
Irene melongo melihat Alan membeli banyak batu di sana. Lelaki itu sudah seperti orang gila yang menghabiskan uangnya untuk memborong batu. Sungguh, masih belum masuk logikanya kenapa orang-orang mau menukar uang dengan batu yang belum tentu berharga itu. Seandainya penjualnya yakin itu batu berharga, seharusnya mereka akan menyimpan batu-batu itu untuk dirinya sendiri.
Irene menutup matanya sendiri, memandangi Alan dibantu oleh seorang tukang belah batu yang mereka sewa mulai membuka satu per satu batu yang telah Alan beli. Saat dibelah, ternyata hanya batu biasa. Ia kembali geleng-geleng kepala dengan kebodohan bosnya. Orang yang menonton pembelahan batu itu ikut tertawa karena yang Alan pilih merupakan batu biasa.
"Hahaha ... orang itu bodoh sekali. Beli sebanyak itu tidak ada batu yang bagus."
"Orang mana ya, dia? Kasihan sekali."
"Uangnya pasti habis untuk membeli batu di sini."
Batu yang dibelah tidak ada yang bagus. Irene sangat terganggu dengan perkataan mereka yang sangat menyejek. Sementara, Alan terlihat biasa saja karena tidak paham bahasa mereka. Ingin rasanya ia segera menyudahi kebodohan yang Alan lakukan.
"Tahu gini beneran bawa Ponari deh." Irene memijit keningnya.
"Pak! Sudah, jangan diteruskan. Apa Bapak tidak lihat orang-orang terus menertawakan Bapak?" keluh Irene.
"Kenapa harus peduli, Alenta? Aku membeli batu-batu ini dengan uangku sendiri, bukan dengan uangmu atau uang mereka. Santai saja. Lagipula, mereka juga tidak mengenal kita.
Alan tetap keras kepala pada pendiriannya. Ia terus menyuruh orang bayarannya untuk membelah sisa batu-batu miliknya. Semuanya zonk, orang-orang terus menertawakannya. Hingga satu batu terakhir tersisa, Alan begitu tegang menantikan isinya. Jika ia gagal, berartinsemua batu yang ia beli sia-sia saja.
Saat batu terakhir itu terbuka, ternyata berisi giok hijau terbaik di dunia. Semua tercengang melihat kilauan indah isi di dalam batu tersebut. Irene ikut mengintip kerumunan orang yang terkagum-kagum melihat keindahan batu giok itu. Ia bisa sedikit bernapas lega, setidaknya bosnya tidak benar-benar tertipu di sana.
"Bagaimana kalau aku membeli batu itu tiga kali lipat dari uang yang sudah kamu habiskan di sini?" Seseorang dari kerumunan maju ke depan ingin menawar batu milik Alan.
Alan tidak paham dengan ucapan orang tersebut. Ia memanggil Alenta ke sebelahnya. "Dia bilang apa?" bisiknya lirih.
__ADS_1
"Dia mau ganti uang Bapak tiga kali lipat untuk mendapatkan itu," ucap Irene.
"Bilang saja, aku tidak akan melepaskannya. Itu terlalu murah," ucap Alan sembarintersenyum memandangi batu gioknya.
Irene membulatkan mata. Kalau itu dirinya, ia pasti sudah melepaskannya karena sudah mendapatkan keuntungan. Tapi, karena Alan sudah memerintahnya, ia akan melakukan tugasnya secara profesional.
"Mohon maaf sekali, Tuan. Bos kami tidak berminat menjualnya kepada Anda," ucap Irene dalam Bahasa Persia.
"Dasar orang sombong! Ini hanya hari keberuntunganmu. Dari sekian banyak batu hanya ada satu yang berisi giok. Dia kira keberuntungan akan selalu berpihak padanya. Harusnya kalian pulang saja ke negara kalian yang miskin. Bermimpi jadi kaya dengan datang di negara kami," orang tersebut menggerutu sambil menghina Irene dan Alan. Irene yang tahu semua ucapan orang tersebut otomatis marah. Ia bersiap mengepalkan jemari tangannya dan bersiap memukul.
"Aku tidak pernah melihat lelaki sedungu itu. Lihatlah, meluhat giok saja sudah tersenyum seperti orang gila. Hahaha ...."
"Kenapa? Anda tidak suka? Sudah dapat apa di sini? Batu-batu yang Anda beli juga tidak ada isinya, padahal Anda penduduk asli kita ini. Bukankah kamu yang lebih dungu!" Irene balas memaki orang tersebut.
"Anda sendiri beraninya ribut dengan wanita, apa Anda banci?" Irene bertambah nyolot.
"Berani kamu, hah!" orang tersebut hendak maju ingin menampar Irene, namun lebih dulu Irene menahan tangannya. Orang tersebut berniat menghajar Irene dengan tenaga yang ringan. Ia belum tahu kalau ternyata Irene bisa berkelahi.
Suasana menjadi ramai saat keduanya terlibat perkelahian. Meskipun Irene seorang wanita, ia bisa mengimbangi gerak tendangan yang lelaki itu lakukan. Bahkan perlawanan yang Irene berikan mampu membuat lelaki itu kewalahan.
Alan berlari untuk berniat menghentikan keributan yang mereka timbulkan, namun, ternyata Irene menang. Ia berhasil menghajar lelaki itu sampai tidak berdaya dan mengaku kalah. Alan sampai tercengang, wanita yang dikenalnya sebagai Alenta ternyata sangat kuat dan jago berkelahi.
Alan menarik tangan Irene dan membawanya menjauh dari kerumunan. "Kamu apa-apaan sih, kok malah membuat keributan di negara orang," gerutu Alan. Ia membawa Irene kembali ke tempat batu gioknya berada.
"Kalau Bapak tahu apa yang mereka ucapkan, pasti Bapak tidak akan memarahi saya!" Irene masih kesal dengan orang tadi. Ia ingin sekali merobek mulutnya yang sudah berkata buruk terhadap mereka.
__ADS_1
"Ya, makanya pura-pura saja tidak tahu. Aku juga tidak merasa tersinggung " jawab Alan santai.
"Iya, tidak tersinggung karena Anda tidak tahu apa yang dia bilang."
"Sudahlah, mending menunggu batu giok ini di rapikan lagi." Alan kembali memandangi batu gioknya sembari senyum-senyum.
"Tadi dia bilang kalau Bapak seperti orang gila, senyum-senyum sendiri melihat batu."
Senyuman Alan pudar saat mendengar ucapan Irene.
"Dia juga bilang Bapak hanya beruntung. Bapak orang bodoh dari negara miskin yang berharap kaya di sini."
"Mana orang tadi! Biar aku hajar lagi dia!" Alan tiba-tiba langsung emosi ingin menyerang orang tersebut. Irene mencegahnya, sementara orang tersebut sudah pergi setelah dihajar olehnya.
"Sudah, Pak. Katanya tadi tidak mau marah,"
"Siapa yang tidak akan marah kalau dikatai seperti itu? Ah! Sialan. Seharusnya kamu bilang lebih cepat biar kita hajar dia sama-sama." Alan terus menggerutu tidak terima.
"Permisi, apa batu ini dijual?" tanya seorang wanita yang kelihatan tertarik dengan batu tersebut.
"Apa katanya?" Tanya Alan.
"Dia bertanya apa batu ini mau dijual atau tidak katanya."
Alan mangguk-mangguk. "Tanyakan padanya berapa harga yang berani ia tawar."
__ADS_1