
"Buka ... Buka ... Buka ...."
Suara penonton masih terdengar riuh menginginkan Irene membuka topengnya.
Sebenarnya Irene ingin membuka identitasnya di hadapan Alan, namun ternyata lelaki itu tidak datang di sana. Pada akhirnya, ia tetap menuruti kemauan para penggemar Hyena.
Saat Irene melepaskan topengnya, semua orang takjub bahwa wanita bersuara merdu itu ternyata memiliki paras yang sangat cantik.
"Sudah aku duga kalau Hyena itu pasti cantik! Aku sangat beruntung bisa melihatnya secara langsung," ucap salah seorang penggemar yang hampir menangis saking bahagianya.
Ares yang ada di sana turut terkejut melihat Irene ada di atas panggung. Kentang goreng yang ada di mulutnya sampai lupa ia kunyah. Ares tidak menyangka jika Hyena adalah Irene.
"Ah, ternyata Hyena itu Irene, ya ...," ucap Adila dengan tatapan takjubnya.
Arvy yang ada di sebelah kekasihnya itu keheranan. "Irene? Kamu sedang mengigau atau bagaimana?" tanyanya.
"Itu memang Irene!" kata Adila dengan nada ketus kepada Arvy. Memang selama ia amnesia entah mengapa Adila jadi merasa benci kepada lelaki itu.
Arvy menatap sosok wanita cantik yang ada di panggung itu sampai menyipitkan matanya. Ia rasa tak ada mirip-miripnya dengan Irene jelek yang selalu ia lihat setiap hari.
"Hyena akan menangis kalau kamu menyamakannya dengan Irene," ujar Arvy.
"Itu memang Irene, apa matamu sudah buta?" ejek Adila. Ia sangat yakin kalau wanita yang ada di atas panggung adalah Irene.
Arvy langsung terdiam dimarahi kekasihnya sendiri. Ia tak bisa marah karena menganggap Adila masih sakit. Bahkan ia semakin curiga kalau penyakit Adila semakin serius karena menyamakan wanita itu dengan si jelek Irene.
"Heh, pacarku sudah gila, dia bilang itu Irene," kata Arvy pada Ares yang ada di sebelahnya.
Perkataan Arvy membuat Ares tersadar dari lamunannya. "Itu memang Irene," katanya dengan santai sembari melanjutkan makan kentang gorengnya.
"Apa!" Arvy sampai terkejut dengan ucapan adiknya. Ia mengucek matanya lalu melihat kembali pada sosok Hyena di atas panggung.
"Itu wajah asli Irene. Selama ini dia memakai krim wajah supaya terlihat jelek di depan kita," kata Ares menjelaskan.
"Hahaha ... Itu tidak mungkin."
__ADS_1
Arvy benar-benar tak bisa mempercayainya. Tapi, semakin ia perhatikan, memang cukup mirip dengan postur badan Irene. Wajahnya juga ada kemiripan.
"Jadi, selama ini dia membohongi kita?" tanya Arvy.
"Ya. Dia telah menipu semua orang."
"Kamu tahu dari mana?"
"Irene sendiri yang mengatakannya padaku. Kak Alan juga sudah tahu makanya hubungan mereka sekarang agak kurang baik."
Arvy menggaruk kepalanya. Ia sama sekali tidak menyangka akan hal itu. "Apa Kak Alan pergi ke luar negeri karena hal ini?"
"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya Irene juga tidak diberi tahu. Dia kelihatan bingung pasti sedang mencari Kak Alan."
Arvy menoleh ke arah kursi Alan yang masih kosong. "Kakak kita seharusnya senang kan calon istrinya ternyata secantik itu," gumannya.
Ares tertawa kecil. "Kak Arvy sama sekali tidak kesal sudah dibohongi Irene selama ini?" tanyanya.
"Untuk apa kesal? Aku kesal karena dia sangat jelek dan mengganggu pemandangan. Syukurlah dia ternyata tidak jelek."
Jika diberi kesempatan, sebenarnya Ares ingin memenangkan hati Irene. Ia benar-benar menyukai gadis itu. Setiap kali mengingat Irene, selalu terkenang momen-momen menyenangkan yang pernah mereka lalui berdua. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan penampiran Irene, mau cantik ataupun jelek, baginya Irene tetap sama di matanya.
Namun, sayangnya, Irene telah jatuh cinta kepada kakaknya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Alan kepada Irene. Kedua orang itu merupakan orang yang penting dan berharga baginya. Ia tak sanggup jika harus berada di antara mereka.
Meskipun tahu hubungan keduanya kurang baik, Ares tak lantas mencari kesempatan mendekati Irene. Ia bahkan ingin membuat hubungan keduanya kembali baik.
"Sayang, kok kamu bisa tahu kalau itu adalah Irene?" tanya Arvy penasaran.
"Dilihat saja sudah sangat jelas, kan? Kayaknya matamu yang perlu diperiksakan." Adila kembali menjawab dengan ketus.
Arvy menoleh ke arah Ares yang tengah menertawakannya. Ia heran sendiri kenapa kekasihnya bisa dengan mudah mengenali Irene padahal hubungan mereka tak sedekat itu.
Tapi, ia bersyukur kondisi Adila jauh lebih baik dari sebelumnya. Wanita itu sudah terlihat normal selain ingatannya yang masih hilang terutama tentang dirinya.
"Aku masih tidak menyangka si jelek itu punya wajah yang cantik. Suaranya juga bagus," puji Arvy.
__ADS_1
"Dia juga gamer yang hebat," imbuh Ares.
Semakin mengingat tentang Irene, semakin membuat Ares merasa gila. Irene wanita yang sempurna dan tidak pernah menyusahkan. Ia menyesal tidak lebih dulu menyukai Irene sejak awal. Bahkan ia cenderung menampilkan sikap tak peduli hanya karena penampilan Irene yang dulunya jelek sampai hampir setiap hari mereka bertengkar.
Acara fan meeting yang dilakukan oleh Hyena berjalan dengan lancar. Mereka yang datang mendapatkan undangan bisa bekerjasama dengan baik untuk tidak membawa ponsel atau alat foto seperti yang Hyena persyaratkan. Bisa dibilang mereka yang dapat datang adalah orang-orang yang beruntung karena bisa bertemu langsung dengan Hyena.
Adila, Arvy, dan Ares mendapat kesempatan menemui Hyena di belakang panggung. Adila kegirangan saat bertemu dengan Hyena yang lagu-lagunya selalu ia dengarkan semasa mengasingkan diri.
"Ternyata selama ini kamu sudah membohongi kami, ya?" tanya Arvy. Ia menyentil dahi Irene cukup keras.
"Heh! Kamu kok jahat begitu!" Adila tampil membela Irene.
Irene memegangi dahinya yang sakit.
"Tapi, aku berterima kasih karena ternyata kamu yang sudah membantuku membuat lagu waktu itu, Ren," kata Arvy.
"Ren, ini untukmu."
Ares menyodorkan sebuah buket bunga mawar kepada Irene. Saat datang untuk fan meeting ia tak ada persiapan. Sengaja ia memesannya kepada seseorang agar mengantarkan buket bunga itu ke sana waktu tahu kalau Hyena itu Irene.
"Terima kasih ya, Res." Irene terharu mendapat hadiah dari Ares di hari pentingnya sebagai Hyena.
"Ren, seharusnya kamu katakan sejak awal kalau kamu adalah Hyena. Aku suka sekali lagu-lagumu. Tidak aku sangka kamu penyanyi aslinya," ucap Adila.
"Ren, buatkan aku lagu-lagu yang bagus supaya bisa aku nyanyikan untuk Adila," sahut Arvy.
Adila memandang sinis ke arah Arvy. "Apaan sih, nggak jelas, deh," ucapnya.
"Hahaha ... Adila, kenapa kamu masih galak kepada Kak Arvy? Kasihan dia nanti bisa frustasi," ujar Irene.
"Entahlah, kalau lihat dia memang bawaannya mau marah terus."
"Memangnya aku salah apa?" tanya Arvy bingung.
"Mana aku tahu! Pikirkan saja sendiri kesalahanmu kenapa sampai sekarang aku kesal padamu!"
__ADS_1