Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 84:


__ADS_3

"Makasih ya, Kak!" ucap Irene ketika mobil Alan berhenti di depan kampusnya.


"Masuklah! Jangan sampai kamu telat. Katanya hari ini ada kuliah pagi, kan?"


"Iya, Kak."


Irene keluar dari mobil milik Alan, lalu menunggu mobil tersebut pergi dari hadapannya.


"Cie ... Yang diantar orang ganteng ... Bikin iri, deh!" ucap Winda. Tiba-tiba saja dia dan Jeha sudah muncul di dekat Irena.


"Kalian tinggal di asrama untuk apa datang pagi-pagi? Bukannya masih ada waktu yang lumayan lama sebelum perkuliahan dimulai?" ucap Irene.


"Mau belajar bareng kamu, Ren! Nanti kan jadwalnya ulangan mata kuliah Pak Bambang," ucap Jeha.


"Biasanya yang diujikan materi yang sudah pernah beliau sampaikan, Kok!"


"Apa yang Beliau sampaikan saja aku tidak tahu, Ren." Winda menggaruk kepalanya.


"Kita nggak pernah dengerin kalau pas kuliahnya Pak Bambang, Ren. Mohon bimbingannya, hehee ...."


Irene hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan kedua temannya. Mereka bertiga berjalan masuk ke ruang perkuliahan bersama-sama. Sebelum perkuliahan dimulai, Irene memberikan gambaran soal dan jawaban yang sekiranya akan keluar saat ujian. Winda dan Jeha hanya mengangguk-angguk dengan penjelasan yang Irene berikan.


Ujian tertulis akhirnya dimulai. Dalam kelas Pak Bambang, jangan harap ada yang bisa tengok kanan kiri. Ketahuan mencontek, Pak Bambang tidak akan segan mengeluarkan mahasiswa tersebut dari kelasnya. Jangan ditanya bagaimana nilai akhirnya, pasti akan diberikan nilai E tanpa ragu dan harus mengulang semester depan.


"Hanya ada satu yang mendapatkan nilai sempurna dalam ujian kali ini," ucap Pak Bambang.


Seluruh mahasiswa serius mendengarkan perkataan Pak Bambang. "Beri tepuk tangan untuk Irene!" katanya.

__ADS_1


Seisi kelas langsung riuh memberikan tepuk tangan kagum terhadap Irene. Sementara, orang yang sedang dipuji malah masih terbengong karena tidak menyangka akan mendapatkan nilai sempurna. Sudah menjadi kebiasaan jika Irene sengaja menyalahkan sedikit jawaban yang dibuatnya.


"Tumben bisa dapat nilai sempurna. Khilaf, ya?" tanya Bian.


"Aku juga nggak tahu, kok bisa ya ...," gumam Irene.


"Kamu keren banget, Ren! Aku sangat bersyukur tadi sempat belajar denganmu. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan bisa mengerjakan soal yang Pak Bambang berikan." Winda tampak sangat bersyukur dengan bantuan Irene.


"Sama! Aku juga tadi tidak bisa," ucap Jeha. "Nanti jalan-jalan, yuk!" ajaknya.


"Maaf, ya! Sepertinya aku tidak bisa. Soalnya aku ada urusan," tolak Irene.


"Urusan apa, Ren? Sok sibuk kayak ibu pejabat saja," celetuk Bian.


"Latihan dulu, Bian. Siapa tahu nanti ada kesempatan menjadi pasangan bupati," guraunya.


Usai perkuliahan selesai, Irene berpisah dengan teman-temannya yang memilih untuk mengerjakan tugas di perpustakaan. Irene merasa bisa mengerjakannya sendiri di rumah sehingga ia menunda pengerjaan. Fokusnya kali ini ingin membelikan hadiah untuk Alan yang akan berulang tahun


Irene menyusuri seisi pusat perbelanjaan megah untuk membeli kado. Ia masih bingung akan memberikan kado apa. Dari mulai toko tas, pakaian, hingga aksesoris ia sambangi, namun belum ada satu benda pun yang menarik perhatiannya.


Mau ikut-ikutan membelikan hadiah mobil seperti Ares juga rasanya mustahil. Tidak mungkin seorang Alan akan mau diberi kado sekedar mobil Br*o atau Ag*a yang murah. Minimal harus berharga miliaran.


Saat melewati gerai pakaian pria, matanya tiba,tiba terpana pada dasi yang terpasang di sana. Tanpa membuang waktu, ia langsung masuk ke dalam toko tersebut. Sebuah dasi berwarna hijau begitu menarik perhatiannya. Ia rasa dasi tersebut akan sangat cocok bagi Alan. Ia juga memilihkan dasi lain yang warnanya berbeda.


Saat hendak menarik dasi yang diinginkannya, ada seseorang yang juga menginginkan dasi tersebut. Irene sampai terkejut saat menyadari bahwa wanita yang hendak merebut dasinya adalah Sovia, mantan pacar Alan.


"Oh, ada si jelek rupanya di sini. Kenapa ya, orang-orang zaman sekarang semakin tidak tahu diri dan menempatkan diri dengan benar," sindir Sovia.

__ADS_1


Irene yang kesal dengan kehadiran Sovia mendadak, langsung menarik kasar dasi pilihannya hingga terlepas dari tangan Sovia. "Nenek lampir apa kabar?" ledek Irene.


Sovia langsung mendelik saat disebut nenek lampir. "Berani kamu menghinaku?" Ia hendak memukul Irene dengan tangannya.


"Ya berani lah!" dengan keras ia menepis tangan Sovia.


Sovia selalu gregetan berhadapan dengan Irene. Ia tak habis pikir kenapa wanita sejelek itu masih saja bertahan di kediaman Narendra. Ia sampai pergi ke dukun untuk meminta ajian pengasih agar bisa berbaikan lagi dengan Alan.


"Kamu pikir harga dasi itu puluhan ribu seperti di pinggir jalan? Aku beri tahu kalau dasi yang sedang kamu pegang itu harganya belasan juta," ucap Sovia.


"Pelayan toko kenapa membiarkan pengemis seperti dia masuk?" seru Sovia sebagai bentuk protes membuat beberapa staff mendekat.


Irene begitu jengah dengan kelakuan Sovia. Kalau saja dia bukan wanita, mungkin Irene sudah menghajarnya.


"Serahkan dasi itu! Aku akan memberikan imbalas yang lumayan kalau mau memberikan dasi itu kepadaku. Bahkan uang yang akan aku berikan bisa kamu gunakan untuk memborong dasi di pasar malam." Sovia berusaha menawarkan imbalan yang menggiurkan.


Sebenarnya Irene juga tertarik dengan penawaran Sovia. Kapan lagi ia punya kesempatan untuk memoroti wanita sombong itu. Akan tetapi, kali ini ia benar-benar baru menemukan barang yang menurutnya sangat cocok untuk Alan. Ia tidak akan melepaskan benda tersebut dan akan membelinya.


"Aku heran kepadamu, Sovia ... Katanya wanita berkelas, tapi selera mengikuti orang kampungan sepertiku." Irene terkekeh.


"Aku cuma takut kalau kamu tidak punya uang untuk menebus dasi mahal itu di bagian kasir. Dua dasi yang kamu pegang itu nilainya dua puluh lima juta."


Irene memilih untuk mengabaikan ucapan Sovia. ia berjalan membawa kedua dasi tersebut ke arah kasir. Sepanjang jalan, beberapa karyawan terus memantaunya bagaikan CCTV. Sepertinya hasutan Sovia berhasil sehingga mereka mencurigai Irene.


"Kalian santai saja, Kakak-kakak ... Aku tidak separah yang orang itu bilang. Uangku ada banyak tenang saja."


Irene sengaja berbicara dengan nada yang agak keras agar orang disekitarnya mendengar. Ia serahkan kedua dasi kepada kasir lalu memberikan uang cash senilai dasi yang diambilnya. Para pelayan toko yang sempat mencurigainya ikut tercengang saat melihat tumpukan uang yang Irene keluarkan dari dalam tasnya.

__ADS_1


Ia heran saja sampai sekarang kenapa orang-orang masih saja memandang sesuatu dari penampilan. Jika penampilannya seperti orang kaya biasanya akan disanjung dan dilayani bak raja. Bagi yang penampilannya biasa malah akan dikira copet atau pengutil. Usai membeli dasi yang diinginkannya, Irene pergi meninggalkan toko tersebut.


__ADS_2