
Seperti biasa, Irene memastikan tugas perkuliahannya telah selesai sebelum ia tinggal ke luar negeri selama beberapa hari. Betapa senang hatinya hari ini ia akan pergi bersama Hamish ke Perancis. Kakak sepupunya yang baik hati akan mengurus segala keperluannya di sana. Ia bahkan diberi tiket untuk ikut balapan.
Hamish tidak seperti kakeknya. Lelaki dewasa itu mendukung keinginan Irene untuk ikut balapan. Persyaratan yang Hamish ajukan hanya satu, Irene harus jadi juara.
Seperti tiga tahun lalu di Perancis, ia pernah memenangkan balapan internasional di sana. Bahkan, catatan waktunya belum ada yang mengalahkan sampai sekarang.
Selama tiga hari ini ia ikut tinggal di apartemen Hamish. Ia sedang malas saja bertemu dengan Alan karena Amina. Setelah ia pergi tanpa pamit, Alan menghubunginya, menanyakan alasan kenapa sudah lebih dulu pergi dari hotel. Ia hanya membalas tiba-tiba dijemput keluarganya untuk pulang.
From: Alenta
Hai, Mr. Alan. Sebelumnya minta maaf karena minggu depan tidak bisa memberikan pembelajaran Bahasa Persia seperti biasa. Saya ada urusan di luar negeri.
Irene mengirimkan pesan tersebut kepada Alan.
"Sudah siap berangkat?" tanya Hamish yang berdiri di depan pintu kamar Irene.
Irene mengembangkan senyum. Ia menghampiri Hamish dan memeluknya. Koper yang telah ia persiapkan di depan pintu dibawa oleh Hamish dengan tangan kiri. Sementara, tangan kanannya menggenggam tangan Irene.
Lelaki itu terlihat begitu senang dengan sikap Irene yang suka bergelayut manja kepadanya seperti dulu. Padahal fisiknya sudah sebesar itu, namun sikap Irene masih sama.
"Apa saja rencanamu di sana nanti?" tanya Hamish.
"Balapan!" tegas Irene.
Hamish hanya tersenyum mendengar jawaban Irene. Seolah pergi bersamanya menjadi kesempatan untuk sedikit melakukan kebebasan.
"Apa tidak ada keinginan lain di sana? Melihat menara Eiffel mungkin?"
"Untuk apa? Aku sudah sering melihatnya saat di Eropa. Bagiku itu sudah seperti tiang SUTET milik PLN."
"Hahaha ...." Hamish tidak bisa menahan tawa mendengar jawaban Irene. "Terserah kamu saja. Yang penting kamu menang."
__ADS_1
"Jangan meremehkan aku, Kak. Aku pasti menang." Irene sangat percaya diri dengan kemampuannya. Meskipun selama di tanah air sudah jarang balapan karena larangan sang kakek, ia yakin insting pembalap dalam dirinya masih baik.
"Satu hal saja yang akan aku peringatkan, jangan pergi sendirian di sana. Kamu harus terus bersama bodyguard."
Irene memutar kedua bola matanya tanda tidak suka. Hal menyebalkan adalah diawasi.
"Kenapa? Tidak suka? Itu juga demi kebaikanmu."
"Aku bisa menjaga diri sendiri, Kak. Aku bisa bela diri!"
Mendengar jawaban Irene yang masih keras kepala, Hamis menarik tangan Irene, mendorong sepupunya ke arah dinding secara cepat. Kedua tangannya mengunci tubuh Irene agar tidak bisa bergerak. Wajah mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.
Irene terkejut dengan perlakuan Hamish yang tiba-tiba. Bahkan sepupunya itu semakin mendekatkan wajahnya seakan ingin menciumnya. Ia tak bisa melakukan perlawanan sama sekali. Saat wajah Hamish semakin merapat kepadanya, ia hanya bisa memejamkan mata.
Hamish memandangi wanita menggemaskan yang ada di hadapannya. Gadis kecil itu kini telah menjadi wanita dewasa. Andai saja mengikuti hasratnya, mungkin saat ini bibirnya telah berlabuh pada bibir mungil yang tampak segar itu.
Tapi, Hamish tak mau gegabah dan membuat Irene takut. Ia memilih menahan keinginannya untuk memiliki sepupunya. Hamish hanya mampu mengecupkan bibir di pipi Irene dengan lembut.
Perlahan Irene membuka matanya, melihat Hamish yang sedang menahan tawa di hadapannya. Ia kesal sendiri sepupunya sedang menggodanya.
Memang, sejago-jagonya ia bela diri, masih belum ada tandingannya untuk melawan Hamish.
"Sudah mengerti sekarang? Mau janji nanti di sana tidak boleh kabur atau pergi sendiri?" Hamish menegaskan ucapannya.
"Iya! Aku tidak akan sembarangan di sana," ucap Irene sambil memanyunkan bibir.
"Kamu harus ingat kalau orang tua kita meninggal karena dibunuh. Ada banyak musuh baik di dalam negeri maupun luar negeri. Apalagi di Perancis keluarga kita juga cukup dikenal dan mereka masih mengincar keturunan keluarga Abraham."
Irene mengangguk. Setiap kali mengingat orang tua yang sudah meninggal, ingin rasanya ia balas dendam menghabisi mereka yang telah tega menghancurkan keluarganya. Tapi, kakeknya selalu melarang untuk membalas. Berbeda dengan Hamish, lelaki itu masih ambisius untuk menghabisi musuh-musuh keluarganya.
Irene dan Hamish menaiki sebuah mobil yang akan mengantar mereka ke bandara. Hamish mempersiapkan fasilitas terbaik untuk penerbangan mereka. Bahkan, first class ia borong untuk dirinya dan rombongan.
__ADS_1
Hamish terus memperhatikan Irene yang mendapat tempat duduk di sebelahnya. Kabin mereka berdekatan hanya dibatasi sekat.
Entah mengapa rasanya ia tak bisa melepaskan pandangannya dari wanita yang sangat ingin ia jaga. Sejak dulu penghalangnya adalah sang kakek. Katanya ia tak boleh jatuh cinta apalagi berniat menikahi Irene karena mereka sepupu. Padahal, menurutnya tidak ada yang salah. Mereka hanya sepupu, bukan saudara kandung.
Ia sendiri tidak bisa mengatur hatinya untuk jatuh cinta kepada siapa. Selama ini, ia hanya tertarik untuk bekerja, mengembalikan kejayaan keluarganya. Satu-satunya wanita yang ia pedulikan hanyalah Irene karena merasa Irene merupakan satu-satunya keluarga yang ia punya.
"Kenapa, Kak? Kok melihat ke arahku terus?" tanya Irene dengan lirikan tajamnya.
"Memangnya tidak boleh aku melihat sepupuku yang semakin hari semakin cantik?"
"Oh, ya? Apa ini hanya sekedar ucapan manis saja? Aku yakin Kakak sudah banyak bertemu wanita bule yang bahkan jauh lebih cantik dariku."
"Kita juga bule, kan?"
"Ah, iya juga. Aku lupa."
Hamish kembali tertawa. Irene seperti anak polos yang tidak henti membuatnya terhibur. Bisa-bisanya Irene lupa kalau mereka masih ada darah keturunan Eropa. Bahkan, ada paman dari pihak nenek mereka yang tinggal di Perancis, membantu mengurusi rumah keluarga Abraham.
"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Hamish.
"Hah, pacar?" Irene cukup kaget ditanya seperti itu oleh Hamish.
"Ya, kamu sudah dewasa sekarang. Biasanya sudah memiliki pacar atau orang yang disuka."
Irene menyunggingkan senyum. "Memangnya tidak apa-apa kalau aku menyebutkannya? Kak Hamish tidak akan menghajarnya, kan?" sindir Irene. Ia ingat pesan sang kakek untuk menjauh dari Hamish karena berniat menikahinya. Tapi, Irene masih belum percaya jika Hamish benar-benar ingin melakukannya.
"Itu tergantung. Kalau aku tidak menyukainya, tentu saja akan aku hajar dan singkirkan dia. Mana boleh Irene-ku mendapatkan sembarang pendamping hidup."
"Aku belum punya pacar, Kak. Aku juga belum terpikir untuk menikah. Aku masih mau bersenang-senang dengan hidupku," jawab Irene. Selama ini kakek menyuruhku belajar terus, apa saja harus aku kuasai. Kapan aku bisa main kalau langsung menikah?"
"Hahaha ... Jadi, kamu sedang melewati masa bermain yang terlambat? Sepertinya Kakek sudah keterlaluan memperlakukanmu."
__ADS_1
"Ini juga salah Kak Hamish. Kenapa sering pergi meninggalkan aku?" kesal Irene memikirkan masa lalunya.