Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 238: Penolakan


__ADS_3

"Apa? Dia dari keluarga Abraham?" tanya Indira dengan raut wajah sangat terkejut.


"Apa ada masalah, Ma?" Alan balik bertanya keheranan.


"Sepertinya yang bermasalah adalah kakekmu, Alan! Bisa-bisanya dia membawa putri keluarga Abraham ke rumah kita? Bahkan berniat menjodohkan kalian? Itu benar-benar gila!"


Indira merasa menyesal telah memuji kecantikan wanita yang ada di ponsel Alan. Seandainya sejak awal dia sudah tahu kalau wanita itu berasal dari keluarga Abraham, ia pasti sudah memaki dan mengolok-oloknya.


"Memang apa masalahnya kalau Irene berasal dari keluarga Abraham, Ma?" tanya Alan penasaran.


"Keluarga itu yang sudah membuat mama dan papa jadi seperti ini, Al!" Indira berkata dengan nada kesal.


"Tapi, orang tua Irene sudah lama meninggal, Ma. Tidak mungkin mereka yang melakukannya," kilah Alan. Meskipun hubungannya dengan Irene kurang baik, Alan tidak setuju Irene dijelekkan. Selama ini sikap Irene sangat baik selain kebohongan identitas yang dilakukan.


"Pokoknya dari pihak keluarga Abraham yang telah membuat mama dan papa seperti ini. Mungkin juga kakeknya yang melakukan hal itu," ujar Indira.


Alan masih tak bisa percaya. Kakek Abraham terlihat baik di matanya.


"Mungkin dia sengaja menyusupkan cucunya ke dalam keluarga kita agar bisa kembali menghancurkan keluarga kita. Batalkan pertunangan kalian, Al! Mama tidak mau punya hubungan lagi dengan keluarga Abraham!"


Alan hanya terdiam. Ia memang tak tahu menahu tentang peristiwa yang telah terjadi di masa lalu. Rasanya tidak mungkin hal itu terjadi. Kakeknya dan kakek Irene merupakan sahabat baik. Itu yang ia yakini sampai kakek sangat menyayangi Irene dan berharap bisa menjadikan wanita itu sebagai cucu menantu kakek.


"Alan, kamu mau mengikuti kemauan Mama, kan?" tanya Indira.


"Apa itu, Ma?"


"Putuskan pertunangan kalian!" tegas Indira.


Alan menghela napas panjang. "Kita bahas ini lain kali, Ma. Aku mau ke kamar Papa sebentar," pamitnya.


Alan sengaja membuat alasan itu untuk menghindari perdebatan lebih panjang dengan ibunya. Ia benar-benar belum bisa mengambil sikap terhadap hubungannya dengan Irene.


***


Irene baru saja tiba di rumah kakek dan neneknya. Ia langsung bergelayut manja kepada sosok nenek yang menurutnya selalu lembut.


"Kamu sudah sebesar ini masih saja seperti anak kecil, Ren," kata Nenek.

__ADS_1


Irene semakin mengeratkan pelukannya pada lengan sang nenek. "Aku mau jadi kembali kecil supaya bisa bergelayut manja pada nenek seperti ini," ucap Irene.


"Kamu itu sudah waktunya menikah. Kakek dan nenek sudah tidak sabar melihatmu mengenakan gaun pengantin di pelaminan lalu melahirkan bayi-bayi yang lucu supaya kami bisa bermain dengan mereka," ucap nenek.


"Katanya nenek mau aku menikah umur 25 tahun? Aku kan masih 22. Belum juga lulus kuliah," protes Irene.


"Kalau kamu kuliah terus, kapan selesainya? Memang dua gelar sarjana yang sebelumnya belum puas?" sahut sang kakek yang masih menikmati cerutunya di dekat jendela.


"Kakek sendiri yang mengirimku ke sana. Otomatis aku harus pura-pura kuliah supaya terlihat normal, Kek?" kilah Irene.


"Biarkan mereka tahu kalau memang kamu itu cerdas. Apa yang salah dengan wanita yang bisa lulus kuliah 2 gelar sekaligus di usia muda? Itu nilai plus untukmu. Mereka harus tahu kalau cucu kakek ini bukan gadis sembarangan."


"Takutnya mereka jadi minder, Kek. Bahkan aku terkadang merasa tidak butuh menikah karena sudah punya segalanya."


Kakek geleng-geleng kepala. Cucunya memang sempat menjadi biang rusuh setelah pulang ke tamah air.


"Sudahlah, Kek. Percuma juga berdebat dengan anak yang cerdas ini. Kita akan kalah," kata nenek.


"Terserah kalian saja!" kakek menyerah. Ia kembali menghisap cerutunya dan mrngalihkan perhatian ke luar jendela.


"Nek, besok temani aku ke makam papa dan mama, ya!" pinta Irene.


"Katanya Kak Hamish mau datang menemui kakek dan nenek. Apa dia susah ke sini?" tanya Irene.


Kakek dan nenek saling berpandangan.


"Iya, kakak sepupumu memang datang ke sini beberapa hari yang lalu," sahut kakek.


"Kak Hamish tidak bicara yang aneh-aneh, kan?" tanya Irene memastikan.


"Tidak, memangnya dia mau membahas hal aneh apa?" Kakek terlihat berusaha menutupi apa yang terjadi.


***


Irene terbangun dari tidurnya. Ia merasa haus dan hendak pergi ke dapur untuk mengambil minum. Dilihatnya ruang tengah lampu masih menyala. Ia menghentikan langkah saat mendengar percakapan yang terdengar serius dari kakek dan neneknya.


"Aku jadi memikirkan nasib Irene ke depannya," kata nenek.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan? Irene akan baik-baik saja. Sebentar lagi dia akan menikah dengan Alan. Dia lelaki yang baik," jawab kakek.


Irene terkejut karena mereka ternyata tengah membahas tentang dirinya.


"Bagaimana kalau dia tahu perjodohan itu hanya untuk mempermudah kita saja untuk mencari Zayn?" tanya nenek.


Irene tertegun mendengar ucapan nenek. Nama adiknya disebut-sebut.


"Dia tidak akan tahu kalau tidak ada yang memberitahu."


Irene jadi teringat permintaan nenek waktu itu agar ia mencari adiknya yang bernama Zayn. Saking sibuknya dengan masalah yang dialami selama ini, Irene sampai lupa untuk menemukan keberadaan adiknya.


"Irene sudah besar. Lebih baik kita katakan saja semuanya. Jangan sampai dia tahu dari orang lain," ujar nenek.


"Jangan sekarang. Tunggu setelah Irene menikah." kakek menentang keinginan nenek.


"Kenapa kamu bersikap seperti itu? Kita seperti sedang memanfaatkan Irene. Meskipun dia bukan cucu kandung kita, semoga saja dia tahu kalau kita tetap menyayanginya."


Air mata Irene tanpa sadar menetes ketika mendengar hal itu. Ia mengurungkan niat pergi ke dapur dan kembali ke kamar. Ia meringkuk di tempat tidurnya sambil menangis.


Srek!


Terdengar suara pintu kamar terbuka. Irene mengusap air matanya meskipun isakannya belum berhenti.


"Irene, apa kamu sudah tidur?" tanya nenek.


"Sudah nek, tapi aku terbangun, aku mimpi buruk," kilahnya.


Nenek turut merebahkan diri di belakang Irene. Ia memeluk tubuh Irene seperti yang dulu sering ia lakukan saat Irene masih kecil.


"Nenek akan tidur di sini menemanimu supaya kamu tidak takut lagi."


"Nek," panggil Irene.


"Kenapa, cucuku?"


"Nenek dan kakek tidak akan pernah meninggalkan aku, kan?" tanya Irene.

__ADS_1


"Tentu saja tidak. Kamu ini bicara apa? Mana mungkin kakek dan nenek meninggalkanmu," ucap nenek.


Mendengar jawaban nenek, Irene merasa sedikit lebih tenang.


__ADS_2