Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 225: Pesta Pernikahan Violet


__ADS_3

"Ayo turun!" pinta Alan.


Ia sudah membukakan pintu mobilnya agar Irene bisa mudah keluar dari sana dengan mudah. Namun, wanitanya terlihat ragu untuk turun dari mobil itu.


"Irene," panggil Alan.


Sebenarnya Irene sudah tidak mau ikut ke acara pernikahan Violet dan Jimmy bersama Alan. Namun, kata Alan ia harus memegang perkataannya untuk datang ke sana.


Irene hanya sedang merasa kurang percaya diri. Ia sudah benar-benar jatuh cinta kepada Alan dan tak ingin membuat nama lelaki itu menjadi buruk di hadapan orang lain karena penampilannya.


Irene belum memiliki keberanian untuk berterus terang tentang siapa dirinya yang sebenarnya. Ia juga ingin tampil secantik mungkin agar bisa berdiri dengan tegak di samping Alan.


Meskipun lelaki itu tak mempermasalahkan seperti apa dirinya, terkadang ia juga peduli pada penilaina orang.


"Kak Alan saja yang masuk. Aku menunggu di luar saja," ucap Irene.


Alan menghela napas. "Ayo, setidaknya kita datang sebentar lalu pulang!" paksanya.


Ia menarik paksa tangan Irene agar keluar dari mobilnya. Ia mengunci mobil agar Irene tak bisa lagi masuk ke dalam.


"Gandeng tanganku dengan mesra!" perintah Alan.


Irene langsung menggandeng lengan Alan.


Alan berjalan dengan percaya diri membawa Irene bersamanya. Tapi, wanita yang menggandengnya justru menundukkan kepala.


Kehadiran mereka langsung menarik perhatian. Selain dengan Sovia, Alan tak pernah terlihat membawa wanita lain ke sebuah acara pesta. Apalagi wanita yang Alan bawa kali ini wajahnya biasa-biasa saja bahkan termasuk di bawah standar.


"Oh, Alan! Akhirnya kamu datang!" seru Jimmy senang.

__ADS_1


Irene dan Alan berjalan menghampiri calon mempelai lelaki yang tengah berbicara dengan beberap teman-temannya.


"Selamat ya, Jim," ucap Alan.


"Terima kasih." Jimmy menjabat tangan Alan. "Irene, terima kasih juga sudah datang." ia juga bersalaman dengan Irene.


Irene membalasnya dengan senyuman.


"Pakaianku hari ini merupakan karya Irene, gaun pengantin Violet juga. Kalau kalian mau menikah, bisa hubungi Alfa. Irene bekerja di sana." Jimmy mempromosikan desainer gaun pengantinnya. Mereka memang terpukau dengan hasil jahitan pakaian yang terlihat sangat rapi dan mewah itu.


Alan memeluk pinggang Irene dengan mesra di hadapan mereka. "Sebenarnya Irene ini calon istriku, dia hanya membantu di tempat adikku. Dia masih kuliah, jadi sepertinya tidak akan bisa menerima pesanan gaun yang banyak," ucap Alan.


Irene sampai melebarkan mata mendengar Alan sangat lantang menyebutkan dirinya yang sebenarnya. Mereka yang mendengar juga sama-sama tercengang dengan pengakuan Alan. Seakan mereka mau berkata tidak mungkin Alan menyukai wanita seperti dirinya.


"Kami harap juga bisa melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat seperti kalian," kata Alan.


"Boleh aku menemui mempelai wanita?" tanya Irene.


"Oh, iya. Violet masih ada di ruang ganti," kata Jimmy.


"Kak, aku ke sana dulu, ya!" pamit Irene seraya melepaskan tangan Alan darinya.


"Baiklah, kalau sudah selesai, cepat kembali. Aku menunggumu di sini," kata Alan sembari mencium kening Irene di hadapan mereka semua.


"Lan, benar itu calon istrimu? Aku kira kamu masih dengan Sovia."


"Tidak, kami sudah putus lama. Dia juga sudah bersama Jonathan. Calon istriku hanya Irene."


"Aku sampai tidak bisa berkata-kata, Lan. Yang benar saja calon istrimu seperti itu."

__ADS_1


Sayup-sayup Irene masih bisa mendengar suara percakapan Alan dengan teman-temannya


Irene berjalan menuju ke arah ruang ganti pengantin wanita yang ditunjukkan oleh Jimmy.


Tok tok tok


Irene mengetuk pintu.


"Masuk!"


Ketika terdengar suara dari dalam sana yang mengijinkan dirinya masuk, Irene membuka pintu dan melihat Violet ada di sana mengenakan gaun pengantin rancangannya. Violet tersenyum saat melihat kehadirannya di sana.


"Masuk, Ren!" kata Violet antusias.


Irene melangkah masuk. Ia mengucapkan selamat dan memeluk wanita itu.


"Siapa itu, Vi?" seorang wanita baru saja keluar dari arah toilet.


"Ta, ini Irene yang aku ceritakan kemarin," kata Violet.


"Oh, Irene yang membuatkan bajumu ini, ya?" tanya Talia.


"Iya, aku Irene."


Irene mengulurkan tangannya menjabat tangan Talian.


"Aku Talia. Gaun rancanganmu sangat bagus. Kalau aku nenikah, tolong buatkan gaun yang bagus juga, ya!"


Irene hanya tersenyum kaku mendengar permintaan itu. Sejujurnya membuat gaun bagi Irene memang sangat menyenangkan. Namun, tidak menyenangkan lagi ketika ia menjadi memiliki semacam kewajiban terhadap sesuatu yang hanya dianggap hobi.

__ADS_1


__ADS_2