Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 60: Why?


__ADS_3

Setelah kelas berakhir, Hansen berjalan mendekat ke arah Irene. "Irene, selamat, ya. Lagi-lagi kamu menjadi yang terbaik," ucap Hansen seraya mengulurkan tangannya.


Irene tersenyum sembari menjabat tangan Hansen. "Terima kasih, Hansen. Kamu juga hebat bisa menjadi peringkat kedua. Kampus pasti akan senang kalau kita bisa memborong piala pulang."


"Hahaha ... kampus harus membayar piala yang akan kita bawa pulang nanti."


"Jangan mau kalau tidak di atas sepuluh juta," ucap Irene lirih.


"Aku jadi tertarik untuk membuka bisnis denganmu. Kenapa kita satu kampus tapi baru saling mengenal sekarang? Sepertinya menarik juga kalau membangun bisnis bersamamu."


"Kalau aku banyak bergaul denganmu nanti bisa lupa kuliah saking sibuk berbisnis," ledek Irene. Hansen yang masih berkuliah sudah memiliki beberapa bisnis. Meskipun termasuk jarang mengikuti perkuliahan, namun nilainya selalu baik. Para dosen segan dengan kejeniusan yang dimilikinya.


Irene kira Hansen orang yang tertutup. Tenyata, ia begitu sportif mau mengakui keunggulan saingannya. Meskipun hanya peringkat kedua, di mata Irene, Hansen tetap seorang yang jenius.


Selesai kegiatan, Irene bergegas menuju halaman depan gedung. Hari ini Alan memberi tahu akan datang ke sana. Ia terlihat begitu senang didatangi oleh Alan.


"Kak!" sapanya seraya menepuk punggung Alan dari belakang.


"Kamu kelihatannya sedang senang?" tanya Alan.


"Soalnya aku tadi jadi peringkat pertama." Irene sedikit menyombongkan prestasinya.


"Benarkah? Apa memang kamu sepintar itu? Aku kira kamu hanya bisa makan gratisan," ejek Alan.


Irene mencebikkan bibirnya. "Kak Alan suka sekali meremehkan aku," kesalnya.


"Hahaha ... aku hanya bercanda." Alan mengusap kepala Irene. Sebenarnya ia sangat bangga mengetahui wanita yang beberapa waktu ini tinggal bersamanya ternyata bisa beradaptasi dengan baik. Prestasinya juga bisa dibilang tinggi, bahkan Ares tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Irene.


"Bagaimana kalau aku traktir makan?"


"Aku mau makanan yang enak dan mahal."

__ADS_1


"Terserah kamu, aku yang akan bayar."


"Kak Alan yang terbaik." Irene reflek menggandeng lengan Aland dan menyandarkan kepalanya dengan manja. Ia mengajak Alan menuju restoran mahal yang ada di dekat tempat itu.


Sementara itu, tanpa sepengetahuan Irene, ketiga teman sekamarnya sedang fokus memperhatikan dirinya.


"Wah ... ganteng banget ... apa itu pacar Irene?" guman Winda yang masih terpaku memandangi kedekatan Irene dengan lelaki yang menjemputnya di halaman gedung.


"Aku rasa iya. Irene kelihatannya senang sekali dijemput pacarnya. Tidak aku sangka dia sudah punya pacar dan setampan itu," ucap Jeha yang tak kalah terkesima melihat lelaki yang datang untuk Irene.


"Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya lelaki itu sudah berumur ... seperti bapak-bapak," sahut Meera yang masih tidak suka dengan Irene.


Winda dan Jeha saling berpandangan. Teman mereka yang satu itu memang sangat spesial, selalu punya pemikiran yang berbeda dengan lainnya.


"Kalau bapak-bapaknya ganteng seperti dia, aku juga mau, Meera," ucap Winda.


"Tapi, bapak-bapak yang seperti itu biasanya sudah berkeluarga, punya anak dan istri. Kalaupun belum menikah, biasanya lelaki seperti itu mencari mahasiswi untuk dijadikan pemuas n4fsu." Lagi-lagi Meera mengemukakan argumen yang aneh. "Aku rasa Irene jadi salah satu peliharaan sugar daddy deh," lanjutnya.


"Aku hanya menyampaikan pendapat, Jeha."


"Tapi, tidak sampai sejauh itu kamu berbicara buruk kepada temanmu sendiri. Ucapanmu sangat jahat!"


"Winda, aku akan buktikan kalau ucapanku benar, ya ... kalian harus hati-hati kalau memilih teman." Meera tetap teguh pada pendapatnya.


"Sekalipun kamu benar, bukan urusanmu juga dengan kehidupan pribadi Irene. Hati-hati dengan mulutmu." Winda berusaha mengingatkan Meera.


Meera tersenyum sinis kepada Winda. "Kita lihat saja nanti, Winda. Kalau aku bisa membuktikan kejelekkan Irene, kamu pasti akan menyesal dengan ucapanmu. Bisa saja Irene hanya pura-pura polos tapi ternyata wanita yang pandai merayu. Aku masih ragu kalau dia benar-benar pantas untuk masuk dalam seleksi kompetisi ini. Jangan-jangan dia memiliki orang dalam."


"Jeha, ayo kita ke kamar saja. Ada yang bicaranya semakin ngelantur nggak jelas," ajak Winda.


"Pergilah! Kalian nanti juga bakalan tahu sendiri aslinya dia bagaimana! Tunggu saja bukti dariku!" gerutu Meera yang kesal ditinggalkan oleh Jeha dan Winda.

__ADS_1


Meera mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang yang bisa membantunya mencari kebenaran tentang Irene.


"Halo ... aku ada tugas untukmu."


*****


Irene benar-benar memilih restoran yang paling mahal di area itu. Ia juga memesan banyak makanan yang disukainya. Alan sampai keheranan melihat Irene yang selalu bisa kuat makan banyak tapi tubuhnya tetap kecil.


"Apa di tubuhmu banyak cacing? Kenapa semua makanan yang masuk ke tubuhmu tidak jadi daging? Bahkan sebanyak apapun kamu makan tubuhmu juga tetap pendek," ledek Alan.


Irene memberikan lirikan tajam ke arah Alan. "Kak Alan tidak lupa bawa dompet, kan?" tanyanya.


"Apa hubungannya dompet dengan makanan yang masuk ke perutmu?"


Irene kembali mengiris steak daging wagyu yang juicy lalu mengunyahnya perlahan, menikmati keempukan dari menu terfavorit di restoran itu. "Biasanya yang suka menyindir porsi makan orang yang ditraktir itu karena lupa membawa dompet atau tidak mampu bayar. Pokoknya, apapun yang terjadi, akan aku makan semua makanan ini. Masalah pembayaran, silakan kakak sendiri yang memikirkan cara bayarnya nanti." Irene menjulurkan lidahnya meledek.


Alan terkekeh dengan perkataan Irene. Entah mengapa wanita di depannya begitu menyenangkan, bisa menghidupkan suasana. Sepertinya dia harus bolak-balik ke sana hanya untuk menemui Irene. Sehari saja rasanya hampa kalau belum mendengarkan celotehan wanita yang menyebalkan sekaligus menyenangkan di saat yang bersamaan.


Alan selalu terkesima saat mendengarkan Irene bercerita tentang hal-hal sederhana yang dilakukannya dengan gaya khas dan ekspresif. Seakan setiap emosi yang dirasakannya bisa tersalurkan dengan baik sehingga orang lain bisa merasakannya.


Menatap caranya makan yang begitu lahap tidak pernah membuat Alan bosan. Rasanya ia ingin memberikan segunung makanan agar bisa terus memandangi wajah yang selalu bersemangat saat makan.


"Kak Alan kenapa makanannya tidak dimakan? Melamunnya nanti kalau makanannya sudah habis!" teguran Irene membuyarkan lamumannya. Ia segera mengangkat kembali sendoknya dan menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


"Lihat kamu makan saja sudah membuatku kenyang."


"Hah, apa?" tanya Irene yang kurang mendengar perkataan Alan karena sibuk makan.


"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Pelan-pelan saja kalau makan," kilahnya.


Irene kembali menikmati makanannya tanpa beban. Sepertinya ia tidak sadar bahwa Alan terus memperhatikannya dengan tatapan yang berbeda. Lelaki itu juga heran kepada dirinya dan perasannya sendiri. Entah mengapa ia selalu ingin bertemu dengan Irene. Wanita berpenampilan biasa-biasa saja itu mampu bisa menggetarkan hatinya, menimbulkan debaran-debaran yang ia sendiri belum memahaminya.

__ADS_1


__ADS_2