Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 40: Biang Kerusuhan


__ADS_3

Irene memandangi gedung tinggi yang berdiri gagah di antara bangunan bertingkat lainnya. Tulisan 'Narendra Grup' begitu besar dan jelas terbaca dari jarak yang cukup jauh. Motor Ares melaju semakin mendekat ke arah gedung itu, masuk ke area halaman lalu berhenti di arah parkiran depan.


Di Kota Jakarta, keluarganya juga memiliki perusahaan yang cukup besar meski namanya telah kalah dengan perusahaan-perusahaan baru yang kian melejit. Betapa bodoh dirinya, setelah lulus bukannya belajar di perusahaan malah sibuk melakukan hal-hal tak berfaedah seperti balapan liar. Seharusnya ilmu yang didapatkan bisa digunakan untuk memajukan kembali perusahaan yang sempat terguncang akibat kematian orang tuanya.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" seorang resepsionis wanita ramah menyambut kedatangan mereka.


"Saya ingin bertemu dengan kakak saya, Alex Narendra." Ares mengeluarkan sebuah kartu identitas sebagai pengenal bahwa dia merupakan salah satu bagian dari keluarga Narendra.


Resepsionis itu kelihatannya langsung paham. "Kalau Nona yang ini, Ada keperluan apa?"


"Dia datang bersamaku," sahut Ares sebelum Irene lebih jauh ditanya-tanya.


"Oh, baiklah. Silakan menuju lift khusus di sebelah sana, nanti akan ada petugas yang mengantar kalian ke ruangan Pak Alex." Resepsionis itu menunjuk ke arah lift yang dimaksud.


"Terima kasih," ucap Ares. "Ayo!" ia mengajak Irene untuk ikut dengannya.


Seorang sekuriti mempersilakan keduanya masuk ke dalam lift yang khusus membawa orang-orang penting di perusahaan. Beruntung Irene bersama Ares, makanya ia bisa mudah ikut ke atas. Ruangan Alex terletak di lantai 30, lantai tertinggi di perusahaan itu.


"Permisi, Pak. Ada yang ingin menemui Anda."


Perbincangan Alex di dalam dengan Erika dan seorang lelaki terhenti. Ia penasaran dengan siapa yang berkunjung saat jam kerja.


"Eh, ada Irene ...." Erika tampak antusias saat melihat Irene datang. Ia langsung berlari menghampiri dan memeluknya. Sementara, Irene hanya bisa tersenyum kaku dengan kelakuan Erika. Satu hal yang tidak ia suka saat bertemu Alex adalah kemungkinan akan bertemu dengan Erika.


Erika wanita yang baik. Pertama kali bertemu juga Irene sudah diperlakukan dengan baik. Akan tetapi, saking kelewat baiknya, ia jadi merasa tidak nyaman. Apalagi kalau wanita itu sangat suka memeluk dan mencubitinya seperti perlakuan kepada anak kecil.


"Sudah lama kita tidak bertemu, ya ... Alex itu jahat, setiap aku minta mengajakmu jalan selalu ditolak," keluh Erika.


"Pak, saya undur diri dulu. Sepertinya Anda mendapat tamu penting. Permisi," pamit lelaki yang tadi sedang membahas sesuatu dengan mereka. Ia sadar diri sepertinya akan mengganggu jika tetap di sana.

__ADS_1


"Ares, Irene, duduklah!" pinta Alex yang masih kaget dengan kedatangan mereka.


"Ares apa kabar? Kita juga jarang sekali bertemu, ya ...." Pandangan Erika teralih pada sosok adik Alex.


"Baik, Kak Erika."


"Kuliahmu sudah selesai?"


"Belum, masih ada tiga semester lagi."


"Kenapa kalian datang ke sini?" Alex melipat tangannya di dada memasang wajah serius seakan ingin menghakimi kedua pemuda itu.


"Katanya kami boleh datang menemui Kak Alex di kantor," kilah Ares.


"Aku memang mengizinkan kalian main ke kantor kapan saja, tapi setidaknya beritahu aku dulu sebelum datang. Hari ini aku sangat sibuk, mungkin tidak bisa menemani kalian." Alex berbicara dengan nada sedikit kesal.


"Hey, orang ini ya ... serius banget hidupnya. Harusnya senang ada adik-adik yang datang." Erika lebih membela Irene dan Ares.


Erika langsung terdiam dengan perkataan Alex. Memang benar, sangat sulit menemui Alex saat jam kerja, apalagi kalau tidak ada kepentingan bisnis dengannya.


"Aku tidak bisa mengantar kalian keliling hari ini, jadi pulang saja."


Irene dan Ares saling berpandangan. Sudah jauh-jauh mereka datang meluangkan waktu tapi malah disuruh pulang.


"Kita bisa keliling sendiri, Kak."


"No!" tegas Alex.


"Aku janji tidak akan membuat kerusuhan," timpal Ares.

__ADS_1


"Tetap tidak boleh!" Alex tidak serta merta percaya dengan ucapan adiknya. Kalau sampai ada kekacauan, dia pasti akan ikut disalahkan.


"Kalau begitu, biar aku yang menemani mereka di sini." Erika menawarkan diri. Dia juga ikut pusing melihat kakak beradik itu bertengkar.


"Sebentar lagi kamu juga akan ikut rapat, Erika ...." Alex agak kesal juga Erika terlihat berusaha membela mereka.


"Oh, iya. Aku lupa." Erika sampai lupa tujuannya datang menemui Alex memang untuk menghadiri rapat.


"Permisi, Pak. Anda telah ditunggu di ruang rapat."


Tak lama setelah membahas tentang rapat, datang seseorang memberitahukan jadwal rapat. Alex melirik ke arah dua remaja yang baru menginjak dewasa dan sepertinya kurang bisa dipercaya. Ia khawatir saat dia meninggalkan mereka, keduanya akan kabur dan berbuat onar di kantor.


"Dengar baik-baik, Ares, Irene ... kalian harus tetap berada di ruanganku selama aku rapat. Akan ada sekuriti yang berjaga di depan pintu, jangan coba-coba kabur. Aku tidak mau ambil resiko kalau sampai kalian membuat keributan di sini." Alex menyampaikan ultimatumnya.


"Siapa yang mau membuat keributan di sini, Kak? Masa adik sendiri tidak dipercaya ...." Ares jadi kesal kakaknya sudah menuduh ia akan membuat onar.


"Pokoknya, tunggu aku kembali. Kalian harus tetap di sini!"


Alex sudah tidak mau berdiskusi. Ia pergi meninggalkan Ares dan Irene di dalam ruangannya. Sementara, ia dan Erika keluar ruangan menuju ruang rapat yang terletak di lantai yang sama dengan ruangannya.


"Jangan galak-galak, dia kan adikmu sendiri," ucap Erika sembari mengikuti langkah kaki Alex yang memburu.


"Siapa yang galak? Aku melakukan itu juga demi kebaikannya. Ares ingin masuk ke perusahaan ini. Kalau sampai dia berbuat onar, kesempatannya untuk bergabung dengan perusahaan akan dihapus. Kamu harus tahu seberapa ketat persaingan kepemimpinan di sini." Alex tetap berjalan dengan langkah cepat. Meskipun menjawab pertanyaan Erika, fokus di kepalanya masih seputar materi rapat yang akan diutarakannya nanti.


"Iya, aku tahu. Tapi, kata-katamu bisa melukai perasan adikmu. Kalian itu bukan saudara tiri, tapi saudara kandung."


"Justru karena dia saudara kandungku, makanya aku sangat peduli dan akan lebih keras padanya jika ingin masuk dan bertahan di sini."


Erika berhenti bicara. Alex merupakan orang yang cukup ambisius untuk meraih apa yang diinginkannya. Wajar ia berusaha keras agar bisa diterima dalam jajaran kepemimpinan yang didominasi oleh paman-pamannya. Sebagai salah satu anggota keluarga Narendra, ia harus mempertahankan tempat yang dulu pernah diduduki oleh ayahnya.

__ADS_1


Sesampainya di ruang rapat, seluruh jajaran yang akan terlibat dalam rapat sudah hadir. Sepertinya Alex dan Erika yang datang paling akhir. Mereka sudah siap melaksanakan rapat di bawah pimpinan sang CEO muda, Alex Narendra.


__ADS_2