Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Jalan-Jalan


__ADS_3

Alan mengerjapkan mata terbangun dari tidurnya. Kepalanya masih terasa berat sejak semalam. Padahal ia merasa tidak minum banyak, tapi entah mengapa semalam mabuk. Perlahan ia menurunkan tubuhnya dari atas ranjang, bergerak ke arah kamar mandi. Hal pertama yang ia lakukan menggosok gigi.


Tiba-tiba ia teringat kejadian semalam saat pulang. Meskipun samar-samar, ingatannya mulai muncul di dalam otak. Semalam Alenta yang mengantarkannya pulang dengan mobil. Saat sampai di kamar hotelnya, ia muntah dan muntahannya sampai mengenai pakaian Alenta. Wajahnya langsung kaku mengingat kejadian itu. Ia mempercepat rutinitas paginya untuk aegera menemui Alenta. Sepertinya ia perlu untuk meminta maaf kepadanya.


Usai mandi dan berganti pakaian, ia bergegas mengunjungi kamar Alenta yang ada di samping kamarnya. Wanita itu tampak merengut saat membukakan pintu untuknya. Dengan malas, Alenta mempersilakannya masuk.


"Aku mau minta maaf atas kejadian semalam, Alenta," ucap Alan dengan penuh rasa bersalah.


Irene masih kesal melihat Alan. Bau muntahannya sampai sekarang juga seperti masih bisa tercium di hidungnya. Ia sampai membuang gaun miliknya dan pakaian Alan yang terkena muntahan juga. Akan tetapi, baunya masih tetap ada.


"Sumpah, aku tidak sengaja muntah semalam. Aku bahkan tidak tahu akan mabuk hanya dengan sedikit minum. Kamu jangan marah lagi, ya ...." Alan berusaha merayu Alenta. Ia tidak mau ditinggalkan penerjemahnya begitu saja di negara yang tidak ia kuasai bahasanya. Apalagi urusan bisnis di sana belum selesai. Kalau sampai Alenta marah dan ngambek, kerjasama perusahaannya bisa bangkrut.


"Ini cek untukmu. Aku berikan bonus sebagai permintaan maaf sekaligus terima kasih untuk semalam. Aku benar-benar minta maaf."


Irene mengambil cek yang Alan berikan. Saat melihat nominal yang tertera di sana, ia sampai membelalakkan mata. Dua ratus juta! Ia kembali melihatnya takut salah menghitung jumlah nolnya. "Ini benar untukku?" tanyanya kegirangan.


"Iya, apa kurang?" tanya Alan.


"Nggak, sih! Ini sudah lebih dari cukup. Hahaha ...." Irene tertawa kegirangan. Uangnya bertambah lagi dua ratus juta ia jadi merasa sangat berbakat untuk bekerja dan mencari uang. 'Aku bisa cepat kaya ...,' gumamnya dalam hati.


"Jadi, jangan bahas lagi masalah semalam, ya! Aku juga malu."

__ADS_1


"Baik, Pak. Tenang saja. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" Setelah mendapatkan uang dua ratus juta, Irene langsung bersemangat.


Mereka kembali menjalani rutinitas menghadiri pertemuan bisnis membahas kerjasama ekspor impor antara kedua negara. Peran Irene sebagai Alenta sangat besar bagi kelancaran kerjasama yang digalang oleh perusahaan Alan. Sepanjang rapat, Alan tak henti-hentinya memperhatikan wanita bernama Alenta itu. Ia benar-benar yakin pernah melihatnya di suatu tempat. Bahkan, terkadang ia jadi teringat tentang Irene setiap kali melihatnya. Ia menepuk-nepuk kepalanya sendiri yang justru memikirkan Irene saat bekerja. Sepengetahuannya, Irene masih berada di desa bersama kakek neneknya.


"Pak, kita sudah jauh-jauh ke sini masa cuma menghabiskan waktu di hotel? Bapak tidak sedang kehabisan uang kan, untuk mengajak saya jalan-jalan?" kritik Irene.


Alan merasa wanita itu terlalu meremehkannya jika membahas soal uang. Ia merasa dianggap tidak mampu hanya untuk membiayai penerjemahnya itu jalan-jalan. "Aku mau-mau saja mengajakmu jalan-jalan. Tapi, kemana? Aku belum pernah berkunjung ke tempat ini sebelumnya."


"Itu gampang, Pak. Saya punya banyak referensi tempat bagus. Bapak hanya perlu sedia dompet saja." Irene langsung menggandeng tangan Alan dengan semangat. Ia tidak sabar untuk pergi jalan-jalan.


Tujuan pertama yang mereka datangi adalah Maharloo Salt, danau garam berair asin yang terdapat di dataran tinggi daerah Shiraz. Danau musiman itu memiliki warna merah muda yang indah dengan hamparan garam yang memadat. Warna putih padatan garam dengan warna air yang merah muda menjadi pemandangan yang sangat indah.


"Bagaimana, Pak? Apa tempat ini indah?" tanya Irene.


"Ya, tempat ini sangat indah. Aku baru melihat tempat seindah ini." Alan terkagum-kagum dengan pemandangan yang dilihatnya.


Setelah dari Maharlo Salt, Irene kembali membawa Alan mengunjungi Persepolis, kota tua peninggalan Kekaisaran Akhemeniyah atau yang lebih dikenal dengan Persia. Kota ini konon dibangun oleh Raja Darius I. Kini hanya tersisa puing-puingnya saja, namun masih menunjukkan kemegahannya pada zaman dulu. Berkunjung ke sana seakan mereka diajak untuk bernostalgia pada zaman kerajaan di Persia.


Destinasi terakhir yang Irene rekomendasikan adalah Pulau Hormuz yang dikenal sebagai pulau pelangi karena memiliki banyak warna berkat kandungan mineral yang tinggi di dalam tanah. Keunikan pulau ini berasal dari gunung yang ada di pulau tersebut yang ternyata kaya akan kandungan hematit, mineral yang dihasilkan dari oksidasi besi. Hal inilah yang membuat pulau ini memiliki banyak warna atau mirip pelangi.


Pulau yang dikenal dengan sebutan Organa bagi bangsa Yunani Kuno menampilkan panorama alam yang eksotis bagi wisatawan. Mulai dari pantai dengan berwarna semerah darah, bukit batu kecokelatan hingga kekuningan, serta formasi unik bebatuan lainnya.

__ADS_1


Saat berkunjung di sana, tiba-tiba Alan menarik tangan Irene untuk ikut bersamanya. Irene kebingunan menebak kemana lelaki itu akan membawanya. Ternyata Alan membawanya ke sebuah tempat banyak orang berkerumun. Kebanyakan yang datang ke sana merupakan kaum laki-laki. Hal yang lebih membuatnya heran, mereka sedang membahas batu di sana.


"Pak, mereka ngapain, ya?" tanya Irene kebingungan. Dari pecakapan yang ia dengar, mereka sedang melakukan tawar menawar batu. Sungguh aneh baginya ada orang yang mau membeli batu-batu itu.


"Ini tempat pesugihan, bisa cepat membuat kaya!" Alan mencoba melucu.


"Maksudnya apa sih, Pak?" Irene semakin tidak paham dengan ucapan Alan.


Lelaki itu tampak tertawa melihat wajah bingung Irene. "Alenta, ini tempat perjudian batu sih sebenarnya. Aku pernah melihatnya di salah satu negara yang aku kunjungi. Kalau beruntung, di dalam batu-batu itu saat dibelah bisa mendapatkan kristal, berlian, atau permata yang harganya sangat mahal."


"Bapak mau beli juga?" tanya Irene.


"Tentu saja. Jauh-jauh ke sini, melihat ada mereka, mana bisa kalau tidak ikutan. Ayo kala mau ikut, Alenta!"


"Tapi, Pak. Kita kan nggak tahu di dalam ada isinya apa nggak. Kalau ditipu bagaimana? Aneh sekali. Kenapa penjualnya tidak membuka sendiri saja batu-batu itu agar cepat kaya? Kenapa juga harus menjualnya ke orang?"


"Kamu tidak akan paham kalau tidak mencobanya sendiri. Sudah, ikut saja! Terjemahkan ucapan mereka padaku!" Alan kembali menarik tangan Irene.


Di tempat itu, Alan membeli begitu banyak batu. Irene hanya bisa geleng-geleng kepala melihat orang itu seperti gila batu. Mungkin mirip dengan fenomena demam batu akik di tanah air di mana para lelaki rela pergi ke sungai-sungai mencari batu.


"Kayaknya kalau Ponari di sini mereka juga bakal percaya kalau batu bisa menyembuhkan penyakit," gumam Irene.

__ADS_1


__ADS_2