Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 26: Tuntutan Tanggung Jawab


__ADS_3

"Kalau begitu, aku pulang dulu, ya ...." pamit Alan setelah mengantar Sovia pulang ke apartemennya.


"Jangan ... aku masih kangen." Sovia tak mau melepaskan pelukannya. Ia tak rela Alan pulang meninggalkannya sendiri.


"Besok aku harus bekerja."


"Menginap saja di sini, aku masih ingin bersamamu. Jarang-jarang kita bisa bersama." Mengingat kesibukan keduanya, mereka memang sangat jarang bertemu. Apalagi jika Sovia harus melakukan pekerjaan di luar kota atau bahkan di luar negeri, semakin sulit untuk mereka bertemu.


Sovia naik ke atas pangkuan Alan, meletakkan kedua tangan di bahunya sembari menatap penuh cinta. Ia bangga memiliki kekasih yang tampan dan perhatian padanya. Uang yang berlimpah selalu ia dapatkan dengan mudah dari lelaki itu. Wanita manapun pasti tidak akan melepaskan lelaki seperti Alan.


Tatapannya semakin turun menuju bibir yang dikelilingi oleh kumis dan jambang halusnya. Sungguh bibir yang menggoda sampai ia tak sabar mendaratkan bibirnya di sana. Namun, ketika ia hampir menempelkan bibirnya, Alan memalingkan wajah seakan menolak keinginannya.


Sovia agak kecewa. Ia yang sangat ingin bermanja dan bermesraan dengan kekasihnya sendiri justru tak mendapat sambutan baik. Alan tak sehangat dulu.


"Sebenarnya kamu kenapa? Apa ada wanita lain yang sedang menarik perhatianmu sampai untuk berciuman denganku kamu tak mau?" protes Sovia.


"Tidak ada, Sovia. Aku hanya sedang tidak ingin saja."


"Jangan bilang kalau ini juga karena Irene ...." Sovia sudah memasang wajah masamnya menyebutkan satu nama itu.


Alan tercengang sampai ingin tertawa. Bisa-bisanya Sovia membawa-bawa nama Irene pada situasi semacam ini. "Kamu sudah gila, Sovia. Bisa-bisanya karena Irene."


"Sejak kamu dijodohkan, sikapmu banyak berubah. Apa aku punya salah? Kita juga biasa selalu mesra," rengek Sovia.

__ADS_1


Alan terdiam sejenak. "Maafkan aku, mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai kurang memperhatikanmu." Diraihnya tengkuk Sovia seraya melvmat bibir wanita itu dengan lembut.


Sovia memejamkan mata menikmati setiap sapuan bibir tebal itu pada bibirnya. Gesekkan bulu-bulu di wajahnya memberikan sensasi rasa geli yang semakin membuat Sovia ingin memperdalam ciumannya. Momen-momen seperti inilah yang selalu ia rindukan, ketika dekapan tangan kokoh itu mampu menghadirkan kehangatan dalam dirinya.


"Sovia, cukup." Alan menyudahi ciumannya. Ia menahan tangan Sovia yang sudah nakal mendarat pada area terlarang miliknya. Inilah yang membuat Alan tidak menyukai bermesraan dengan Sovia. Wanita itu pasti menginginkan hal lebih dari sekedar ciuman.


"Tapi punyamu sudah membesar, Alan," ucap Sovia tanpa rasa bersalah.


"Ini hal wajar untuk lelaki, Sovia. Sentuhan sedikit saja bisa membangunkannya. Tapi, bukan berarti aku mau melakukannya." Alan menyingkirkan tangan Sovia. Ia juga mengangkat tubuh wanita itu dan memindahkan ke sebelahnya.


Sovia menghela napas. Lagi-lagi ia gagal untuk mengajak Alan menikmati kesenangan malam yang memabukkan. Alan seperti lelaki sok suci yang tidak tertarik dengan kebebasan dunia di perkotaan.


"Kita sudah sama-sama dewasa. Melakukan hal semacam itu bukanlah suatu kesalahan asal kita tetap bertanggung jawab."


"Lagipula ... kita juga pernah melakukannya. Apa bedanya jika kita melakukannya lagi?"


Ucapan Sovia mengingatkan Alan akan masa lalunya. Jika diingat kembali, ia merasa sangat menyesal. Secara tidak sengaja, Alan meniduri Sovia dalam kondisi mabuk di suatu acara. Ia tidak bisa mengingat secara pasti kejadiannya, saat terbangun, dirinya sudah dalam kondisi tak berbusana bersama Sovia.


Hal yang lebih mengejutkan, ada noda darah yang membekas pada sprei. Ia telah merenggut kehormatan kekasihnya sendiri. Kala itu, Sovia juga menangis tersedu-sedu, membuat Alan kian merasa bersalah. Pada saat yang sama, Alan berjanji tidak akan meninggalkan Sovia. Ia akan bertanggung jawab dengan apa yang telah diperbuatnya.


"Aku sudah tidak p3rawan lagi, Alan ... tidak akan ada yang mau denganku jika kamu meninggalkan aku." Mata Sovia berkaca-kaca.


Alan menarik Sovia ke dalam pelukannya. Saat Sovia memelas dan mengingatkannya pada masa lalu, hatinya selalu luluh. Meskipun rasa cintanya kepada Sovia tak seperti dulu lagi, ia tetap memiliki tanggungan kewajiban untuk bertanggung jawab.

__ADS_1


"Siapa yang bilang kalau aku akan meninggalkanmu? Aku pasti akan bertanggung jawab," ucap Alan berusaha menenangkan Sovia.


"Tapi, kamu seperti tidak ingin menyentuhku. Apa kamu hanya kasihan denganku?"


Alan mengusap lembut rambut Sofia. "Aku hanya ingin menghormatimu, tidak akan menyentuhmu sebelum kita menikah. Meskipun memang dulu pernah kita tidak sengaja makukan hal yang kelewat batas, aku tak mau menjadikan hal itu sebagai kebiasaan."


Sofia merenung. Sepertinya mustahil ada lelaki seperti Alan. Jika sudah pernah kebablasan, yang ada akan terus ketagihan. Apalagi dirinya juga sudah mengizinkan. Semakin Sovia bisa membuat Alan ketergantungan padanya, semakin ia bisa menguasai Alan.


"Kalau kamu tetap dijodohkan oleh kakekmu dengan orang lain, bagaimana denganku?" Sovia seakan sangat butuh kepastian. Ia ingin memastikan bahwa Alan tetap berada di sisinya selamanya.


"Aku akan tetap menikahimu," tegas Alan. "Entah aku harus menikahimu secara diam-diam atau secara terang-terangan, aku pasti akan bertanggung jawab."


Alan terkenal dengan kata-katanya yang dapat dipegang. Baginya, seorang lelaki memang harus bisa bertanggung jawab pada ucapan dan perbuatannya.


Sovia memanyunkan bibir. "Jadi kamu belum juga ada niatan untuk mengenalkanku pada kakekmu? Apa tidak ada kesempatan bagi kita untuk memamerkan hubungan ini dengan bangga di muka umum?"


Ambisi Sovia untuk bisa masuk dalam keluarga Narendra sangat besar. Pengorbanannya untuk bisa mengenal dan dekat dengan Alan butuh waktu dan proses yang lama. Ia sudah mulai mendekati lelaki itu sejak zaman SMA. Ketika memasuki dunia perkuliahan, ia terus membangun hubungan yang baik, menyingkirkan wanita-wanita yang berpotensi dekat dengan Alan, putra sulung keluarga Narendra.


"Aku sudah memberikanmu pilihan, maukah kamu menjadi istriku sekarang dengan resiko tidak mendapatkan apapun dariku? Aku siap meninggalkan semua hartaku jika kamu mau menerimaku."


Sovia menelan ludah. Nada bicara Alan terdengar sangat serius. Meskipun Alan sangat tampan, tanpa harta juga tingkat kekerenannya akan turun. Sovia ingin hidup bahagia bergelimang harta dan suami yang tampan. Ia tak mau memilih salah satu dari dua hal itu.


Ia tidak mau menjadi wanita yang justru harus bekerja keras menghidupi suami. Cita-citanya ingin pensiun dini setelah mendapatkan lelaki kaya raya yang mampu mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya. Sovia wanita yang sangat realistis, hidup tak cukup hanya dengan cinta, tapi juga butuh uang.

__ADS_1


__ADS_2