
"Alfa, kenapa masih di sini? Pertunjukannya sudah dimulai," tegur Merlin yang juga ingin keluar dari ruang persiapan setelah mengatur para modelnya.
"Aku masih menunggu Irene, dia ada di dalam," jawab Alfa.
Merlin membulatkan mata. "Kamu membiarkannya masuk ke dalam? Bagaimana kalau dia kembali membuat kekacauan, apa kamu sudah gila?" Merlin tidak habis pikir dengan jalan pikiran Alfa. Ia kira wanita yang sudah membuat kekacauan itu sudah dibawanya keluar.
"Tunggu sebentar dan kamu boleh menyimpulkannya sendiri nanti, Merlin. Dia tidak seburuk yang kita kira."
Merlin tak bisa berkata-kata. Entah apa maksud ucapan dari Alfa barusan. Sudah sangat jelas wanita itu jadi biang masalah. Gara-gara dia Merlin harus merelakan dua gaun karyanya sekaligus.
Pintu yang ada di depan mereka terbuka. Perlahan cahaya yang muncul dari dalam ruangan keluar menerangi tempat mereka yang redup cahaya. Ada seseorang yang menghalangi sorotan cahaya dari luar.
Bagaikan sebuah pertunjukan drama, keduanya terpukau melihat sosok wanita yang membuka pintu tersebut. Irene, dengan kulit kusamnya yang gelap, dengan sentuhan make up dan tatanan rambut yang sesuai tampil sangat cantik mengenakan gaun rancangan Merlin yang telah dimodifikasi.
"Bagaimana bisa ...," Merlin tercengang.
"Kamu juga masih tidak percaya, kan? Aku awalnya juga sama sepertimu," ujar Alfa.
"Ikut aku!" Tanpa berkata apapun, Merlin menarik tangan Irene dan membawanya pergi entah kemana.
Alfa menghela napas. Ia benar-benar masih belum percaya jika seorang Irene bisa melebihi ekspektasinya. "Dia cantik juga, kenapa selama ini memilih berpenampilan seperti gembel," gumamnya.
Alfa turut meninggalkan ruangan itu menuju ke area pertunjukan mode. Ia mendapatkan kursi di barisan paling depan, duduk bersama orang-orang kalangan atas yang tertarik dengan perkembangan mode di negara ini. Selain para wanita, tidak sedikit pengunjung pria yang hadir. Merlin akan mempersembahkan peragaan busana koleksi terbaru gaun wanita dan pakaian formal pria.
Para model mulai keluar satu persatu dari belakang panggung, berlenggak-lenggok memamerkan busana yang mereka kenakan. Koleksi Merlin kali ini menampilkan busana dengan warna-warna yang mencolok namun tetap terlihat anggun saat dikenakan untuk acara pesta malam.
Saat tiba giliran Sovia tampil di atas panggung, suara riuh sorakan serta tepuk tangan meriah dari para pengunjung menyambutnya. Hal itu membuat Sovia semakin bersemangat untuk menunjukkan kelincahannya di atas stage memamerkan gaun yang ia kenakan. Biasanya, apapun yang dikenakan Sovia akan menjadi trend di tahun itu. Selera fashion Sovia selalu mendapat pujian dari para penggemarnya.
__ADS_1
Sovia memang seorang model profesional yang cukup pilih-pilih menentukan desainer yang akan mengajaknya kerjasama. Jika rancangan busananya menurut Sovia buruk, ia tidak akan mau menjadi modelnya.
"Aku nanti akan memesan gaun yang Sovia kenakan. Dia sangat cantik sekali malam ini," ucap salah seorang wanita yang duduk di belakang Alfa.
"Dia memang selalu cantik. Aku rasa seumur hidup Sovia tak pernah merasakan rasanya menjadi jelek," sahut wanita lain.
"Pakain apa saja yang Sovia kenakan selalu pas dan cocok untuknya."
"Kalau jelek, dia tidak mungkin mau memakainya."
"Tapi, menurutku, sejelek apapun pakaiannya, pasti akan bagus kalau Sovia pakai."
"Setahuku dia selalu memikirkan gaun yang akan nyaman dan bagus serta menambah percaya diri jika dikenakan orang lain. Kalau kamu sudah lama mengikuti Sovia, kamu pasti akan tahu."
"Dia sepertinya orang yang ramah, ya."
"Dia memang ramah, aku pernah sekali bertemu dengannya dan dia mau diajak foto denganku."
Alfa hanya tersenyum-senyum sendiri mendengar percakapan orang yang ada di belakangnya. Memang, tidak ada orang yang yang mengetahui pasti karakter seseorang kecuali orang-orang yang sudah biasa dekat dengannya. Apalagi itu fans yang melihat idolanya sebatas imej yang ditampilkan dalam kesempatan terbatas saja.
Memang Sovia tak pernah memiliki masalah khusus dengan Alfa. Mungkin karena dia adiknya Alan, Sovia tak pernah merepotkannya saat menjadi salah satu modelnya. Akan tetapi, banyak staf yang mengeluh bahwa model cantik itu terlalu banyak permintaan dan suka merepotkan orang lain. Cara bicaranya kasar, suka menyuruh-nyuruh orang seenaknya, dan terlalu pilih-pilih.
Orang yang menangani Sovia pastilah harus punya kesabaran jiwa tingkat dewa. Jarang yang mau menangani Sovia saking takut kena mental. Sovia lebih sering ditangani oleh manajernya.
Suasana menjadi hening saat model terakhir mulai berjalan di atas catwalk. Pandangan mata para pengunjung fokus memperhatikan seorang model yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Model dengan kulit tubuh gelap yang paling berbeda dengan model-model sebelumnya.
Irene berjalan dengan santai membawakan busana milik Merlin yang sudah ia rubah. Senyumnya terus mengembang sepanjang stage merasa percaya diri dengan apa yang tengah ia pamerkan. Penampilannya yang berbeda sukses menyita perhatian seluruh pengunjung. Apalagi gaun yang ia kenakan sangat indah, cocok dikenakan meskipun oleh wanita berkulit gelap.
__ADS_1
"Siapa dia?" wanita yang ada di belakang alfa kembali berbicara dengan temannya.
"Aku juga tidak tahu."
"Dia cantik sekali. Meskipun kulitnya gelap, aura kecantikannya tetap terpancar. Mirip seperti Rihana."
"Pemilihan gaun dan perhiasan sangat tepat untuk pemilik kulit eksotis seperti dia. Jarang sekali aku melihat model dengan warna kulit yang gelap."
"Benar, Apa Kak Merlin kali ini menjadikan dia sebagai model utama? Malam ini Sovia menurutku kalah darinya."
"Itu sudah pasti. Dilihat dari gaun yang dikenakan, sudah tentu yang dia kenakan merupakan master piece dari karya Kak Merlin."
"Aku salut dengan Kak Merlin, dia bisa memakai model yang tak biasa untuk menampilkan karya terbaiknya."
"Aku jadi semakin penasaran, apa dia dari wilayah timur negara kita? Kulitnya bagus juga."
"Aku ras tidak. Mungkin dia dari Afrika."
"Tapi, masih ada wajah-wajah lokal. Aku yakin dia dari wilayah timur."
Alfa terkagum-kagum melihat wanita yang kini tepat berada di hadapannya memamerkan busananya. Sekilas tatapan mata mereka bertemu. Irene seakan ingin menyampaikan kepada Alfa bahwa tidak ada yang bisa meremehkannya.
Alfa kena mental. Ia tersenyum menertawakan dirinya sendiri yang dulu pernah menghina Irene saat pertama kali bertemu. Sungguh, Alfa benar-benar jijik dengan kejelekan Irene ditambah dengan selera fashionnya yang aneh.
Malam ini, wanita itu membuktikan padanya bisa tampil memukau di atas penggung. Irene bisa menjadi cantik sesuai dengan versinya sendiri.
Kalau saja Irene tampil secantik ini saat pertemuan pertama mereka, ia dan saudara-saudaranya pasti tidak akan mencelanya. Memang, kakek Narendra tidak mungkin memilih orang yang salah untuk masuk ke dalam keluarga Narendra. Di balik kejelekan dan wajah bodohnya, Irene menyembunyikan kemampuan terbaiknya. Alfa menjadi semakin tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang siapa itu Irene.
__ADS_1
*****