
"Alex, kamu sudah gila, ya! Lepaskan aku!" pinta Erika.
Alex tak menggubris perkataan Erika. Ia terus membawa wanita itu berlari bersamanya. Sampai tiba di tempat parkir, ia memaksa Erika masuk ke dalam mobilnya. Ia segera menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya.
"Alex, turunkan aku!" pinta Erika. Ia melihat Edward yang telah sampai di sana namun terlambat.
"Aku butuh bicara berdua denganmu," kata Alex seraya terus fokus pada kemudinya.
Erika benar-benar tidak bisa memahami sikap lelaki itu. Ia terdiam dan menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil.
Dalam kegelapan malam yang menyelimuti pantai yang sepi, Alex menepikan mobilnya di tepi jalan. Ombak yang tenang menghantam pantai dengan suara lembut, menciptakan suasana yang seakan-akan melukiskan keheningan hatinya. Dalam kegelisahan yang membara, dia merasakan keharuan di dalam dirinya.
Erika duduk di sampingnya, wajahnya penuh dengan amarah dan ketidakpuasan. Dia memandang Alex dengan pandangan tajam, menuntut penjelasan yang seakan-akan tak dapat ia terima.
"Kenapa kamu membawa aku kesini? Aku harus kembali pada Edward! Aku tidak enak hati meninggalkan calon suamiku seperti ini!" keluhnya.
Alex menelan ludah, merasakan tekanan di dadanya semakin membesar. Dia menggenggam kemudi dengan erat, mencari keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.
"Erika, aku mencintaimu."
Erika terdiam sejenak, matanya memandang Alex dengan keheranan. Dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Tawa kecil menggelitik bibirnya, mengungkapkan betapa tidak masuk akalnya pernyataan itu.
__ADS_1
"Hahaha! Kamu bercanda, kan? Sejak kapan kita menjadi lebih dari sekadar sahabat?"
Kejadian tadi siang masih membekas di hati Erika. Ia bahkan telah menangis gara-gara cintanya yang bertepuk sebelah tangan oleh lelaki itu.
Alex menatap Erika dengan mata yang penuh keikhlasan. Dia merasakan keberanian yang tumbuh di dalam dirinya, karena tak ingin lagi menyimpan rahasia perasaan yang terpendam begitu lama.
"Mungkin aku selalu menganggapmu sebagai sahabat, tetapi perasaanku telah berkembang menjadi lebih dari itu. Aku menyadari betapa berartinya dirimu bagiku. Aku mencintaimu, Erika."
Erika masih terkejut, mencoba mencerna semua yang baru saja dia dengar. Kejutan dan keraguan bermain di wajahnya. Dia menatap ke arah samudera yang gelap, merenungkan kata-kata yang telah diucapkan Alex. Seakan lelaki itu telah mempermainkan hatinya. Begitu mudah lelaki itu menghancurkan dirinya yang tengah berusaha untuk move on dari perasaannya.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Kamu sungguh-sungguh keterlaluan," ujar Erika.
"Maafkan aku, aku telat menyadarinya," kata Alex dengan tatapan penuh harapan.
Erika melepaskan tangan Alex darinya. Ia sudah terlanjur kecewa, tetapi dia merasakan getaran yang tak terduga di dalam dirinya. Hatinya berdebar kencang, menghadapi perasaan yang baru dan mengubah segalanya.
"Erika ...." panggil Alex.
"Aku sudah sering memberimu kesempatan, Lex. Tadi siang terakhir kali aku katakan itu padamu. Aku mau menikah dengan Edward," kata Erika dengan tegas.
Darah Alex terasa semakin memanas. Secara tiba-tiba ia menarik tangan Erika dan meraih tengkuknya. Ia mencium wanita itu dengan paksa.
__ADS_1
Erika berusaha melepaskan diri, namun Alex tetap menciuminya secara agresif. Entah mengapa lambat laun ia melunak dan turut membalas ciuman itu.
Air matanya menetes saat bibir mereka bertemu. Erika tak memahami perasaannya sendiri saat ini.
Keduanya berpelukan. Erika menangis sesenggukkan. "Alex, kenapa kamu sangat jahat!" kesalnya.
"Maafkan aku," kata Alex. Hanya kata itu yang bisa ia katakan.
Alex memang selalu memungkiri perasaannya. Ia menganggap hubungan mereka sebatas sahabat saja. Namun, ketika melihat kedekatan Erika dengan lelaki lain, ia merasa sangat tidak rela.
Keduanya turun dari mobil, duduk bersebelahan di atas pasir pantai memandangi lautan yang gelap. Di sana hanya ada temaram cahaya lampu jalanan. Suasananya sangat sepi. Erika menyandarkan kepalanya di bahu Alex.
"Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan semua ini?" tanya Erika. Ia bingung untuk menjelaskannya kepada Edward.
"Biar aku yang menghadapinya. Aku akan menemui orang tuamu juga tunanganmu kalau perlu," kata Alex menenangkan. Ia siap menjadi tameng bagi Erika.
"Kamu akan dimarahi habis-habisan, Alex. Pernikahanku sudah siap dan tinggal dilaksanakan," ucap Erika.
"Itu tidak perlu kamu pikirkan. Aku yang akan menanggung semuanya."
Alex meraih wajah Erika kepadanya. Ia pandangis sosok yang selama ini sangat berarti untuknya. Dengan romantis ia kembali mengecup bibir Erika. Ia benar-benar tidak bisa kehilangan dirinya.
__ADS_1