
"Aku heran saja kenapa Arvy harus memulai debutnya sebagai seorang penyanyi. Menurutku, dia sudah benar di jalurnya sebagai seorang model dan bintang iklan. Kalau mau merambah ranah yang lain, setidaknya pilih main film atau sinetron lah. Kenapa harus nyanyi?" keluh seorang mahasiswi yang kecewa artis idolanya saat ini mulai merambah dunia tarik suara.
"Pemikiran kita sama! Menurutku, suara Arvy itu pas-pasan. Tidak cocok jadi penyanyi." teman mahasiswi tersebut memiliki pendapat yang sama.
"Kayaknya dia aji mumpung, sih! Mentang-mentang ganteng, modal suara pas-pasan berani debut jadi penyanyi." mahasiswi lain memberikan pendapat yang lebih ketus.
"Aku kecewa sama Arvy. Rasanya hilang reflek sama dia."
"Nanti kalau albumnya tidak laku juga pasti akan balik ke rutinitas semula sebagai model dan bintang iklan. Memang berapa lama sih dia bisa bertahan dengan persaingan ketat di dunia tarik suara."
"Eh, tapi kalau fans yang sudah cinta mati pasti nggak akan peduli kualitas suaranya seperti apa. Yang mereka lihat kan ketampanannya."
"Fans bodoh sih kalau menurutku. Masa menjadikan orang lulusan SMA sebagai idola."
"Heh! Kamu menganggapku bodoh?" mahasiswi itu manyun dikatakan bodoh oleh temannya. Ia memang sangat suka dengan Arvy, namun sedikit kecewa juga karena Arvy mulai menekuni dunia tarik suara.
"Hahaha ... Coba dipikir sendiri kira-kira kamu bodoh atau tidak? Masa ada mahasiswa nge fans dengan orang yang hanya lulusan SMA."
"Memangnya kenapa?" tanya kedua teman dengan penasaran.
"Bayangkan saja menjadikan orang seperti itu sebagai idola artinya memberi dia kesempatan untuk mempengaruhi fans kalau sebenarnya pendidikan itu tidak penting. Bisa bahaya kan, negara kita bisa mengalami kemunduran kalau idolanya orang tidak berpendidikan."
"Seperti itu ya bunyi mulut orang yang berpendidikan?" sahut Bian.
__ADS_1
Ketiga mahasiswi itu tercengang mendapat sahutan dari Bian. Dulu, Bian memang mahasiswa yang culun dan kurang didengar. Setelah penampilannya berubah berkat Irene, Bian lumayan mendapatkan perhatian dari teman-temannya. Apalagi Bian yang sekarang lebih supel dan pandai bergaul.
"Kayaknya tidak ada seorangpun dosen yang mengajarkan mahasiswanya untuk merendahkan dan mengejek orang lain. Kata-kata yang barusan kalian ucapkan itu sama sekali tidak mencerminkan seorang mahasiswi berpendidikan."
Ucapan Bian singkat, padat, dan langsung mengena di hati ketiganya. Mereka tidak ada yang berani bicara membantah Bian. Bahkan mahasiswi yang tadinya paling berani menjelek-jelekkan Arvy ikut menciut saat Bian bicara.
Telinga bian rasanya panas sejak tadi mendengarkan ketiga mahasiswi di belakangnya terus membicarakan hal buruk tentang Arvy. Meskipun bukan salah satu fans Arvy, ia merasa risih ada yang menjelek-jelekkan orang lain tanpa melihat seperti apa dirinya sendiri.
Kedua temannya terus memberi isyarat agar ia berani bicara menentang perkataan Bian. "Memangnya ada yang salah dengan ucapanku? Arvy memang artis yang tidak mempedulikan pendidikannya, kok!" mahasiswi itu akhirnya berani bersuara setelah didesak kedua temannya.
"Bahkan di salah satu sesi wawancara, Arvy bilang ia juga hanya terpaksa sekolah SMA karena memang tidak suka sekolah. Makanya dia tidak lanjut ke perguruan tinggi!" tambahnya.
"Tapi, sepertinya Arvy tidak pernah mengkampanyekan kepada fans nya agar tidak usah sekolah." Bian sangat geram terhadap orang yang keras kepala dan berusaha menjatuhkan orang lain.
"Tapi, kenyataannya, suara Arvy memang pas-pasan!" wanita itu belum mau menyerah untuk menjelek-jelekkan Arvy.
"Warna suara itu hanya masalah selera, ya. Kalau tidak suka ya tidak perlu didengarkan. Memangnya suaramu juga sudah sangat bagus?" lagi-lagi Bian menyindir mereka.
"Ada apa, sih? Sejak dari luar aku dengar ada ribut-ribut di dalam," ucap Irene yang baru masuk ke dalam ruang perkuliahannya. Ia lihat Bian masih tampak bersitegang dengan beberapa wanita yang merupakan teman satu rombel mereka.
Bian menunjukkan muka masam dan kesal kepada Irene yang duduk di sebelahnya. "Bantu kenapa, sih? Mereka sejak tadi tidak bisa diam menjelek-jelekkan Arvy, katanya suaranya jelek dan pas-pasan. Aku lihat di akun medsos Arvy, mereka juga memberikan komentar buruk."
Irene menoleh sekilas ke belakang untuk memastikan ketiga wanita yang berani menjelek-jelekkan Arvy. Meskipun dia dan Arvy sering bertengkar, tapi kalau ada yang menjelekkan lelaki itu, ia jadi tidak terima.
__ADS_1
Irene menyunggingkan seulas senyum sembari mengutak-atik ponselnya. "Kalau mau mendiamkan mereka, tidak usah susah payah menggunakan ucapan. Pakai saja peribahasa: diam-diam menghanyutkan," katanya.
Irene memperlihatkan ponselnya kepada Bian. Lelaki itu langsung membulatkan mulutnya saking terkejut. Ia lihat salah satu akun orang yang ada di belakang mereka telah berhasil Irene retas dan ditambahkan foto-foto aib yang pernah mereka miliki saat di jam perkuliahan. Bian merasa takjub, Irene begitu cekatan langsung melakukan pembalasan.
"Gila kamu, Ren!" guman Bian.
"Dua lainnya sekalian, gak?" tanya Irene dengan semangat. Mengerjai orang memang merupakan hobinya.
***
Pulang dari kantin, dengan tubuh yang lunglai Irene berjalan memasuki ruang tamu dan menuju ruang tengah. Ia ingin segera masuk ke dalam kamar, membersikah tubuh dan merebahkan diri di ranjang.
Saat berada di dekat tangga, ia mendengarkan samar-samar suara denting piano di lantai dua. Niatnya naik ke kamar dengan lift ia urungkan ketika mendengar suara alunan musik yang merdu itu.
Rasa penasaran menuntunnya untuk naik ke lantai dua melalui tangga. Ia kira lelaki yang memainkan piano di ruang keluarga lantai dua merupakan kakak-kakaknya. Namun, ternyata dia adalah Arvy. Baru kali ini Irene melihat lelaki itu memainkan piano. Kelincahannya bermain bisa dikatakan bagus. Apalagi lagu yang dimainkan tampak asing di telinga meskipun terdengar merdu.
Tak lama berselang dengan kehadiran Irene, tiba-tiba Arvy menghentikan permainannya. Wajahnya murung saat melewati Irene yang berdiri di dekat tangga. Tentu saja Irene turut memikirkan kenapa orang yang biasanya ceria dan bersemangat tiba-tiba menjadi muram.
"Kenapa dia? Apa baru putus dari pacarnya? Dasar kekanakan sekali!" ledek Irene.
Ia berjalan mendekat ke arah piano yang baru Arvy mainkan. Ia menemukan secatik kertas bertuliskan catatan lagu uang belum selesai, hanya setengahnya. Irene mulai membaca dan memahami notasi dalam secarik kertas tersebut.
"Kenapa dia suka sekali yang setengah-setengah. Bukannya kalau tidak tuntas bisa bikin sakit kepala? Dasar cowok aneh!" gerutu Irene. Meskipun ia marah-marah, namun ia akui bahwa lagu teraebut cukup bagus dan layak untuk dikomersilkan.
__ADS_1