
Bian merasa ketakutan dengan sosok misterius yang kini ada di ruangannya. Ia takut orang tersebut akan berniat jahat kepadanya.
"Kamu siapa?" tanya Bian sekali lagi.
Orang misterius itu berjalan mendekat ke arahnya. Bian sudah pasrah kalau diapa-apakan oleh orang tersebut. Tangannya masih terpasang infus dan kakinya masih di-gips. Ia tidak bisa kemana-mana.
Orang tersebut melepaskan masker dan topinya. Bian tercengang ternyata sosok misterius yang hampir membuatnya jantungan ternyata adalah Arvy, artis dan penyanyi yang diidolakannya.
"Arvy ... Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Bian dengan ekspresi girang. Dalam kondisi sakitnya, ia masih bersyukur karena bisa bertemu Arvy secara dekat, bahkan Arvy yang menghampirinya sendiri.
"Namamu Bian, kan?" tanya Arvy. Ia sedikit ingat karena lelaki itu pernah mendatangi acara fan meeting dengan bantuan Irene.
Bian mengangguk. Ia senang namanya diingat oleh Arvy.
"Aku mau minta maaf karena aku yang telah menabrakmu. Waktu itu aku benar-benar tidak tahu kalau kamu akan lewat," ucap Arvy dengan penuh penyesalan.
Sebenarnya Marco sudah melarangnya untuk datang dan menemui Bian. Marco sudah menutupi kasusnya.
"Jadi, yang menabrak bukan Pak Marco, ya?" tanya Bian.
Arvy menggeleng. "Dia juga terpaksa berbohong agar tidak ada gosip aneh yang beredar. Tapi, aku tidak mau lari dari tanggung jawab. Aku akui kalau aku yang sudah menabrakmu. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Arvy.
Bian semakin kagum dengan idolanya. Arvy bisa saja lari dari tanggung jawab. Ada banyak orang yang mau menggantikan tempatnya. Namun, dengan berani Arvy mendatangi tempatnya dan mengaku.
"Ah, aku bingung mau berkata apa. Aku terlalu senang bertemu denganmu. Aku tidak marah denganmu. Bahkan aku berterima kasih karena telah menjengukku secara pribadi. Pasti sangat sulit bagimu untuk datang ke sini. Terima kasih sudah peduli dan membawaku ke rumah sakit," ucap Bian.
"Kamu tidak perlu khawatir, kondisiku sudah semakin membaik. Gips di kaki dalam waktu dekat juga sudah bisa dilepas. Kata dokter lukanya tidak serius."
"Aku sangat khawatir kalau kamu sampai kenapa-napa. Bagaimanapun juga, ini semua adalah tanggung jawabku," kata Arvy.
"Mungkin kalau kamu masih merasa bersalah, kita bisa berteman? Aku sangat ingin berteman dengan artis idolaku, Arvy Galaksi."
Arvy membulatkan mata. Ia terharu karena ternyata Bian merupakan salah satu penggemar setianya dan selalu mendukungnya.
"Tentu saja, mari kita menjadi teman baik," ucap Arvy.
Keduanya berjabat tangan sebagai simbol pertemanan yang baru saja terjalin di antara mereka.
"Boleh aku meminta nomor ponselmu?" tanya Arvy.
Biasanya penggemar yang meminta nomor telepon idolanya. Tetapi, sekarang, idola yang meminta nomor telepon penggemarnya. Bian menyebutkan nomor ponselnya. Arvy menyimpannya dan mengirimkan nomornya sendiri kepada Bian.
Drrtt ... Drrtt ....
Ponsel Arvy bergetar. "Ada telepon dari Irene. Kamu kenal, kan?" ia memperlihatkan nama Irene di ponselnya kepada Bian.
"Aku mau keluar sebentar menerima telepon dari dia, ya!" pamit Arvy.
Bian mengangguk setuju. Arvy segera ke luar ruangan Bian.
"Halo, Irene? Ada apa?" tanya Arvy. Ia memakai kembali masker dan topinya.
"Kak Arvy dimana? Bukannya tidak ada jadwal lagi? Kok nggak ada di rumah?"
"Aku sedang di rumah sakit menjenguk teman."
"Oh ...."
"Ada apa, tumben kamu menelepon?" tanya Arvy.
"Malam ini Kak Arvy ada waktu?"
__ADS_1
"Malam ini aku ada kerjaan. Kalau di atas jam dua belas malam baru free lagi," jawab Arvy. Ia sesekali melihat-lihat kondisi takut ada yang mengenalinya.
"Yah ...."
Arvy mengerutkan kening. Irene sepertinya terdengar kecewa. "Memangnya kenapa? Kamu mau apa denganku?" tanyanya
"Kalau Kak Arvy memang tidak bisa, ya sudah, aku tidak jadi minta bantuan. Bye!"
"Anak ini!"
Arvy kesal sendiri karena Irene tiba-tiba menutup telepon. Ia mengabaikan Irene dan kembali masuk ke dalam ruangan Bian.
***
Ron memperhatikan ekspresi yang Nonanya tunjukkan ketika menelepon Arvy. Irene tampak cemberut dan menggerutu. Ia yakin rencana Nonanya tidak berjalan dengan baik. Terlihat sekali Irene sangat kesal dan mematikan sambungan teleponnya.
"Ron! Kak Arvy sibuk! Dia tidak bisa!" keluh Irene.
Dalam hati Ron ingin mengejek Nonanya. Namun, ia sadar diri hanya anak buah saja. Ia harus bersabar dan terus mendukung Nonanya yang keras kepala.
"Lalu, Nona mau mencoba meminta bantuan siapa?" tanya Ron.
"Antar aku ke perusahaan Kak Alan!" pinta Irene.
Ron memutar malas bola matanya. Seharusnya sejak awal Nonanya memang meminta bantuan kepada Alan. Namun, Nonanya punya pilihan yang membuat pusing sendiri.
Ron mengantarkan Irene ke perusahaan Alan dengan mobilnya. Irene menjadi pusat perhatian saat tiba di sana. Ron sudah menebaknya, dengan penampilan sejelek itu, Irene pasti akan jadi perhatian.
"Selamat Siang, Nona Irene?" seorang lelaki datang menghampiri mereka. Tampaknya orang tersebut merupakan asisten Alan.
"Pak Miko?" tanya Irene.
"Benar, Nona. Anda ada perlu apa datang kemari?" tanya Miko dengan nada ramah.
"Sepertinya Pak Alan masih ada rapat di atas. Tapi, akan saya coba cek siapa tahu rapatnya telah selesai. Nona mau menunggu di lobi atau ruangan Pak Alan?" tanyanya.
"Aku menunggu di sini saja," kata Irene.
"Baik, saya akan cek ke atas. Nona Irene mohon menunggu sebentar di sini," pinta Miko.
Lelaki itu berjalan ke arah lift menuju lantai atas. Sementara, Irene duduk di salah satu sofa yang tersedia di lobi perusahaan.
"Ron, kamu cepat pergi dari sini! Aku tidak mau Kak Alan tahu kalau kita saling kenal!" pinta Irene.
"Baik, Nona. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya saja."
Irene mengangguk. Ron pergi meninggalkan Irene sendiri di sana.
Tak berapa lama, Alan keluar dari dalam lift bersama Miko. Seperti biasa, penampilan Alan terlihat sangat keren dalam balutan kemeja kerjanya. Irene saja sampai terpesona melihatnya.
"Irene, ada apa?" tanya Alan khawatir.
Ia buru-buru mengakhiri rapat ketika Miko bilang Irene datang mencarinya. Irene hampir tidak pernah datang menemuinya di tempat kerja. Tidak mungkin jika Irene hanya iseng datang ke sana.
Irene menggigit bibirnya. Ia ragu untuk mengungkapkan tujuannya. Kalau sampai Alan menolaknya, sepertinya ia akan kabur agar tidak perlu menghadiri makan malam itu. Ia malas meminta bantuan Ares karena lelaki itu suka seenaknya, takut menceritakan hal-hal tidak masuk akal di hadapan ayah angkatnya.
"Kak Alan malam ini sibuk, nggak?" tanya Irene.
Alan mengerutkan dahi. "Miko, apa nanti malam aku ada janji?" tanyanya.
"Tidak, Pak. Anda tidak ada pertemuan setelah ini," jawab Miko.
__ADS_1
"Jadi, ada apa nanti malam sampai datang ke sini mencariku?" tanya Alan dengan senyumannya.
Irene melirik ke arah Miko. Ia malu jika harus mengatakan maksudnya.
"Menunduk sedikit, Kak!" pinta Irene.
Alan menurut. Ia menurunkan sedikit tubuhnya. Irene mendekat ke arah telinga Alan.
"Kak, kamu mau nggak jadi pacarku malam ini?" bisiknya.
Wajah Alan langsung memerah mendengarnya.
Bersambung .....
***
❤❤❤ Promosi ❤❤❤
Judul: Menikahi Mafia Arogan
Author: Momoy Dandelion
Bab 6: Tidak Bisa Lari
"Sebenarnya kamu siapa? Kenapa berbuat seperti ini kepadaku?" gerutu Cheryl.
Janu mengarahkan tatapan dinginnya. Ia sudah cukup kesal menerima laporan dari Thor bahwa wanita itu telah menghilang. Padahal, urusan bisnisnya masih banyak dan di harus dipusingkan dengan hilangnya wanita itu. Ditambah lagi ternyata Cheryl telah bertemu dengan mantan pacarnya.
"Aku suamimu, apa kamu lupa?" tegas Janu.
"Hah! Suami? Yang benar saja ... Apakah hubungan kita pernah seperti sepasang suami istri?"
Mendengar perkataan Cheryl, amarah Janu bertambah. Ia merupakan orang yang paling anti diremehkan.
Ia mendekat ke arah Cheryl, membuat wanita itu merasa tersudut. Dengan kedua tangannya, ia mengungkung tubuh Cheryl.
"Apa kamu sedang menantangku untuk melakukan hubungan suami istri? Apa kamu mengharapkannya?" tanyanya dengan senyum seringai.
Plak!
Cheryl melayangkan satu tamparan di pipi Janu. Ia melotot mendengar kata-kata yang tidak pantas dari lelaki itu. "Gila kamu!" bentaknya.
"Sepertinya jiwamu memang wanita yang kasar. Benar-benar tidak bisa dilatih untuk bersikap lembut rupanya." tamparan yang Cheryl berikan tidak ada apa-apanya baginya. Namun, harga dirinya terasa dilukai oleh wanita itu.
"Apa yang sebenarnya kamu mau dariku? Aku sudah mendengar semuanya dari Arsen!" Cheryl memberikan tatapan tajam.
Janu kembali menyeringai. "Apa kamu lebih percaya dengan mantan pacarmu itu? Ayahmu saja lebih percaya padaku daripada dia. Makanya hubungan kalian tidak pernah mendapatkan lampu hijau."
"Setidaknya dia tidak memberikan kebohongan murahan sepertimu!" bantah Cheryl.
Janu tampak menghela napas. "Istri sebaiknya lebih mempercayai suaminya sendiri dari pada orang lain. Hanya wanita murahan yang masih menemui mantan pacarnya setelah menikah seperti dirimu."
"Hah! Apakah pernikahan ini bisa dianggap sah? Ingatanku masih belum kembali dan aku ragu kalau pernikahan ini bisa diakui. Kamu banyak bohongnya."
"Mulut kecil yang banyak bicara memang sebaiknya dibungkam saja."
Secara mendadak Janu memagut bibirnya. Cheryl yang terkejut berusaha mendorong lelaki itu. Sempitnya ruang di mobil dan tenaga Janu membuatnya susah memberikan perlawanan.
Janu benar-benar gila sekaligus tak tahu malu. Meskipun ada sopir di depan yang sedang mengemudikan mobil, ia terus melahap bibir mungil itu dengan agresif. Tak cukup ciuman biasa, tetapi ciuman yang mendalam hingga napas mereka terdengar tersengal-sengal.
__ADS_1
Bahkan tanpa sadar Cheryl terhanyut dan membuka diri menerima ciuman itu. Di saat yang bersamaan, Janu menghentikan ciumannya.
"Seperti yang aku duga, kamu memang wanita gampangan," ejek Janu seraya duduk kembali ke posisinya semula.