
"Ren!" panggil Alfa.
"Ya, Kak?"
Irene yang baru saja keluar dari dalam lift langsung menghampiri Alfa yang tengah duduk di ruang tengah. Ia ikut duduk di sana.
"Kamu ada acara hari ini?" tanya Alfa.
"Em, nggak ada sih, Kak ...," jawab Irene setelah berpikir sejenak. Alan bilang akhir pekan ini ada pekerjaan sehingga tidak bisa pergi dengannya.
"Ikut aku ke butik mau?" tanya Alfa.
Irene mengerutkan dahi. "Ngapain, Kak?"
"Bantu aku memperbaiki rancangan gaunku, ya! Asistenku yang biasanya sedang libur," pinta Alfa.
"Anak baru yang sedang magang itu, ya?" tanya Irene. Ia jadi teringat pada asisten Alfa yang masih kuliah dan sempat dibantunya.
"Iya, dia sedang sibuk menyelesaikan tugas akhirnya jadi tidak bisa membantu di butik untuk sementara. Bagaimana, apa kamu mau?" tanya Alfa.
"Aduh, gimana ya, Kak? Kayaknya aku sedang malas," kata Irene mencari alasan.
"Nggak gratis kok, nanti aku traktir makan deh. Ayo!"
Alfa memaksa Irene bersamanya. Tanpa persiapan apapun, Irene langsung dibawa oleh Alfa dan menyuruh wanita itu naik ke dalam mobilnya.
Sebenarnya Alfa tak terlalu butuh bantuan Irene. Ia hanya masih penasaran dengan hasil kerja Irene waktu itu yang menurutnya sangat mirip dengan rancangan Lily.
"Tolong ... Tolong ... Aku diculik!" seru Irene saat Alfa menariknya masuk ke dalam butik.
"Halah, lebay! Tidak akan ada yang peduli padamu, tahu!" ujar Alfa.
Anak buah Alfa yang ada di sana memang sudah mengenal Irene yang telah beberapa kali datang ke sana.
Saat berada di ruang kerja Alfa, Irene mulai memperhatikan desain gaun yang tengah Alfa kerjakan. "Ini?" tanya Irene.
"Iya. Menurutmu, apa yang masih kurang? Bukankah ini terlihat sangat biasa?" tanya Alfa.
"Memangnya siapa yang mau menggunakan gaun ini?" tanya Irene.
Menurutnya, pakaian sangat tergantung kepada pemakainya. Secantik apapun gaun jika tidak disesuaikan dengan karakter dan wajah pemakaianya, maka tidak akan bisa terlihat sempurna.
"Ini mau dipakai Nona Ruby Wijaya, kamu tahu?"
"Pernah tahu, sih. Kayanya dia belum lama keluar dari kampusnya."
__ADS_1
Irene mengingat sepertinya pernah melihat Ruby di tongkrongan Ares. Wanita cantik itu berasal dari kampus elit di kota mereka. Namun, sekarang sudah tidak pernah melihat Ruby menghampiri Ares dan teman-temannya lagi.
"Gaun ini dipesan khusus oleh Tuan Wijaya untuk putrinya itu. Katanya mau dipakai untuk menghadiri pesta di Hotel Samudra."
"Jadi, pestanya malam hari?" tanya Irene.
"Iya."
Irene mulai memperhatikan gaun tersebut secara seksama. "Ini terlalu sederhana untuk wanita secantik Ruby, Kak. Dibuat saja bagian roknya lebih tinggi di atas lutut supaya nanti bisa menampilkan kakinya yang jenjang," usul Irene.
"Sepertinya itu tidak akan cocok. Nona Ruby kalau dilihat dari tingkahnya terlihat agak tomboy. Tidak mungkin mau mengenakan gaun mini."
"Oh, begitu ...."
Irene kembali berpikir kembali. "Kalau begitu, kita buat panjang dress di bawah lutut sedikit dan bagian roknya dibuat mengembang. Walaupun tidak terbuka, tapi akan menampilkan kesan elegan."
"Boleh juga idemu," ucap Alfa.
"Bahannya pakai tulle saja, Kak. Di bagian pundak buat lengan kupu-kupu. Nanti diberikan juga aksesorisnya supaya bisa masuk pada bajunya. Untuk pinggangnya bisa diberikan payet supaya memberi kesan slim."
Irene dan Alfa masih berdiskusi membahas perombakan gaun yang akan dibuat. Mereka saling bertukar pikiran untuk menghasilkan karya yang bagus.
"Permisi ...."
"Oh, kamu sudah datang, Sovia. Duduklah dulu di luar, aku masih ada sedikit urusan dengan Irene," pinta Alfa.
"Oke." Sovia menurut dan meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa dia ada di sini, Kak?" tanya Irene.
"Dia kan salah satu model yang aku ajak untuk ikut pameran bulan depan. Hari ini mau membuatkan gaun yang pas dengannya. Kamu tidak masalah, kan?" tanya Alfa. Ia sedikit banyak tahu bahwa beberapa waktu lalu Irene sempat bermusuhan dengan kakaknya gara-gara Sovia. Ia juga lupa kalau jadwal kedatangan Sovia adalah hari ini.
"Tidak apa-apa, Kak, santai saja," ucap Irene. Padahal jauh di lubuk hatinya ia tetap kesal kepada wanita itu.
"Kalau begitu, aku mau ke lantai atas dulu mengambilkan beberapa gaun yang akan Sovia pakai. Kamu juga boleh istirahat dulu," ucap Alfa.
Irene hanya mengangguk.
Saat Alfa keluar, ternyata Sovia kembali masuk ke ruangan itu menghampiri Irene. Ia berpura-pura melihat gaun rancangan terbaru Alfa.
"Apa kabar hubunganmu dengan Alan?" pancing Sovia.
Irene paham jika wanita itu tengah sengaja memancing emosinya. "Kami baik-baik saja," jawab Irene datar.
Sovia tersenyum mengejek. "Minggu lalu kami baru saja bertemu di restoran. Apa Alan memberitahumu?" tanyanya.
__ADS_1
"Ya, dia memberitahuku," jawab Irene.
"Benarkah? Aku cukup terkejut." Sovia mengira Alan tidak akan berani menceritakan tentang pertemuan mereka. "Aku jadi tidak enak hati padamu. Alan bilang hanya terpaksa menerima pertunangan itu demi menghormati kakek. Dia sudah banyak bercerita padaku tentang perasaannya."
Sovia sengaja mengatakan hal itu untuk membuat hati Irene panas.
"Oh, begitu ...." Irene merespon dengan santai.
"Mungkin kamu akan sakit hati mendengarnya. Tapi, kemarin kami berkencan untuk pertama kali sekaligus memperbaiki hubungan," pamer Sovia.
"Kamu penderita paranoia, ya?" celetuk Irene.
"Apa?" Sovia langsung mematung.
"Apa yang kamu ucapkan seperti orang yang sedang mengalami delusi parah. Kamu tidak malu mengatakan omong kosong?" kata Irene. "Semua yang kamu ucapkan seperti skrip film yang hanya kamu pemainnya. Apa kamu puas menyampaikan khayalanmu itu padaku? Itu sama sekali tidak berpengaruh padaku." Irene terlihat cuek menanggapi Sovia.
"Hahaha ... Kamu akan menyesal kalau nantinya Alan benar-benar meninggalkanmu. Kami sudah berkencan di belakangmu, catat itu!" Sovia masih belum menyerah.
"Ya, lakukan saja. Aku juga ingin tahu bagaimana reaksi Kak Alan kalau sampai aku sampaikan jika kamu turut andil dengan rencana Miranda untuk membuat namaku buruk di sekolah," ancam Irene.
Sovia tak bisa berkutik. "Itu ulah sepupuku, aku tidak tahu menahu tentangnya!" kilahnya.
Irene tak menggubris ucapan Sovia. Ia kembali melakukan pekerjaannya untuk mengubah desain gaun yang hendak dibuat Alfa. Ia mengambil pensil dan krrtas menggambarkan desain yang ia sudah diskusikan dengan Alan sebelumnya.
Sovia keluar dari ruangan itu. Ia menemui salah seorang karyawan yang tengah menata koleksi gaun buatan Alfa.
"Hei, kemari sebentar!" panggil Sovia.
"Ada apa?" tanya karyawan tersebut dengan ramah.
"Kenapa dia bisa ada di tempat Kak Alfa? Dia sedang apa?" tanya Sovia heran. Orang seperti Irene menurutnya tidak berguna di sana.
"Oh, dia namanya Irene. Kata Kak Alfa dia calon kakak iparnya."
Sovia cukup terkejut mendengar ucapan karyawan itu.
"Dia juga desainer setahuku, beberapa kali datang ke sini membantu Kak Alfa."
"Benarkah?" tanya Sovia terkejut.
"Itu gaun yang dipajang di bagian display utama merupakan rancangan dari Irene. Bagus sekali, kan?"
Karyawan tersebut menunjuk pada satu gaun paling menonjol di area kaca display utama. Gaun tersebut merupakan gaun yang pernah Irene kenakan saat bertunangan.
Sovia mengepalkan tangannya. Ia tidak terima mengetahui Irene jauh lebih unggul dibandingkan dirinya.
__ADS_1