Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 298


__ADS_3

Irene dan Erika duduk bersama di bangku taman samping rumah, menikmati udara segar malam. Lampu taman yang redup menciptakan suasana yang tenang dan intim.


"Apa kabar, Ren?" tanya Erika.


"Baik. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Irene balik.


"Aku juga baik," jawab Erika seraya meneguk minuman jus di tangannya. "Ah, iya. Selamat atas pernikahanmu," katanya.


Irene tersenyum. "Terima kasih."


"Maaf sekali aku tidak bisa datang ke pernikahanmu. Aku sedang berada di luar negeri pada saat itu. Tapi aku berharap kalian berdua bahagia," ucap Erika.


"Tidak apa-apa, Erika. Aku mengerti, kamu punya urusan yang penting. Yang terpenting, kamu ada di sini sekarang. Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Irene mengingat kembali momen kebersamaan yang pernah mereka lalui.


Erika mengangguk sambil tersenyum, memandang Irene dengan tulus. "Iya, benar sekali. Mungkin sudah dua tahun atau lebih kita tidak pernah bertemu. Aku kaget sekali melihatmu berubah seperti ini," katanya.


Irene hanya tersenyum kikuk. Ia selama ini mengenal Erika dengan wajah penyamarannya. Wajar jika wanita itu seperti tidak mengenalinya.


"Maafkan aku, dulu memang ... entahlah, kenapa aku juga berpenampilan seperti itu." jika mengingat kembali Irene ingin menertawakan kelakuannya. Ia bersusah payah menjadi jelek agar batal menikah dengan Tuan Muda keluarga Narendra. Tapi, pada akhirnya dia sendiri yang jatuh cinta kepada putra pertama kekuarga itu, Alan Narendra.


"Hahaha ... Memang lucu sekali. Mereka semua dulu sangat membencimu kalau kamu mau tahu," kata Erika.

__ADS_1


"Ya, aku tahu. Mereka memang sering menggangguku. Kecuali Kak Alex," kata Irene.


"Dulu memang Alex menyukaimu, Ren. Sayangnya kamu malah memilih Kak Alan," ujar Erika dengan ekspresi wajah yang berubah datar.


"Itu tidak benar," bantah Irene.


Erika menatap ke arah Irene. "Sebenarnya Alex itu orang yang sangat baik," katanya.


"Aku tahu. Kak Alex memang baik," ucap Irene sambil mangguk-mangguk.


"Sebelum Kak Alan masuk ke perusahaan, Alex yang lebih dulu berjuang keras untuk mempertahankan perusahaan agar tidak jatuh ke tangan orang lain. Dia juga memperlakukanmu dengan sangat baik sementara saudaranya yang lain justru berusaha menyingkirkanmu dari sana."


"Iya," jawab Irene.


Irene mulai bisa memahami makna dari kebaikan Alex selama ini kepadanya. Pada awalnya Alex memang sangat tulus.


"Tapi, cerita tentang Alex yang dulu mungkin sudah terkubur dengan keburukannya sekarang. Bukan bermaksud membenarkan perbuatannya, tapi aku juga kecewa dia bisa berubah seperti itu."


Irene melihat kekecewaan di wajah Erika. "Lalu, bagaimana hubunganmu dengannya sekarang?" tanyanya.


"Apa?" Erika bingung dengan maksud pertanyaan itu.

__ADS_1


"Aku tahu kalau kamu menyukai Kak Alex," ujar Irene.


Erika terdiam sesaat. Ia hanya tersenyum.


"Kamu sejak dulu sangat perhatian dengan Kak Alex. Bahkan sampai saat ini kamu juga masih berhubungan baik dengannya."


"Itu karena kami berteman baik," kilah Erika.


"Aku rasa kamu punya perasaan yang lebih kepadanya," tebak Irene.


Lagi-lagi Erika hanya tersenyum. "Sebentar lagi aku juga akan menikah," katanya.


"Apa?" Irene terkejut mendengar pengakuan Erika.


"Salah satu alasan kepergianku ke luar negeri waktu itu, selain alasan pekerjaan, aku juga sudah bertunangan dengan seorang pengusaha asal Singapura. Tapi ini kejutan, aku juga baru memberitahumu. Alex belum aku beri tahu," katanya.


Irene tak berani berkomentar. Ia merasa Erika masih menaruh perasaan kepada Alex. Buktinya saja ia mau diajak datang ke acara keluarga padahal mereka tidak ada hubungan.


"Hidup ini memang kadang penuh kejutan, ya? Aku tidak pernah menyangka kalau akhirnya kamu menikah dengan lelaki galak seperti Kak Alan," ucap Erika. "Bagaimana setelah menikah? Dia tidak melakukan kekerasan kepadamu, kan?"


"Hahaha ... Tidak, Kak Alan sangat baik dan lembut," kata Irene.

__ADS_1


"Ah, tidak bisa dibayangkan seperti apa dia jadi suami. Di kantor saja galaknya minta ampun," ujar Erika.


__ADS_2