Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 289


__ADS_3

Alan bangun pagi di apartemennya dengan perasaan yang segar. Ia mencium aroma wangi yang menggoda dari dapur, menandakan bahwa istrinya, Irene, sedang sibuk memasak. Dengan langkah ringan, Alan mendekati dapur dan melihat Irene sibuk mengaduk-aduk panci di atas kompor.


Alan menyunggingkan senyuman. "Selamat pagi, Sayang. Aku mencium sesuatu yang enak di sini," pujinya.


Irene tersenyum saat melihat Alan mendekatinya. Ia merasakan kehangatan saat pelukan Alan dari belakang.


"Selamat pagi juga, Sayang. Aku sedang membuat sarapan spesial untuk kita berdua. Pancakes dengan sirup maple dan potongan buah segar," kata Irene dengan malu-malu. Ia belum begitu terbiasa untuk mengubah panggilannya kepada Alan.


Alan mencium lembut leher Irene. "Mmm, kelihatannya sangat lezat. Aku beruntung memiliki istri yang pandai memasak," pujinya lagi.


Sentuhan bibir Alan di lehernya, membuat Irene sejenak meremang. Ia masih saja merasakan sensitif dengan setiap sentuhan yang Alan berikan kepadanya.


"Sayang, bisa kamu menjauh sebentar? Aku tidak bisa konsentrasi memasak," pinta Irene.


Entah mengapa seperti ada desiran yang mengalir saat Alan menciumi ceruk lehernya.


"Berhentilah memasak sebentar, Sayang. Sepertinya aku sudah sangat kelaparan dan ingin memakanmu," lirih Alan. Dengan nakal ia menggigit lembut telinga Irene hingga wanita itu mengeluarkan suara lengkuhannya.


"Ah, Kak Alan ...." rengek Irene. Ia segera mematikan kompor dari pada terjadi hal yang tidak diinginkan akibat kelakuan Alan.

__ADS_1


Alan terlihat senang berhasil membuat istrinya sedikit kesal dan merajuk. Ia menariknya dan membawa Irene ke area sudut dapur.


Tanpa berkata-kata, ia labuhkan ciuman mesra pada bibir manis wanita itu. "Sekali lagi, yuk," bujuknya.


"Kak, semalam kan kita sudah dua kali mengulangnya," protes Irene.


Sejak menikah, Irene tak bisa lagi selamat dari Alan. Lelaki itu terus mengurungnya di kamar. Bahkan masa bulan madu di luar negeri lebih banyak mereka habiskan di kamar dari pada jalan-jalan.


Alan seakan tak ada puasnya bermesraan dengan sang istri. Sampai mereka kembali ke tanah air, Alan masih melakukan hal yang sama. Setiap malam tak cukup hanya sekali ia memintanya. Irene bahkan sering tak berdaya dan hanya bisa berbaring seharian di kamar untuk memulihkan tenaga.


"Biasanya sampai 4 kali, kan? Aku masih kepingin," rengek Alan sembari memeluk sang istri.


"Hari ini kamu harus ke kantor. Kata Papa ada rapat penting, kan? Kamu bisa terlambat nanti," ujar Irene.


"Sudah, Kak, tidak ada waktu lagi. Cepat mandi dan sarapan. Aku sudah menyiapkan semuanya untuk pagi ini," kata Irene.


"Hm, aku tidak mau mandi sebelum dapat jatah pokoknya!" Alan bersikukuh seperti seorang anak kecil yang keras kepala.


"Aku masih sibuk memasak untuk nanti siang juga, Kak. Kalau nambah lagi nanti aku tidak kuat jalan," protes Irene.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu memasak. Biar aku panggilkan koki nanti. Aku lebih membutuhkanmu di atas ranjang, Sayang," goda Alan.


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya, Kak," pinta Irene.


Alan hanya tersenyum. Ia lantas mengangkat tubuh Irene dengan mudahnya seraya membawa sang istri seperti seorang putri menuju ke dalam kamar.


Bahkan kamar mereka masih berantakan akibat semalam dan Alan masih menginginkannya.


Tanpa rasa malu, Alan menanggalkan seluruh pakaiannya di hadapan Irene. Ia melangkah maju menghampiri Irene di atas ranjang dan mulai melepaskan apron yang masih dikenakan.


Irene tak melakukan perlawanan saat Alan melepaskan pakaiannya satu per satu. "Aku rasa setelah menikah pakaian tak terlalu berguna," gumam Irene lirik.


"Hahaha ...." Alan tertawa kecil mendengar ucapan Irene. "Semua orang akan memakluminya, Sayang. Karena kita masih pengantin baru. Bahkan kalau kamu hanya mengenakan apron saja seharian, aku tidak akan pergi bekerja hari ini," katanya.


Keduanya kembali saling berpagutan. Adegan kemesraan yang semalam telah terjadi kembali terulang. Mereka saling menyentuh, membuat hasrat keduanya semakin membara.


Alan tak bisa menahan gejolak jiwanya memiliki istri secantik itu. Apalagi setelah menikah dan membuatnya secara leluasa bisa merengkuh wanitanya.


Ia perlakukan secara lembut sang istri hingga membuat Irene terbiasa dengan sentuhannya. Saat tubuh mereka menyatu, tak ada lagi air mata seperti di malam pertama. Ia telah berhasil membawa Irene pada gejolak hasrat yang sama dengannya.

__ADS_1


"Sayang, I love you," kata Alan di sela-sela panasnya kegiatan bercinta mereka.


Irene tak sempat membalasnya. Ia hanya bisa mengerang dan menikmati setiap gerakan yang Alan ciptakan. Gerakan lembut, tidak terburu-buru yang membuatnya terlena sampai seakan terbang melambung ke angkasa.


__ADS_2