Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 28: Bertemu Dosen


__ADS_3

Tok tok tok


Tidur Irene terusik akibat suara ketukan di depan pintunya. Padahal ini akhir pekan dan ia berencana untuk bermalas-malasan seharian di dalam kamar. Keluar dari kamarnya berarti harus memakai penyamarannya lagi, ia sudah tidak betah.


"Irene! Buka pintu!"


Mulai terdengar suara teriakan dari luar. Ia mencoba menutup telinganya dengan bantal. Matanya masih tidak mau terbuka saking mengantuknya karena acara semalam.


"Woy, Irene! Aku dobrak kalau masih belum mau buka pintu!"


"Sebentar!" teriak Irene.


Ancaman orang dari luar akhirnya mampu membangunkan Irene. Kepalanya masih terasa pusing. Ia berjalan sempoyongan mendekat ke arah pintu.


"Ada apa?"tanya Irene dengan nada yang ditinggikan supaya orang yang ada di depan pintu mendengar.


"Katanya mau minta diantar menemui dosen," ucap Ares.


Irene sampai lupa kalau hari ini ada janji dengan Ares untuk menemui dosennya, Pak Wibowo. Padahal ia sampai merayu-rayu agar Ares mau menemaninya. Penyebabnya Irene lupa belum mengumpulkan tugas yang diberikan, padahal Pak Wibowo orang yang sangat sulit ditemui.


"Iya, Res! Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu!" teriak Irene panik.


"Sepuluh menit tidak keluar, aku tinggal!" ancam Ares.


"Ah, sial!"


Irene segera berlari ke arah kamar mandi. Secepat kilat melepas semua pakaiannya dan mengguyur badannya dengan kucuran air shower. Sembari menunggu tubuhnya basah, ia menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Ia sapukan sabun ke seluruh tubuhnya dengan kilat dan membilasnya.


Lebih baik ia mandi ular daripada tidak mandi sama sekali. Meskipun pada akhirnya kulit cantiknya yang putih harus tertutupi oleh cat, setidaknya dengan mandi badannya bisa lebih segar.


Irene menyapukan skincare untuk menjaga kelembapan kulitnya. Sembari menunggu skincare meresap, ia mengenakan pakaian yang biasa dipakai oleh Irene. Ia memilih celana panjang dan kaos lengan panjang agar tidak terlalu banyak cat yang harus dikenakan.


Rambutnya dikuncir asal. Setelah memastikan tampilannya tidak mencurigakan, ia berlari ke arah pintu dan membukanya. Ares masih berdiri di depan pintu bersandar pada dinding dengan kedua tangan dilipat di dada.


"Gila, lama banget di kamar, dandan macam apa kayak jadi cantik aja," cemooh Ares saking kesalnya.

__ADS_1


Ia heran penampilan Irene yang seperti gembel saat keluar butuh waktu yang lama untuk dandan di dalam. Entah bagian mana yang diperbaiki sampai ia harus menunggu. Kalau keluar berubah jadi bidadari mungkin ia akan memakluminya.


"Maaf ya, aku juga sudah berusaha mandi secepat mungkin. Daki di tubuhku banyak, butuh waktu ekstra untuk menggosok," jawab Irene.


Ares langsung merinding mendengar kata daki yang dilontarkan oleh Irene. Tidak bisa terbayangkan kalau daki di tubuh wanita jelek itu dikerok mungkin bisa terkumpul satu kilo.


"Ya sudah! Ayo berangkat!" ajak Ares.


Irene berjalan membuntuti Ares. Saat melewati area ruang makan, ada Alex dan Arvy yang sedang sarapan di sana.


"Kalian mau kemana?" tanya Arvy.


"Si jelek ini mau ketemu dosen, Kak. Lupa ngumpulin tugas dia," jawab Ares.


"Siapa dosennya?" tanya Arvy lagi.


"Pak Wibowo."


"Wah, cari mati kamu, Ren!" seloroh Arvy. Ia tahu persis seperti apa dosen itu. Irene pasti akan dibuat susah oleh dosen tua itu.


"Tidak usah, Kak. Nanti saja di jalan daripada telat."


"Mending sarapan dulu, takutnya setelah bertemu Pak Budiman kamu jadi tidak bisa makan," sahut Arvy.


"Tuh, dengarkan Kak Arvy yang sudah berpengalaman dengan Pak Wibowo. Sarapan dulu, biar tidak menyesal kalau diomeli habis-habisan oleh Pak Budiman."


"Aku sudah biasa mendengarkan orang mengomel, jadi santai saja, Ares." Irene mengembangkan senyumannya.


Ares merasa terganggu dengan senyuman itu, seakan menyindirnya kalau ia sering mengomeli wanita itu. "Terserah kalau begitu!"


Ares sudah tak peduli lagi dengan nasib Irene nanti. Tugasnya hanya menemani Irene menemui Pak Wibowo. Selebihnya, biar wanita itu yang merasakan akibat dari kelalaiannya.


Sesampainya di depan sebuah rumah makan, Ares menghentikan mobilnya. Irene tampak keheranan mereka berhenti di sana, bukan di rumah Pak Budiman. "Kenapa kita berhenti di sini?" tanyanya.


"Katanya mau bertemu Pak Wibowo, sana cepat masuk ke dalam! Aku mau tunggu di luar saja." Alasan Ares tidak mau ikut masuk sebenarnya karena takut ikut kena marah Pak Wibowo.

__ADS_1


"Memangnya Pak Wibowo sedang makan di warung ini?" tanya Irene dengan polosnya.


Ares terlihat menahan tawa. Ia butuh waktu beberapa detik untuk menetralkan ekspresi wajahnya. "Pak Wibowo tinggal di sini, kamu baru tahu, kan?"


Irene menatap ke arah warung yang ada di hadapannya. Ukurannya tidak terlalu besar. Kalau dipikir-pikir, tidak mungkin seorang dosen dari kampusnya tinggal di tempat seperti itu. Dosen di kampus swasta unggulan pastilah gajinya juga besar.


"Kamu mau menipuku, ya?" Irene melirik tajam ke arah Ares. Bisa jadi ia ingin mengerjainya.


"Aku serius, ini tempat tinggal Pak Wibowo. Tempat terbaik untuk menemuinya, karena semarah apapun Beliau, jika kamu menemuinya di sini, setidaknya kamu tidak akan diberi nilai D."


Irene masih belum sepenuhnya percaya dengan lelaki tengil macam Ares. Tapi, sudah jauh-jauh juga dia datang ke sana. Jika tidak mencoba bertemu sendiri, akan sia-sia baginya. Apalagi dia belum sarapan.


"Ya sudah, aku masuk. Awas kalau kamu bohong, kita akan bermusuhan!" ancam Irene seraya membuka pintu sampingnya.


"Memangnya kapan aku mengajakmu berteman? Dasar jelek!" ejek Ares.


Irene berjalan melangkah mendekati arah warung sederhana itu membawa tugas miliknya. Tidak banyak orang mampir untuk makan di sana. Pegawai yang bekerja di sana hanya ada dua orang wanita paruh baya.


"Permisi, Bu. Apa benar Pak Wibowo tinggal di sini?" tanya Irene dengan nada sopan.


Kedua wanita itu tampak berbisik-bisik.


"Kamu siapa?" tanya salah satu ibu-ibu.


"Saya Irene, salah satu mahasiswa Pak Wibowo," jawab Irene.


Kedua wanita itu kembali berbisik bisik.


"Tunggu sebentar, ya. Silakan duduk dulu biar saya panggilkan."


Salah seorang ibu-ibu itu melepaskan celemeknya dan masuk ke dalam. Sementar, ibu-ibu yang satunya melayani pesanan pelanggan yang baru masuk. Irene memilih duduk di bangku pojokan menunggu Pak Wibowo keluar.


Sembari menunggu, ia arahkan pandangan menelisik setiap sudut warung sederhana itu. Terbilang sangat sederhana karena pemiliknya adalah seorang dosen. Irene juga penasaran kenapa Ares bilang lebih baik menemui Pak Wibowo di sana daripada menunggunya datang ke kampus.


Memang, Irene sudah sering mendengar bahwa Pak Wibowo dosen yang pelit nilai. Ia tak segan-segan memberi nilai D atau E bagi mahasiswanya yang malas atau suka melawannya. Kali ini, ia akan membuktikan sendiri seberapa galak Pak Wibowo kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2