
Irene terbangun dengan kepala yang pusing dan perasaan yang tidak enak. Ia merasa terbaring di tempat yang asing dan terdengar suara bising di sekitarnya. Irene mengambil waktu sejenak untuk menyesuaikan pandangannya dan menyadari bahwa ia berada di sebuah kamar yang sangat berbeda dengan kamar yang sebelumnya ia tempati.
Saat ingatan Irene kembali, ia mengingat kejadian yang membuatnya terbaring di kamar asing ini. Irene mengingat bagaimana ia dipaksa menikahi Hamish, seorang lelaki yang tidak dicintainya. Gaun pengantin, pendeta, janji suci, dan ciuman yang ia lakukan masih terbayang dengan jelas. Irene merasa frustasi dan tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba, Irene mendengar suara seseorang di luar kamar. Ia perlahan-lahan bangkit dari tempat tidurnya dan menyelinap ke pintu untuk mendengarkan apa yang dibicarakan orang tersebut. Ternyata, itu adalah Hamish yang tengah berbicara dengan anak buahnya.
"Mereka sudah lenyap, kita tidak bisa mengandalkan mereka lagi," ujar Hamish dengan suara yang mengancam.
"Apa perlu kita mengirimkan orang lagi ke sana?" tanya anak buah Hamish.
"Tidak perlu! Sekarang Irene sudah menjadi milikku. Jadi, meskipun kakek dan nenek tidak ada yang menjaga lagi, itu tidak menjadi soal. Jangan beritahukan ini pada Irene!"
"Baik, Tuan."
Setelah mendengar percakapan tersebut, Irene merasa kesal dan ingin segera kabur dari situ. Ia merasa tidak ada lagi yang bisa digunakan untuk mengancamnya. Kakek dan neneknya sudah bebas dari tekanan Hamish. Namun, saat akan mengendap-endap kabur, Irene ketahuan oleh Hamish.
"Irene, kamu mau ke mana?" tanya Hamish dengan suara kasar.
"Aku ingin pergi dari sini," jawab Irene dengan suara tegas bercampur amarah.
"Tidak akan pernah terjadi. Kamu adalah milikku sekarang, kita sudah resmi menikah," balas Hamish dengan suara serak.
Irene menggelengkan kepala. "Tapi kamu tahu bahwa aku tidak pernah setuju untuk menikah denganmu. Kamu memaksa dan memanipulasi aku untuk menikah denganmu!" kekesalan Irene semakin bertambah.
Hamish menyeringai. "Itu sudah lewat, Irene. Sekarang kamu sudah menjadi istriku dan aku adalah suamimu. Kau harus memenuhi kewajibanmu sebagai istriku. Tidak ada alasan yang lain lagi."
"Tapi bagaimana bisa kamu menuntut aku untuk menjadi istrimu? Kamu tahu betapa aku tidak bahagia dan tidak ingin menikah denganmu. Aku tidak akan pernah mengakui bahwa kita benar-benar menikah!" Irene melayangkan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Apapun itu, intinya kita sudah menikah, Irene. Kita sudah melalui upacara pernikahan dan telah menandatangani surat nikah."
"Itu semua terjadi karena kau memaksa aku untuk menandatangani surat nikah. Aku tidak pernah mau menikah denganmu, dan kamu tahu itu!" Irene tetap bersikeras pada pendapatnya.
Hamish mendekat ke arah Irene dan memegang erat tangannya. "Tapi kamu sudah menikah dengan aku, Irene. Kamu tidak bisa hanya kabur dan meninggalkanku begitu saja. Kita harus menyelesaikan masalah ini bersama-sama."
"Aku tidak akan pernah mengakui pernikahan kita, Kak. Aku akan kabur dari sini dan mencari cara untuk mengakhiri ini. Aku tidak mau menjadi istri dari seseorang yang tidak aku cintai!"
Plak!
Hamish memberikan satu tamparan di wajah Irene. Ia kesal wanita itu terus membantahnya.
"Kamu harus tetap bersamaku. Kamu tidak bisa meninggalkanku begitu saja. Kita harus mencari cara untuk menjalani pernikahan kita dengan bahagia," ucap Hamish.
Perdebatan mereka semakin memanas dan Irene tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia merasa terjebak dalam situasi yang tidak ia inginkan dan merasa tidak ada jalan keluar.
"Hamish!" teriak Virgo. "Kamu sudah merusak hidupku dan sekarang kamu harus membayar harga yang pantas!" umpatnya.
Hamish dan Irene terkejut melihat Virgo masuk ke dalam kamar mereka. Hamish langsung menyadari bahwa situasinya sangat berbahaya dan ia harus segera bertindak.
"Sudahlah, Virgo," ujarnya sambil berdiri. "Kita bisa bicarakan masalah ini dengan tenang. Tidak perlu ada pertumpahan darah di sini." Hamis berusaha menyelesaikan masalah itu dengan damai. Ia tidak ingin Irene dalam bahaya.
"Tidak, Hamish!" jawab Virgo dengan tegas. "Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan. Kamu harus membayar atas semua kesalahanmu!"
Mereka bertiga berada dalam keadaan yang tegang, dan tak lama kemudian, pertempuran hebat pun pecah. Hamish berjuang dengan sisa-sisa kemampuan yang ia miliki, tetapi jumlah orang yang datang bersama Virgo sangatlah banyak. Irene turut membantu mengatasi satu persatu dari mereka bersama Hamish.
"Irene, jangan sampai terluka!" ucap Hamish.
__ADS_1
Meskipun keduanya tengah bermusuhan, namun mereka kompak dalam menghadapi lawan. Satu persatu musuh mereka hajar bedua.
Pertempuran berlangsung sangat sengit dan tak terelakan lagi. Ada suara benturan benda keras, suara teriakan, dan juga suara hentakan kaki yang menunjukkan bahwa orang-orang Virgo sedang mencari-cari orang di dalam rumah tersebut. Hamish berjuang habis-habisan melawan Virgo dan anggota organisasinya. Ia terus bertarung dan menunjukkan ketangguhannya, meskipun dalam hatinya ia sangat takut kehilangan Irene.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berhasil mengalahkan Virgo dan anggota organisasinya yang datang bersamanya. Tapi, mereka tak bisa berlama-lama di kamar tersebut. Mereka harus segera melarikan diri sebelum ada orang lain yang datang.
"Irene, kita harus pergi sekarang!"
Hamish memerintahkan Irene untuk segera pergi dan menyuruh pengawalnya untuk menyediakan mobil agar mereka bisa pergi dari tempat tersebut dengan cepat. Setelah menunggu beberapa menit, mobil pengawalnya tiba. Hamish dan Irene segera berlari ke mobil dan melarikan diri dari tempat itu.
Mereka tak tahu harus pergi ke mana. Hamish ingin membawa Irene ke tempat yang aman. Ia merasa bahwa ia tidak bisa membiarkan Irene berada dalam bahaya lagi setelah kejadian yang baru saja terjadi.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi ke tempat persembunyian yang sudah disiapkan oleh Hamish sebelumnya. Meski begitu, Irene masih sangat takut dan merasa khawatir bahwa masalah ini belum berakhir dan akan terus menghantui mereka di masa depan.
Di perjalanan ke tempat persembunyian yang sudah disiapkan oleh Hamish, mobil yang membawa mereka tiba-tiba dikejar oleh beberapa orang anak buah Virgo yang belum berhasil dikalahkan. Mobil tersebut terus dikejar hingga akhirnya terkena tembakan dan berhenti.
"Ah, sial!" pekik Hamish kesal.
Hamish dan Irene yang masih berada di dalam mobil terkejut dan panik. Mereka tahu bahwa ini adalah saat yang sangat berbahaya. Hamish segera mengeluarkan senjata yang ia bawa dan berusaha mempertahankan diri dari serangan para anak buah Virgo.
"Kamu bisa memakai senjata?" tanya Hamish pada Irene.
Tanpa banyak berkata-kata, Irene merebut pistol dari tangan Hamish. Sementara, Hamish mengambil senjata lainnya.
Terjadi baku tembak yang sangat sengit antara Hamish dan para anak buah Virgo. Irene hanya bisa bersembunyi di dalam mobil dan berdoa agar Hamish bisa selamat dari pertempuran tersebut. Namun, di tengah-tengah pertempuran, Hamish tiba-tiba tertembus peluru di dadanya.
"Ah!" pekik Hamish.
__ADS_1
"Kak Hamish!" teriak Irene.