
"Aku datang, Kak!" Seru Irene saat tiba di butik milik Alfa.
"Oh, Irene. Terima kasih sudah mau datang." Wajah Alfa yang awalnya lesu jadi sedikit semangat melihat Irene ada di sana. "Kak Alan, terima kasih sudah mengantarkan Irene ke sini. Aku pinjam sebentar otaknya," ujar Alfa.
Alan hanya bisa memutar malas bola matanya. Ia sebenarnya berniat ingin mengajak Irene jalan-jalan setelah membali dari luar kota. Irene justru lebih memilih datang ke tempat adiknya.
"Kenapa lagi Kak Alfa memanggilku?" tanya Irene.
"Kamu pasti sudah tahu kan, apa yang terjadi di tempatku. Memang agak kacau akhir-akhir ini gara-gara kebakaran. Bukan hanya bahan-bahan yang terbakar, tapi beberapa desainku juga ikut terbakar."
Alfa masih bersyukur sebagian tempat kerjanya masih selamat. Akibat kejadian itu, ia dan tim perlu lebih kerja keras untuk mengurus fashion show juga mengurusi pesanan pelanggan yang sudah menumpuk.
"Kak Alfa dapat ganti rugi berapa dari Sovia?" tanya Irene.
"Halah! Boro-boro ganti rugi. Permintaan maaf saja tidak ada. Yang penting dia sudah aman di penjara mempertanggungjawabkan perbuatannya."
__ADS_1
"Hahaha ... Sabar ya, Kak!"
"Kesini, Ren! Aku ada satu masalah rancangan gaun pengantin. Bagaimana menurutmu?"
Alfa menunjukkan gaun pengantin yang tengah dirancangnya. Ia memperlihatkan kepada Irene.
"Orangnya sudah datang satu bulan yang lalu, sudah dilakukan pengukuran dan besok jadwalnya fitting. Karena banyak bahan yang terbakar, aku pusing sekali untuk menyelesaikannya. Belum lagi persiapan fashion show juga belum beres." Alfa memijit keningnya yang pusing.
Irene mengambil buku gambar desain milik Alfa yang tergeletak di meja. Ia mulai menuangkan desain yang ada di bayangannya.
"Bukan keduanya, sih. Mereka hanya karyawan perusahaan biasa. Tapi, jabatannya juga lumayan tinggi. Katanya mimpi mereka mengenakan gaun rancanganku."
"Semoga mereka tidak banyak protes. Aku tidak bisa membuat desain kalau belum tahu seperti apa yang akan memakainya. Aku buat bentuk dasarnya saja dan memberikan beberapa alternatif variasi kalau memang menurut mereka desainku sangat sederhana."
Alfa memperhatikan gambar yang Irene buat. Sesekali ia mendengarkan penjelasan yang Irene sampaikan kepadanya.
__ADS_1
"Gaya rancanganmu sangat mirip dengan Lily, Ren," kata Alfa.
Irene mengerutman dahi. "Lily? Siapa Lily?" tanyanya heran.
"Salah seorang perancang terkenal dari Inggris. Namanya Lily. Aku pernah melihat pameran desainnya," kata Alfa.
Irene terdiam. Ternyata yang Alfa maksud adalah butik tempat Irene dulu pernah ikut bekerja di sana. Bisa dikatakan jika memulai dunia di bidang mode dari sana. Lily merupakan nama teman baiknya. Mereka sama-sama mengambil kursus desain dan nekad membangun brand fashion mereka sendiri. Ternyata banyak yang meminati. Sayangnya, Irene harus kembali setelah menyelesaikan kuliahnya.
"Apa Kak Alfa akan mengatakan aku plagiat? Aku baru menggambar di sini, di hadapan Kakak, lho!" ujar Irene.
"Tidak, tidak ... Aku percaya padamu. Setiap orang kan punya ciri khas karya masing-masing. Anehnya, tangan kamu dan Lily seperti punya bakat yang sama.
"Jangan kamu meragukan Irene. Dia itu seperti batu kristal yang baru ditemukan. Dari luar kelihatan biasa, tapi di dalamnya banyak talenta," sahut Alan.
"Kenapa jadi dikaitkan dengan batu kristal? Kak Alan sedang kangen aktivitas berburu batu?" ledek Alfa.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya memberikan ilustrasi saja," bantah Alan.