
"Terima kasih!" Alan menerima pemberian Sovia dengan raut wajah yang dingin. Ia kesal saja orang seperti Sovia bisa begitu percaya diri datang ke pestanya seperti hubungan mereka masih baik-baik saja.
Hampir Alan melemparkan hadiah yang diberikan Sovia, namun Ares datang untuk mencegahnya. Ares mengambil hadiah yang akan Alan buang. "Jangan seperti ini, Kak," ucap Ares dengan suara lirih. Ia berusaha menampilkan senyum kepada Sovia yang datang bersama kakaknya, Laga.
"Kak Sovia apa kabar? Sudah lama juga ya, kita tidam bertemu," ucap Ares basa-basi.
Ia tahu ada kakaknya Sovia yang turut hadir. Bersikap ramah kepada Sovia sebatas menghargai Laga yang memang mendapat undangan dari kakeknya. Laga berada di kumpulan yang tak jauh dari mereka. Jika Sovia merasa tersinggung, bisa-bisa Laga akan marah dan membuat hubungan bisnis kacau. Meskipun Laga bukan seorang pebisnis kelas atas, namun relasinya banyak orang penting.
Alan mungkin orang yang tidak terlalu peduli dengan hal sepele semacam itu. Apalagi Alan merupakan orang yang lebih mengandalkan logika dari pada sisi sosialnya. Sebagai seorang adik yang kebetulan melihatbkelakuan kakaknya, Ares berusaha mengcover agar sang kakak tidak mendapatkan cap buruk.
"Aku memang sedang sibuk dengan beberapa kontrak pemotretan, Ares. Kamu semakin dewasa ya, kelihatannya. Aku dengar kamu juga mulai ikut mengurusi perusahaan Kakek Narendra?"
"Masih belajar, Kak. Kuliahku juga belum selesai."
Alan terlihat jengah dengan perlakuan baik Ares kepada Sovia. Adiknya terus berlaku baik kepada wanita yang benar-benar ingin ia tendang ke laut. Ia mengalihkan perhatian ke arah lain hingga mendapati Irene yang sedang berjalan tak jauh dari arahnya.
"Irene!" panggilnya.
Irene menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia melihat Alan melambaikan tangan memberi kode agar ia mendekat. Irene berjalan mendekat ke arah Alan, Ares, dan Sovia.
"Kenapa, Kak?" tanya Irene dengan muka polos.
Ia menatap sekilas ke arah Sovia, wanita itu menunjukkan raut kekesalan terhadap dirinya. Ia juga masih kesal dengan kejadian di toko siang tadi. Kalau di tempat itu ada ring tinju, mungkin ia akan menantang Sovia berduel dengannya agar semua orang menyaksikan perkelahian mereka.
Alan menarik tangan Irene agar mendekat ke arahnya. Dengan santainya ia merangkul dan mengusap kepala Irene, membuat wanita itu tertegun dan membelalakkan mata.
"Terima kasih kadonya, ya ... Aku suka sekali. Seleramu sangat bagus," puji Alan.
__ADS_1
"Aku bersyukur Kakak menyukai kado kecil dariku," ucap Irene dengan senyuman kaku.
"Aku pasti akan memakainya setiap hari. Kamu juga harus menjadi orang pertama yang membantuku mengenakannya."
Irene tidak menyangka jika Alan telah membuka kadonya. Ia memang sengaja meletakkan kado untuk Alan di dalam kamar lelaki itu saat pesta hampir dimulai. Alan bersikap seolah-olah akrab dengannya, sengaja untuk membuat Sovia cemburu. Meski merasa sedikit risih, Irene berusaha mengimbangi akting yang Alan lakukan demi menghempas wanita siluman itu.
Akting mereka sukses membuat Sovia geram. Wanita itu memilih menyingkir menghampiri kakaknya yang masih sibuk berbincang dengan rekan bisnisnya.
"Walaupun tidak suka Kak Sovia, tidak seharusnya Kak Alan bersikap frontal di sini," ucap Ares.
"Dia tipe wanita tidak tahu diri dan tidak akan pernah mengerti bahasa isyarat manusia. Kamu usir terang-terangan saja dia masih tidak bisa peka meyadarinya," gerutu Alan.
"Lagian, kenapa sih dia diundang? Aku jadi malas ikut pesta Kakak," protes Irene.
"Kalau mau protes, bilang sendiri kepada Kakek. Soalnya Sovia datang bersama kakaknya," ucap Ares.
"Baiklah, hadirin sekalian ... Pada malam ini sudah berkumpul para lelaki dan wanita single. Jangan sampai ada yang sudah bersuami atau beristri mencoba menyusup dalam cara berikut ini, ya!"
Terdengar pembawa acara sedang mengumumkan sesuatu sembari berdiri di tengah area. Cahaya lampu telah berubah menjadi redup, baik lelaki dan wanita muda memakai topeng satu per satu memasuki area tersebut.
"Sebentar lagi acara dansa akan segera dimulai. Silakan dilihat kartu yang telah kalian dapatkan secara acak dari panitia."
Irene menjadi salah satu peserta di sana. Ia telah mengenakan topeng yang diberikan dan memandangi angka yang diperolehnya. Ia mendapat angka 9. Kalau saja kakek tidak memaksanya ikut, mungkin Irene akan lebih memilih masuk kamar. Ia tidak terlalu suka dengan acara semacam itu.
"Silakan peserta yang mendapatkan nomor urut sembilan maju ke depan! Kalian akan menjadi pasangan dansa selanjutnya."
Irene sampai kebingungan saat nomornya disebut oleh pembawa acara. Ia maju ke tengah menghampiri pembawa acara sembari membawa nomor urut yang diperolehnya. Betapa kagetnya ia, saat menyadari bahwa pasangan dansanya malam itu adalah Alan. Keduanya tampak canggung.
__ADS_1
Sementara, di sudut lain kakek sedang tersenyum senang melihat kebersamaan Alan dan Irene. Ia sengaja membuat acara dansa tanpa sepengetahuan Alan, juga memasangkan Alan dan Irene sebagai pasangan. Ia ingin melihat perkembangan hubungan mereka lebih lanjut.
"Hah ... Tidak disangka aku akan berpasangan dengan Kakak," gumam Irene.
"Aku bahkan tidak tahu akan ada acara seperti ini," keluh Alan. Kakeknya memang sangat iseng, suka mengerjai dirinya.
"Aku tidak bisa menari sama sekali, Kak," kata Irene.
"Jangan bercanda ... Bukannya kamu wanita multitalenta?"
"Serius, Kak ...."
Musik mulai diputar. Para pasangan dansa telah menari bersama dengan mesra. Alan dan Irene masih memandangi orang-orang di sekeliling mereka.
"Naiklah ke atas kakiku!" pinta Alan.
Irene tertegun sejenak. Alan memegangi tangan Irene agar wanita itu tidak jatuh saat menaikkan kakinya ke atas kaki Alan. Salah satu tangan Irene memegangi bahu Alan sementara tangannya yang lain digenggam oleh Alan.
Irene begitu gugup. Posisinya dengan Alan begitu dekat sampai jantungnya berdebar kencang. Tubuh mereka benar-benar rapat, sementara langkah kaki Alan membawanya terayun ke sana kemari dengan lincah. Ia bahkan tak bisa berkonsentrasi saat menghirup aroma parfum yang Alan menakan.
"Apa kamu sudah bisa mengingat gerakannya dengan baik?" tanya Alan sembari terus membawa Irene bergerak sesuai alunan musik.
"Belum, Kak," ucap Irene.
"Memang sepertinya gerakan ini lumayan sulit untuk pemula." Alan menghentikan gerakan mereka. "Kita berpelukan saja sembari bergerak ke kanan dan kiri," pintanya.
Irene tercengang dengan kemauan Alan. Belum sempat menolak, Alan sudah memeluknya dan mulai mengajaknya bergerak mengikuti alunan lagu. Ia semakin berdebar-debar, takut Alan menyadari kegugupannya.
__ADS_1
Keduanya terhanyut dalam suasana dan alunan musik. Pelukan yang mereka lakukan kian terlihat romantis dan luwes membuat orang yang melihatnya merasa iri. Kakek Narendra terus tersenyum memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.