
"Kak, kamu mau nggak jadi pacar aku malam ini?"
Pertanyaan Irene membuat wajah Alan memerah. Ia jadi hampir salah tingkah saking senangnya.
"Em, aku tidak tahu apa maksudnya itu. Tapi, kalau memang kamu membutuhkan aku, baiklah ... Sepertinya aku bisa melakukannya."
Alan menjawab dengan berpura-pura santai untuk menutupi rasa gugupnya.
Irene bernapas lega, akhirnya dia tidak perlu bersusah payah lagi mencari lelaki yang lain. "Terima kasih, ya, Kak!" ucap Irene.
"Kamu tunggu sebentar di sini. Aku mau ke atas dulu menyelesaikan pekerjaanku. Sebentar saja!" pinta Alan.
"Ah, oke." Irene jadi bingung kenapa Alan harus ke atas lagi. Ia hanya menurut dan kembali duduk di sana.
Alan menarik Miko agar mengikutinya ke atas. Ia tampak tergesa-gesa. Sesampainya di ruang kerjanya, ia langsung meneguk segelas air.
"Miko, coba cubit aku!" perintah Alan.
"Hah, kenapa, Pak?" tanya Miko bingung.
"Cubit saja!" perintah Alan lagi.
"Baik, Pak!" Miko menuruti kemauan Alan. Ia mencubit pipi atasannya sendiri.
"Cubit yang keras, Miko ...," protes Alan karena merasa cubitan Miko tidak bertenaga.
Miko menambah kekuatan cubitannya.
"Aduh! Kamu ada dendam apa padaku!" Alan marah-marah karena Miko mencubitnya dengan sangat keras.
"Kan Anda sendiri yang meminta saya mencubit dengan keras." Miko kelihatan bingung sendiri.
"Keras sih keras, tapi jangan sekeras ini juga. Sepertinya kamu ada dendam terselubung padaku." Alan memegangi pipinya yang sakit.
"Maaf, Pak," ucap Miko.
Meskipun merasa sakit, Alan tampak bahagia. Ia senyum-senyum sendiri sembari memegangi pipinya. Membuat Miko merasa heran dengan atasannya sendiri.
Alan merasa senang karena ternyata itu bukan mimpi. Irene yang datang sendiri padanya dan meminta ia menjadi pacarnya meskipun untuk pura-pura.
__ADS_1
"Miko, kamu tangani sisa pekerjaan yang belum diselesaikan. Aku mau pergi bersama Irene dulu," pamit Alan.
Lelaki itu kembali ke bawah menemui Irene. Ia mengajak Irene menaiki mobilnya dan membawa wanita itu mampir ke salah satu pusat perbelanjaan.
"Kak Alan serius akan membantuku, Kan?" tanya Irene memastikan. Ia menikmati ek krim yang Alan berikan sembari berjalan-jalan di mall.
"Iya, aku serius. Aku mau karena aku merasa mampu membantumu," jawab Alan.
"Tapi, Kakak tidak boleh bicara macam-macam di depan ayah angkatku, ya? Takutnya Kak Alan seperti Ares. Dia kan suka mencari kesempatan untuk mempermalukanku."
Alan mengerutkan dahinya. "Bagaimana bisa kamu menyamakanku dengan Ares?" ia tidak mau dibanding-bandingkan.
"Kalian kan saudara. Bisa jadi punya sifat yang sama. Tapi, kalau Kak Alan aku rasa bisa lebih dewasa, kan?" tanya Irene dengan senyuman manisnya.
Alan rasanya ingin meleleh melihat senyuman itu. "Kamu tenang saja, pura-pura menjadi pacarmu itu hal gampang. Aku akan mengikuti permainanmu."
"Ayah angkatku orang yang peka. Kalau kita terlihat kaku, bisa saja ketahuan pura-pura. Aku sedang malas saja dijodoh-jodohkan terus. Memangnya aku tidak bisa mencari jodoh sendiri" gerutu Irene.
Alan meraih pinggang Irene dan memeluknya dengan mesra. Hal itu mengagetkan Irene.
"Kak Alan ...," gumam Irene. Ia menatap heran ke arah Alan dengan tatapan bertanya-tanya.
Irene tercengang dengan perkataan Alan. Ia bukannya risih, tapi takut tidak bisa mengendalikan diri dan akhirnya memeluk balik Alan.
"Temani aku membeli sesuatu. Pergi ke rumah ayah angkatmu akan sopan kalau membawa hadiah," kata Alan.
Irene hanya menurut. Ia merasa Alan lebih tahu apa yang harus dilakukan. Sikapnya yang sangat dewasa membuat Irene merasa diayomi. Alan sangat serius mempersiapkan sesuatu meskipun itu hanya pura-pura.
***
Alberto membidik sasaran dengan senapannya. Ia memfokuskan target sebelum mantap melepaskan peluru miliknya.
Dor! Dor! Dor!
Tembakan yang Alberto arahkan tepat mengenai papan latihan. Bidikannya sempurna.
Bryan turut mengangkat senjatanya dan melakukan hal yang sama. Bidikan Bryan juga tepat sasaran.
Mereka tengah latihan menembak di sore hari untuk menghilangkan kejenuhan. Juga untuk mengisi waktu menunggu kedatangan Irene di sana.
__ADS_1
"Bryan," panggil Alberto.
"Iya, Tuan."
"Aku rasa Irene hanya sedang membual. Dia pasti berpura-pura punya pacar. Aku tahu persis anak itu belum tertarik dengan lawan jenis. Ia lebih tertarik membuat masalah dari pada cinta-cintaan," kata Alberto.
"Kamu tidak perlu khawatir, Bryan, aku akan tetap mendukungmu dengan Irene. Aku rasa kamu orang yang tepat untuk Irene."
Bryan justru terlihat tidak peduli. Ia bahkan senang kalau Irene tidak tertarik padanya. Ia berharap Irene membawa seorang lelaki ke sana.
"Irene masih muda. Mungkin dia belum siap menikah. Kalaupun dia memang sudah memiliki orang yang dicintai, saya akan mengalah dan mengucapkan selamat kepadanya," kata Bryan seolah dia lelaki yang ikhlas menerima.
Alberto mengerutkan dahi. "Kamu belum tahu betapa istimewanya gadis itu. Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti sudah aku jodohkan dengan anakku sendiri."
Bryan tidak habis pikir mengapa wanita yang menurutnya biasa saja bisa mendapatkan keistimewaan di mata Alberto. Di luar gelar ganda yang diperolehnya, menurut Bryan Irene seperti wanita biasa pada umumnya.
Alberto mengajak Bryan masuk ke dalam ruangannya. Di sana masih tersimpan beberapa benda yang berkaitan dengan Irene.
"Irene sangat suka melakukan hal yang diluar dugaan. Seperti saat datang ke sini, aku hampir tak mengenalinya karena dia memakai riasan yang sangat jelek. Tapi, anjing-anjingku tetap bisa mengenalinya."
Alberto memberikan album foto yang sudah tampak usang kepada Bryan.
Bryan menerimanya dan mulai membukanya lembaran demi lembaran. Matanya terus terpaku pada potret yang ada di dalamnya.
"Itu foto-foto lama Irene," kata Alberto.
Bryan terkejut. Ia tidak menyangka kalau sosok asli Irene sangat cantik, jauh berbeda dengan yang ia temui secara langsung.
"Jadi, dia sedang menyamar?" tanya Bryan keheranan.
"Entahlah. Itu mungkin saja. Katanya menyenangkan berpenampilan seperti itu. Aku tidak pernah bisa menebak jalan pikirannya.
Semakin melihat foto-foto itu, semakin muncul kekaguman di hati Bryan. Memang tidak mungkin jika Irene hanya wanita biasa yang bisa menarik perhatian seorang Alberto. Irene benar-benar wanita yang sangat menawan.
"Aku berharap dia mendapatkan pasangan hidup yang bisa menjaganya dengan baik," ucap Alberto sembari meneguk minumannya.
"Saya ... Akan berusaha agar bisa bersama Irene," kata Bryan. Sepertinya tidak akan ada yang menolak jika dijodohkan dengan wanita secantik itu. Apalagi dia juga wanita yang cerdas.
Alberto hanya tersenyum melihat respon Bryan. Ia sangat tidak sabar menantikan siapa lelaki yang akan Irene bawa ke hadapannya. Ia berharap lelaki yang lebih dari pada Bryan.
__ADS_1
"Tuan, Nona Irene telah datang," ucap seorang pelayan yang datang menghampiri mereka.