Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 310


__ADS_3

"Pa, coba lihat ini! Aku menemuka foto masa kecil anak-anak," kata Indira dengan raut wajah bahagia.


Ia berjalan menghampiri suaminya yang tengah terduduk di ruang tamu sembari menikmati secangkir kopi. Indira duduk di sebelah Vito memperlihatkan album foto yang sudah tampak usang. Di sana terdapat banyak sekali potret anak-anak mereka waktu masih kecil. Saat itu mereka masih bersama.


"Kamu dapat ini darimana?" tanya Vito.


"Aku mendapatkannya dari gudang!" kata Indira.


Mereka membuka satu persatu halaman album foto sembari berkomentar mengenang masa lalu. Indira juga tidak merasa terganggu dengan potret Alex yang ada di sana. Ia sudah lama menerima kekhilafan sang suami di masa lalu.


"Tidak terasa mereka semua sudah besar," kata Indira dengan seulas senyum.


"Tidak terasa juga kita telah menua bersama, Sayang. Tapi, kamu masih saja terlihat cantik di mataku," ucap Vito.


Indira tertawa kecil mendengar perkataan yang terdengar sebagai gombalan dari suaminya.


"Terima kasih ya, Sayang. Kamu selalu ada di sisiku bahkan di saat yang sangat sulit sekalipun," kata Vito. Ucapannya sangat tulus. Ia begitu beruntung bisa mendapatkan istri seperti Indira yang tidak pernah meninggalkannya.


"Tuan, Nyonya, ada beberapa polisi hendak menemui Anda," kata salah seorang satpam yang bekerja di kediaman Narendra.


Vito dan Indira saling bertatapan, bingung dengan kedatangan salah satu pelayan di rumahnya. Momen romantis yang baru saja terbangun seakan langsung sirna mendengar akan ada polisi yang datang.


"Biarkan mereka masuk!" pinta Vito.


Vito dan Indira terlihat cemas. Beberapa saat kemudian, beberapa orang polisi benar-benar masuk dan dipersilakan duduk di ruang tamu.


"Maaf, ada apa ini? Ada yang bisa kami bantu?" tanya Vito heran.


Salah seorang polisi memasang wajah serius. "Pak Vito Narendra, kami datang dengan kabar yang tidak menggembirakan. Putra Anda, Arvy, hilang akibat terbawa ombak di pantai."


Indira terkejut dan tak percaya. "Bagaimana mungkin? Apa yang terjadi?" ia terlihat panik.


"Kami menerima laporan bahwa Arvy nekat berenang untuk menyelamatkan seseorang yang terbawa ombak. Namun, dia juga ikut terbawa arus dan belum ditemukan hingga saat ini," jawab sang polisi.

__ADS_1


Vito memegang dada, tak percaya. "Oh, Tuhan... Bagaimana bisa ini terjadi?" kabar dari Arvy seakan membuat jantungnya ingin berhenti berdetak.


"Kami sudah membentuk tim penyelamat dan sedang melakukan pencarian di sekitar pantai. Kami berharap dapat menemukan Arvy secepat mungkin," sahut polisi yang lain.


Indira menangis. "Tolong, carilah putra kami! Jangan biarkan dia hilang begitu saja!" pintanya.


Beberapa pelayan yang mendengar perlahan mendekat. Mereka juga ingin mengetahui kabar salah satu tuan muda mereka.


Vito menenangkan Indira. "Sabar, Ma," ucapnya. "Pak polisi, mohon bantuannya. Terima kasih atas upaya yang telah dilakukan. Aku berharap kalian bisa segera menemukan putra kami," sambung Vito.


"Kami akan memberikan kabar terbaru segera setelah ada perkembangan. Tetaplah tenang dan berdoa," kata sang polisi.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu dan akan kembali melakukan proses pencarian," pamit pak polisi.


Mereka meninggalkan kediaman keluarga Narendra, sementara Vito dan Indira duduk di sofa dengan perasaan campur aduk.


"Tuan, Nyonya, apa yang terjadi?" tanya seorang pelayan senior di sana.


"Katanya Arvy hilang, Bi. Ini polisi dan tim sar masih melakukan pencarian," jawab Vito denvan nada bicara yang masih terdengar tegar.


"Berdoa saja, Bi. Mudah-mudahan Arvy segera ditemukan dalam keadaan selamat," ujar Vito.


Indira menangis. "Bagaimana ini bisa terjadi, Sata g? Anak kita, hilang begitu saja ...."


Indira menangis tersedu-sedu sembari memeluk Vito. Ia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan salah satu putranya. Apalagi belum lama ini mereka juga sempat kurang sepaham mempermasalahkan keberadaan Alex di rumah.


Vito menepuk-nepuk punggung Indira. "Kita harus tetap kuat, Indira. Arvy adalah anak yang kuat dan penuh semangat. Kita harus percaya bahwa dia akan kembali kepada kita."


Indira merasa bersalah. "Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak membiarkannya meninggalkan rumah. Arvy tidak perlu jadi artis. Kenapa syuting di tempat bahaya segala?"


Vito menggenggam tangan Indira dengan penuh kasih. "Ini bukan salah siapa pun. Kita tidak bisa mengontrol keadaan di luar sana. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mendukung tim penyelamat dan berdoa agar Arvy ditemukan dengan selamat."


"Hubungi Alan, Pa!" rengek Indira.

__ADS_1


"Bi, tolong ambilkan ponselku di ruang kerja!" pinta Vito.


Sang pelayan segera berlari ke arah ruang kerja milik tuannya dan beberapa saat kemudian kembali membawa benda yang diminta. "Ini, Tuan," kata sang pelayan.


Vito menerima ponsel tersebut. Ia segera menghubungi nomor Alan yang ada di dalam kontaknya.


"Halo, Papa? Ada apa?" terdengar sahutan suara Alan dari seberang telepon.


"Alan, ini Papa... Ada kabar buruk. Arvy hilang... Dia terbawa ombak di pantai," ucap Vito dengan nada gemetar. Apalagi ia melihat raut wajah istrinya yang tidak karuan akibat menangisi Arvy.


"Apa? Hilang?" Alan terdengar kaget.


"Iya. Katanya dia sedang ada syuting di daerah pantai. Dia mau menolong orang tapi dia sendiri ikut terbawa ombak."


"Oh, Tuhan... Papa, tetap tenang. Aku akan segera datang ke sana."


"Terima kasih, Alan. Papa tidak tahu harus berbuat apa." Vito terlihat ikut bingung dan tidak bisa berpikir. Suara tangisan istrinya turut membuatnya kalut.


"Papa dan Mama harus tetap tenang dan fokus. Aku akan melakukan segalanya untuk menemukan Arvy. Aku akan menggunakan helikopter dan menyewa tim penyelamat yang handal," katanya menenangkan.


Vito merasa sedikit lega. "Terima kasih, Alan. Tolong bawa Arvy kembali dengan selamat. Kamu juga harus jaga diri."


"Iya, Pa. Aku akan melakukan yang terbaik. Aku akan segera bergerak dan memobilisasi semua sumber daya yang ada. Jangan khawatir, kita pasti akan menemukan Arvy."


Sambungan telepon ditutup setelah Vito selesai berbicara dengan Alan.


"Sudah, berhentilah menangis. Aku sudah menelepon Alan. Dia juga akan turun langsung mencari Arvy," ucap Vito kepada Istrinya.


"Mau bagaimana lagi, Pa! Aku khawatir! Aku takut Arvy kenapa-napa!" kata Indira.


"Makanya kita mendoakan keselamatannya. Kalau kamu menagis terus begini, aku juga tidak bisa berpikir," kata Vito.


"Kita juga harus ikut cari Arvy, Pa!" kata Indira.

__ADS_1


"Untuk apa? Kita hanya akan menambah beban mereka saja. Biarkan tim penyelamat, polisi, dan Alan yang mencari langsung. Kita tunggu kabar selanjutnya bagaimana. Percayakan semuanya kepada mereka, ya!" pinta Vito.


Indira mencoba menenangkan diri. Ia mulai berpikir jernih tentang nasihat suaminya. Memang lebih baik ia menunggu saja perkembangan selanjutnya di rumah.


__ADS_2