Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 294


__ADS_3

"Ojik hanappunin neoui ireum my special love. Jeogi taeyang boda challanhan my special love. Dugeundaeneun nae gaseum. Neol wihae ttwigo isseo. Eotteokaeya dwae?"


Irene bersenandung mengikuti alunan musik yang muncul di layar televisi ruang tengah. Ia menikmati waktu santainya menikmati musik dari boy group idolanya.


Suasana tenangnya terganggu ketika ia mendengar langkah kaki Alan yang cepat mendekat dari arah pintu. Ia menoleh dan terkejut melihat wajah Alan yang tampak lesu dan lelah.


"Kak, kok kamu sudah pulang? Katanya mau ke kantor?" tanya Irene heran. Ia memelankan suara televisi di hadapannya.


Alan melepaskan jas dan menatuhnya di lengan sofa. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum duduk di samping Irene. Ia mencoba merapikan pikirannya sebelum menceritakan semua masalah yang terjadi di kantor.


"Apa ada masalah?" tanya Irene khawatir. Ia mendekat ke arah suaminya seraya memberikan pelukan yang menenangkan.


Alan membalas pelukan yang Irene berikan. Ia mencium kening sang istri. Menghirup aroma wangi Irene membuatnya sedikit lebih tenang.


"Papa menempatkan Alex kembali di perusahaan, Sayang," ucap Alan.


Irene mengernyitkan kening, mencoba memahami situasi yang sedang dihadapi oleh Alan. "Kak Alex? Tapi dia kan sedang dipenjara. Bagaimana mungkin Papa memutuskan untuk menempatkan kembali Kak Alex di sana?" tanyanya heran.


Alan menggelengkan kepala dengan ekspresi kecewa yang jelas terlihat di wajahnya. "Iya, aku juga sangat terkejut. Ternyata Alex sudah dibebaskan Papa dari penjara. Papa memberikan kesempatan kedua padanya dan memutuskan untuk memberikannya posisi di perusahaan."


Raut wajah Alan terlihat sekali ia sangat kecewa. Irene merasa terperangah mendengar kabar tersebut. Ia tidak menyangka bahwa Alex sudah keluar dari penjara, dan keputusan ayah mertuanya untuk memberikan kesempatan padanya membuat situasi semakin rumit.


"Tapi, bagaimana mungkin papa melakukan hal itu? Bukankah itu keputusan yang gegabah?" ujar Irene.


Alan menarik napas lagi, mencoba mengendalikan emosinya yang berkecamuk. "Aku juga bingung, Sayang. Tapi Papa berpendapat bahwa setelah kejadian itu, Alex mengalami perubahan dan dia pantas mendapat kesempatan kedua. Dan yang lebih menyakitkan, Papa menempatkan Alex pada posisi yang penting."

__ADS_1


Irene merasa campur aduk dengan kabar yang diterimanya. Ia mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa cemas dan kekecewaannya.


"Rasanya aku tidak mau datang lagi ke perusahaan," kata Alan seraya merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa.


Irene turut merebahkan dirinya pada dada bidang lelaki itu. "Sayang, kamu tidak boleh seperti itu. Kalau kamu keluar, bagaimana nanti jika ada masalah di perusahaan? Bukankah selama ini kamu memperjuangkannya mati-matian demi keluarga Narendra?"


Perkataan Irene menyadarkan tujuan awal Alan terjun di perusahaan itu. Ia rela meninggalkan hobinya memasak di restoran demi mengikuti kemauan kakek untuk menjadi penerus perusahaan keluarga. Sebagai anak pertama, ia memiliki tanggung jawab yang besar untuk melanggengkan bisnis yang sudah susah payah dibangun secara turun temurun.


"Aku harus bagaimana? Setiap kali melihat Alex, rasanya aku ingin menghajarnya. Dia sudah membuat kakek meninggal."


Alan kembali teringat akan kesedihannya. Ia menarik Irene dan memeluknya erat sembari menahan air matanya. Di satu sisi ia merasa bersalah saat itu tidak bisa menyelamatkan nyawa kakeknya.


Irene mengelus punggung suaminya. "Sayang, ingat pesan kakek kalau kamu harus kuat dan tegar. Kalau kamu terpuruk, Kakek juga tidak akan senang," ucapnya.


Ia juga menjadi ingat bagaimana hubungan mereka bisa semakin dekat. Semua tak lepas dari campur tangan kakek. Bahkan pernikahan mereka merupakan salah satu wasiat yang kakek ucapkan sebelum meninggal.


Ia meraih remot televisi yang tergeletak di meja.


"Eh. Eh! Jangan diganti!" seru Irene seraya merebut remot itu dari tangan Alan.


Alan sampai tertegun melihat kecepatan tangan istrinya mengambil remot itu.


Irene menyembunyikan remot itu di belakang tubuhnya. "Jangan ganti! Aku lagi suka mendengarkan lagu ini," katanya sembari menunjuk ke arah layar TV.


Alan ikut melihat sekumpulan pria muda yang tengah menari sambil menyanyi. "Apa ini? Bukankah lebih baik menonton berita?" ujar Alan.

__ADS_1


"Beritanya nanti saja. Pokoknya sampai 30 menit ke depan, jangan diganti!" kata Irene. Ia kembali memusatkan perhatian pada layar TV, tersenyum sembari bersenandung lagu yang bahkan bahasanya tidak bisa Alan pahami.


Alan mencoba ikut menikmati acara itu. Namun, melihat respon sang istri yang terlihat bahagia melihat pria-pria tampan itu, membuatnya kesal.


"Gara-gara mereka kamu sampai lupa kalau di sampingmu ini ada suamimu?" sindir Alan.


Irene nyengir kuda. "Istri juga butuh me time, Sayang. Aku kan hanya menonton mereka saja. Kalau orang yang aku cintai, hanya kamu! Saranghae!" ucapnya sembari memperlihatkan jari yang ia bentuk hati kepada sang suami.


Alan merasa geli dengan kelakuan istrinya. "Suamimu sedang sedih ini," katanya.


Irene kembali melabuhkan pelukannya. "Ya, ayo ikut nyanyi biar bahagia. Lagunya enak banget ini, punya boygroup baru dari Korea. Ada member dari tanah air juga, kita harus support."


Alan memanyunkan bibirnya. "Yang mana? Kayaknya muka mereka sama semua," ujar Alan.


"Itu, itu ... Yang paling manis. Namanya Zayyan!" Irene antusias menunjuk ke arah idol yang dimaksud.


"Hm, masih lebih keren aku!" kata Alan dengan percaya dirinya.


"Tapi, Kak Alan kan tidak bisa nyanyi dan nari," ledek Irene.


"Iya, aku memang tidak bisa keduanya. Tapi, ada satu hal yang aku bisa," timpal Alan.


"Apa itu?" tanya Irene.


Alan menyeringai. Ia langsung bangkit dari duduknya. "Aku hanya bisa menunjukkannya di atas ranjang!" katanya.

__ADS_1


"Ah!" Irene memekik saat tiba-tiba Alan mengangkat tubuhnya. "Sayang, aku masih mau nonton itu!" rengek Irene.


"Buat apa? Mending kamu menontonku saja. Hahaha ...."


__ADS_2