
"Di sini hanya ada kita berdua. Di sini tidak ada CCTV. Kamu mau melepaskan pakaian di sini atau di dalam bilik ganti?" tanya Irene.
"Di dalam bilik saja. Aku bisa melakukan sendiri," ucap Violet.
Wanita itu terlihat malu-malu saat Irene berusaha membantu. Karena ia menginginkan ganti baju sendiri, Irene menunggu wanita itu di luar bilik. Beberapa saat kemudian wanita itu kembali keluar dari dalam bilik dengan mengenakan gaun yang Irene buat.
"Kamu cantik sekali mengenakan gaun itu," puji Irene.
Wanita itu tersenyum. "Terima kasih. Ini berkat gaunnya yang juga indah." Violet balik memberikan pujian pada Irene.
"Ini sengaja gaunnya dibuat polos, tapi aku dan Kak Alfa sudah menyiapkan beberapa alternatif pelengkap untuk memberikan kesan mewah pada gaun. Nanti juga bisa ganti-ganti model sendiri dengan basic gaun seperti ini. Apa kamu mau mencobanya?" tanya Irene.
"Boleh."
Irene lantas mengambilkan bagian penunjang gaun yang dipasang pada bagian lengan yang memberikan kesan menjuntai seperti sayap. Ia juga memilihkan aksesoris gaun tambahan pada pinggang dengan bagian belakang m4ngembang seperti ekor.
"Aku rasa seperti ini lebih bagus. Kamu kelihatan seperti putri tanpa terlihat gendut," kata Irene sembari memperhatikan penampilan pelanggannya di sebuah cermin besar yang ada di ruangan itu.
"Eum, apa kamu sudah tahu kalau aku sedang hamil?" tanya Violet malu-malu.
__ADS_1
Sebenarnya alasan ia tak mau dibantu saat mengenakan gaun adalah karena ia sedang hamil tiga bulan. Menurutnya, kondisi perutnya masih cukup terlihat rata dan tidak seperti wanita hamil. Tapi, Irene memiliki mata yang jeli sampai memberikan rekomendasi gaun yang sesuai untuk konsinya.
"Maaf, ya, aku tidak bermaksud bicara seperti itu. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun," kata Irene.
Ia tak enak hati melihat raut wajah calon pengantin wanita yang terlihat cemas karena dirinya memang tahu kondisi kehamilan itu. Irene tak bermaksud menyindir, hanya ingin memberikan masukan agar kehamilan wanita itu tak menjadi pusat perhatian saat pesta pernikahan nanti.
"Tidak apa-apa, aku justru merasa lega bertemu dengan orang yang mau memahami kondisiku. Aku kira kamu akan menyindirku," ujar Violet.
"Model yang seperti ini gampang sekali untuk dikenakan sendiri. Aku merekomendasikan ini. Tapi, kalau kamu ingin mencoba penampilan yang berbeda, bisa mengenakan ini sebagai tambahan. Model ini juga sama bisa menyamarkan bentuk perut. Apalagi memang perutmu masih belum terlihat besar. Tapi, jangan pakai tampilan yang ini, soalnya akan membuat perutmu kelihatan lebih besar."
"Baiklah, aku ambil yang kamu rekomendasikan saja," kata Violet.
"Nanti akan aku sampaikan kepada Kak Alan."
Irene mengulaskan senyum. "Aku tidak bisa berjanji, tapi akan aku usahakan," ucapnya.
Violet lantas kembali menuju bilik ganti untuk melepaskan pakaiannya. Merek kemudian kembali lagi menemui para lelaki yang tengah mengobrol di luar.
"Sayang, kenapa kamu keluar tanpa mengenakan gaunnya?" tanya Jimmy heran.
__ADS_1
"Sengaja. Biar nanti kamu terkejut kalau melihat. Pokoknya aku suka dan menurutku bagus," ujar Violet seraya memeluk lengan Jimmy dengan erat.
"Sudah kamu cobakan semua untuk Violet, Ren?" tanya Alfa.
"Sudah, Kak. Violet memilih dua model yang sudah aku pisahkan. Nanti akan aku finishing, soalnya ada beberapa bagian yang masih perlu dibenahi."
"Kalau begitu, kami pamit dulu. Ada banyak hal yang harus diurus sebelum pernikahan. Alfa, aku serahkan gaun Violet padamu," kata Jimmy.
"Siap, Jim. Terima kasih untuk kunjungannya."
Violet tersenyum ke adah Irene sebelum pergi. Wanita itu tampaknya sangat berterima kasih kepada Irene.
"Kamu mau bayar berapa banyak untuk tunanganku, Fa? Dia sudah bolak-balik kampus dan butikmu selama seminggu," sindir Alan.
"Aku sudah janji mau traktir Irene makan. Ia kan, Ren?" kata Alfa.
"Apa? Kamu mau-maunya kerja rodi hanya dengan iming-iming makanan?" Alan menatap Irene tidak percaya.
"Niatnya aku mau menolong saja," ucap Irene. "Tapi kalau bisa juga ada bayarannya. Minimal 30%. Iya kan, Kak?" tanya Irene pada Alfa.
__ADS_1
"Aku baru saja merugi gara-gara Sovia. Tidak kuat kalau harus membayarmu. Minta uang saja pada kakakku, dia itu banyak uang, Ren."
Setelah mengatakan hal itu, Alfa lantas kabur berlari pergi ke lantai atas.