
"Selamat datang," seorang pelayan menyambut kedatangan Alan dan Irene ketika mereka tiba di aula utama kapal pesiar, tempat keluarga Sovia mengadakan pesta.
Perjamuan yang diadakan untuk merayakan ulang tahun paman Sovia tersebut terlihat meriah. Ada banyak orang-orang penting yang hadir di sana.
Alan sedikit terkejut saat lengannya tiba-tiba diraih Irene. Wanita itu menggandengnya. Beberapa saat pandangan mereka bertemu. Irene hanya mengulaskan senyum kepadanya.
"Tidak boleh ya, aku begini?" tanya Irene karena ia telah menggandeng Alan tanpa izin.
"Siapa yang melarang? Kita memang datang berdua, kan?" jawab Alan pura-pura tenang. Padahal debaran jantungnya terasa lebih cepat saat tangan kecil Irene merengkuh lengannya.
"Sejak tadi wajahmu kelihatan suram, Kak. Itu jelas sekali. Orang yang melihat nanti mengira kamu sedang ada masalah berat," sindir Irene.
Alan tertawa kecil. "Benarkah? Kamu sebegitu detilnya memberikan perhatian. Bahkan aku sendiri tidak tahu seperti apa ekspresi wajahku sekarang."
"Masa hanya gara-gara mau ketemu mantan sampai gundah gulana, jangan-jangan belum bisa move on!" Irene kembali menyindir Alan.
"Hahaha ... Belum move on? Aku hanya malas saja bertemu dengannya lagi. Soalnya dia yang masih mengejar-ngejar aku!" Alan menjawabnya dengan sedikit menyombongkan diri.
Irene memanyunkan bibirnya. "Kalau begitu, ayo kita masuk! Sudah jauh-jauh setidaknya kita cicipi makanan, kan?" ajaknya.
"Oh, jadi ini alasannya kamu tidak mau makan malam di rumah sebelum berangkat? Mau makan banyak di sini?" Alan geleng-geleng kepala menebak isi kepala Irene.
"Apa salahnya? Keluarga Sovia punya cukup uang kan untuk mengadakan pesta ini? Sepertinya dia juga masih punya banyak simpanan yang hasil pacaran dengan Kakak!" Irene kembali meledek Alan.
Alan yang agak kesal menjitak kepala Irene. "Berhenti membahas hal itu lagi!" pintanya.
"Maaf, maaf ...."
Keduanya akhirnya mengakhiri obrolan dan kembali berjalan memasuki aula utama. Beberapa orang menyapa saat bertemu Alan. Sepertinya setiap orang yang melihat mereka memberikan tatapan aneh.
Irene sudah terbiasa dengan hal tersebut. Meskipun hanya merubah warna kulit, pandangan orang terhadapnya bisa jauh berbeda. Seakan kecantikan hanya dimiliki oleh mereka yang berkulit putih.
"Apa aku sangat jelek malam ini?" tanya Irene dengan nada lirih.
__ADS_1
"Tidak. Memangnya kenapa?" tanya Alan heran.
"Kayaknya orang-orang tidak suka melihatku," kata Irene.
"Memangnya kamu harus peduli? Katanya kamu mau datang karena ingin makan, bukan untuk menggoda orang, kan?" jawab Alan.
"Hahaha ... Iya juga, ya! Kenapa aku harus peduli." Irene tertawa dengan jawaban Alan. "Tapi, Kak Alan masih bisa santai jalan dengan aku? Kalau pamornya turun bagaimana?"
"Aku malah senang. Ada kamu jadi tidak ada yang ajak bicara panjang lebar. Kayaknya kamu cocok diajak untuk nakut-nakutin orang!" canda Alan.
Irene kembali memanyunkan bibirnya karena kesal. Sementara, Alan terlihat puas dengan ekspresi yang Irene tampilkan.
"Hai, Alan!" dengan tampilan manisnya, Sovia datang menghampiri Alan. Ia terlihat berbunga-bunga dengan kejadiran Alan di sana.
Alan menghela napas dan mencoba membuang muka. Rasanya muak setiap kali harus bertemu dengan Sovia. Bukan karena ia masih mencintai wanita itu, tetapi karena menyebalkan dengan wanita yang telah berbuat salah namun tetap bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
"Halo, Sovia," sapa Irene karena Alan tak mau menyapa wanita itu.
Bukannya senang disapa, Sovia terkesan jijik dengan sapaan yang Irene berikan. Ia tak mempedulikan keberadaan Irene.
"Maaf, aku tidak bisa." jawab Alan tegas.
"Dia ... Boleh ikut, kok!" kata Sovia merujuk pada Irene. Asalkan bisa bersama Alan, jika Irene ikut juga bukan masalah untuk Sovia.
"Ada banyak orang yang harus aku temui!" sekali lagi Alan menolak tegas.
Senyuman di bibir Sovia menjadi kaku. Ia merasa direndahkan dengan penolakan Alan. Namun, ia merasa harus tetap menjaga sikapnya.
"Ah, Irene. Kebetulan sekali nanti ada lomba dress up dengan hadiah yang lumayan sebagai program bakti sosial ke panti asuhan. Kamu berminat ikut?" Sovia yang awalnya cuek kini lebih ramah kepada Irene.
Mendengar ada acara untuk bakti sosial, Irene tidak enak menolak meskipun ia sama sekali tidak berminat. "Ya, bolehlah nanti aku ikut," kata Irene.
Sovia mengembangkan senyum. "Baiklah kalau begitu, kita temui pamanku dulu!" ajak Sovia.
__ADS_1
Irene agak bingung karena ia kira yang berulang tahun adalah ayah Sovia, namun ternyata pamannya.
"Paman! Alan sudah datang!" seru Sovia dengan semangat.
Sang paman yang tadinya sedang sibuk berbicara dengan rekan bisnisnya langsung mengakhiri pembicaraan dan menyambut Alan.
"Oh, perwakilan keluarga Narendra sudah datang rupanya," kata Pak Brata.
"Selamat ulang tahun, Pak Brata. Semoga panjang umur dan sehat selalu," ucap Alan seraya menjabat tangan.
"Hahaha ... Terima kasih atas kehadirannya. Padahal aku berharap kakekmu juga bisa datang. Oh, iya. Ini siapa?" pandangan Brata beralih pada Irene.
"Dia ...."
"Sepupu jauh Alan, Paman!" sahut Sovia sebelum Alan menyelesaikan perkataannya.
"Oh, begitu. Ya, ya, ya ...." Pak Brata hanya mengangguk-angguk. "Aku sangat marah sekali pada Sovia waktu dia bilang kalian sudah putus. Sovia memang masih kekanak-kanakkan dan pasti membuat kesalahan yang membuatmu kesal sampai memutuskannya, Alan. Tapi, aku berharap kalian bisa berbaikan lagi. Aku rasa Sovia juga sudah menyesali kesalahannya," katanya.
Sovia senyum-senyum dibela pamannya. Sementara, Alan hanya terdiam tak bisa menjawab ucapan tersebut. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Pak Brata.
"Pak Brata ...."
Ada tamu lain yang datang hendak menyapa paman Sovia. Alan merasa memiliki kesempatan untuk pergi dari sana.
"Ah, maaf, Pak Brata. Saya mau menemui teman saya. Anda juga sepertinya sibuk menyapa banyak tamu," kata Alan.
Sovia berubah cemberut akan ditinggalkan Alan.
"Oh, ya, Alan. Terima kasih. Silakan nikmati acarannya. Jangan buru-buru pulang, ya! Kita juga harus banyak bicara nanti," kata Pak Brata.
Alan hanya menjawab dengan senyuman. Ia menarik tangan Irene agar pergi bersamanya dari sana.
"Itu pamannya Sovia, ya? Bukan ayahnya?" tanya Irene.
__ADS_1
"Iya. Itu pamannya, tapi sudah dianggap seperti ayahnya sendiri."