung lemas. Ia telah memaki-maki orang yang salah.
"Kamu tidak seharusnya membenci Irene," kata Vito.
"Iya, iya ... Aku juga sudah menyesal, Mas," kata Indira.
"Alan, sekarang Papa tanya. Apa kamu masih mau melanjutkan pernikahan dengan Irene?" tanya Vito memastikan.
"Iya, Pa," jawab Alan.
"Kalau begitu, cari Irene sampai dapat! Buktikan kesungguhan perasaanmu padanya!" pinta Vito. "Kalian, sebagai adik-adik yang baik juga bisa memberikan bantuan. Pokoknya kalian harus bekerja sama untuk menemukan Irene dan membawanya kembali ke rumah,"
Setelah mendengar kata-kata Vito, suasana menjadi lebih tenang. Mereka semua sadar bahwa mereka harus bekerja sama untuk menemukan Irene dan menyelesaikan masalah ini dengan baik. Semua setuju bahwa mereka harus berhenti menyalahkan satu sama lain dan bersatu mencari Irene.
__ADS_1
Mereka semua menyadari bahwa kepergian Irene adalah masalah yang lebih besar daripada perselisihan mereka. Mereka semua bertekad untuk menemukan Irene dan membawa dirinya kembali ke rumah.