
Drrtt .... Drrtt ....
Getaran ponsel mengusik tidur Irene. Dengan rasa kantuk yang masih menggelayut, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kecil dekat tempat tidurnya.
Irene membuka mata sambil menyipitkannya. Ada nama Alan yang muncul di layar ponsel itu.
Ia sampai hampir lupa kalau kemarin ia tak pulang ke rumah setelah mengatakan ingin mengurusi tugas kampus.
"Halo?" sapa Irene.
"Oh, Ya Tuhan, Irene ... Katanya kemarin kamu tidak pulang?"
Nada bicara Alan terdengar khawatir. Ternyata lelaki itu juga baru menyadari jika dirinya kemarin tidak pulang.
"Ah, iya, Kak. Maaf lupa memberi tahu," jawab Irene.
"Lain kali beri tahu orang rumah, Irene! Kamu sudah membuat semua orang panik. Mereka kira kamu kemarin ikut denganku. Aku juga baru pulang pagi ini."
Irene mengerutkan dahi. "Memangnya Kak Alan juga kemarin pergi?" tanyanya penasaran.
"Em, iya ... Aku lembur di kantor. Ada banyak pekerjaan penting yang harus diselesaikan."
Irene hanya mangguk-mangguk.
"Kamu menginap dimana?" tanya Alan.
"Aku menginap di rumah teman," jawab Irene singkat.
"Berikan alamatnya, aku akan menjemputmu."
"Tidak usah, Kak!" Irene memberikan jawaban refleknya. "Kakak tidak perlu repot-repot menjemputku. Aku akan langsung berangkat ke kampus dengan temanku," kilahnya.
"Oke, yang penting aku sudah lega mendengar kamu baik-baik saja. Lain kali beri tahu kalau mau menginap di rumah teman."
"Iya, Kak. Maafkan aku," kata Irene sekali lagi.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Nanti aku akan menemuimu di kampus."
"Aku mau siap-siap ke kampus dulu, Kak."
"Hm, jangan lupa sarapan."
__ADS_1
Irene mematikan sambungan teleponnya. Ia bangkit dari ranjang dan mencium aroma enak yang masuk melalui celah-celah kamarnya. Irene berjalan mencari sumber aroma enak itu hingga ke luar kamar. Ternyata berasal dari area dapur.
Tampak Ron dan Bombom tengah berkutat memasak di sana. Ia hanya tersenyum melihat kekompakan keduanya.
"Nona, Anda sudah bangun? Kami sedang memasakkan sarapan untukmu. Duduklah!" pinta Ron.
"Aku tidak menyangka kalau kamu juga bisa memasak, Ron," ujar Irene seraya duduk di ruang makan sembari melihat mereka memasak.
"Kami sudah terbiasa tinggal di berdua di sini, Nona. Kalau sampai tidak bisa memasak, kami bisa kelaparan," ujar Ron.
Tempat Irene berada saat ini merupakan markas utama tempat ia dan anak buahnya melakukan kegiatan sebagai tim hacker. Irene punya banyak anak buah lain yang tersebar di berbagai tempat. Terkadang mereka juga datang berkunjung ke sana. Namun, yang paling akrab dengan Irene hanyalah Ron.
"Kami membuat spaghetti bolognese dan chicken katsu, Nona. Semoga saja Anda suka."
Ron dan Bombom menyajikan masakan yang baru saja mereka masak di atas meja makan. Mereka mempersilakan Irene untuk mengambil makanan lebih dulu, kemudian mereka menyusul. Ketiganya sarapan bersama sembari membicarakan peristiwa kemarin.
Seperti yang lelaki itu katakan pada Irene, anak buahnya berhasil selamat berkat bantuan dari mereka. Beberapa anak buah Irene ada yang terkena luka tembak, namun anak buah Feng akhirnya bisa dipukul mundur.
"Mereka sudah mengetahui wajahmu, Ron. Kamu harus lebih berhati-hati," saran Irene.
"Iya, Nona. Saya sedang berpikir untuk merubah sedikit penampilan supaya tidak dikenali orang. Seperti yang Anda lakukan juga."
Usai sarapan, Irene lantas mandi dan pergi ke kampus diantarkan oleh Ron.
Irene teraenyum. "Kamu tenang saja, Ron. Aku sangat sehat hari ini. Pulanglah dan Istirahat!"
Irene melangkahkan kaki melewati koridor menuju ruang kelasnya. Setibanya di dalam kelas, ternyata semua teman-temannya mengenakan seragam olahraga. Ia sampai lupa jika dikampusnya hari ini akan mengadakan event olahraga tingkat fakultas.
"Salah kelas, ya? Kamu mahasiswa dari mana?" sindir Miranda. Ia tertawa-tawa melihat penampilan Irene yang berbeda dari teman lainnya.
"Ren, kamu lupa, ya?" tanya Jeha.
Irene hanya mengangguk. Ia benar-benar lupa ada acara sepenting itu di kampus.
"Kamu pakai saja seragam Winda, dia hari ini katanya tidak masuk, padahal sudah aku bawakan seragam untuknya."
"Memangnya Winda kenapa lagi?" tanya Irene heran. Akhir-akhir ini Winda banyak bolos kuliah.
"Aku tidak tahu. Dia memang susah ditebak. Sudah, kamu ganti pakaian saja cepat, sana!" perintah Jeha seraya memberikan paperbag berisi seragam kepada Irene.
"Ren! Kamu nanti bagian lomba lari mewakili kelas kita, ya! Kamu sanggup, nggak?" tanya Erlan, koordinator kelasnya.
__ADS_1
"Oh, oke ...." Irene hanya mengiyakan saja kemauan sang ketua kelas.
Irene bergegas pergi menuju toilet. Ia melepaskan pakaiannya secara perlahan. Luka di lengannya terlihat mengeluarkan darah segar meskipun tisak banyak.
Irene mengelap bagian luka dan mengganti perbannya. Ia berharap tidak akan ada yang menyadari luka dilengannya.
"Hah! Bisa lari nggak ya, nanti," gumamnya pada diri sendiri.
Irene keluar dari bilik toilet. Ia membuang bekas perban ke dalam tong sampah lalu keluar dari sana.
Tak berselang lama setelah Irene keluar, Miranda juga keluar dari salah satu bilik toilet yang lain. Ketika ia hendak membuang tisu bekas di tempat sampah, pandangan matanya menemukan sesuatu yang aneh di sana.
"Bekas perban? Darah? Irene kenapa? Apa dia sedang terluka?" tebaknya. Ia yakin jika benda itu merupakan milik Irene.
Miranda mencoba memikirkan hal tersebut sembari berjalan keluar dari toilet.
Area lapangan telah ramai oleh para mahasiswa yang hendak berpartisipasi dalam event kampus. Ada pula yang datang hanya untuk menonton atau menjadi supporter. Bahkan mahasiswa dari fakultas lain dan masyarakat umum boleh turut serta menonton di sana.
Irene bersiap di garis start sebelum lomba lari dimulai. Ia akan bersaing dengan 13 peserta lainnya dari kelas lainnya untuk memperebutkan posisi juara.
Mereka harus berlari mengelilingi lapangan sepak bola yang lumayan luas dari garis start hingga garis finish.
Irene tak terlalu yakin bisa memenangkan pertandingan kali ini dengan kondisi tangan yang masih terluka.
"Bersiap ...."
Salah seorang panitia telah memberikan aba-aba tanda pertandingan segera dimulai.
"Satu ... Dua ... Tiga!"
Bendera perlombaan dikibarkan. Seluruh peserta segera berlari dengan sekuat tenaga, termasuk Irene. Ia berusaha berlari sekencang mungkin dengan meminimalisir gerakkan di tangan kanannya. Setiap kali bergerak, lukanya akan terasa sakit.
Lambat laun tenaga Irene serasa mau habis. Langkahnya semakin melambat dan ia tertinggal dari pemain lainnya. Pandangan matanya terasa kabur dan akhirnya ia jatuh pingsan di tengah lintasan lari.
"Irene!"
Ares yang tengah melakukan koordinasi kelasnya dikejutkan saat tanpa sengaja matanya melihat Irene jatuh di lintasan lari.
Ia langsung berlari pergi meninggalkan teman-temannya yang butuh pengarahan menghampiri Irene.
Ares menyingkirkan kumpulan orang yang berkerumun di sekitar Irene. Ia mengangkat tubuh Irene dengan segera lalu membawanya berlari menuju ke ruang kesehatan.
__ADS_1
Ares terlihat panik melihat wajah Irene yang terlihat pucat dan tidak sadarkan diri.