
"Malam ini kamu menginap di sini, kan?" tanya Hamish.
"Boleh," jawab Irene singkat.
Pandangannya terus terpaku pada layar televisi melihat film yang tengah diputar sembari menikmati camilan. Setiap kali berada di dekat Hamish, ia selalu merasa bisa bersantai. Lelaki itu menjadi sosok kakak yang mengayomi bagi dirinya.
Sementara, Hamish punya pemikiran yang berbeda. Tatapannya kepada Irene bukanlah bentuk perhatian pada seorang sepupu, melainkan pandangan lelaki dewasa kepada seorang wanita.
Ia terus mengawasi bagaimana Irene tumbuh dari gadis yang dulunya kecil dan selalu menempel padanya. Kini Irene telah menjadi wanita dewasa.
Ia sendiri masih bingung untuk menjelaskan perasaannya kepada Irene. Sepupunya itu pasti akan terkejut. Namun, ia harap Irene bisa terbiasa dengan dirinya.
Kakek sudah jelas menghalang-halangi niatannya untuk menjadikan Irene istri. Ia tidak akan menyerah. Hasratnya untuk memiliki Irene kian hari kian bertambah besar.
"Besok aku akan pergi ke Kota J. Apa kamu mau ikut?" tanya Hamish sembari meneguk wine dari gelasnya.
Irene tampak berpikir sejenak. "Sepertinya aku tidak bisa, aku ada acara," katanya. Ia teringat dengan acara fan meeting sebagai Hyena yang akan dilaksanakan besok.
"Hm, sayang sekali. Padahal ada sesuatu yang ingin aku bahas dengan Kakek dan Nenek," gumam Hamish.
"Mereka masih di desa, Kak. Tahu sendiri kan, Nenek tidak mau tinggal di rumah itu," kata Irene.
"Oh, begitu? Berarti aku juga harus pergi ke desa untuk menemui mereka."
Irene tersenyum. "Mereka pasti akan sangat senang dengan kedatangan Kak Hamish," ujarnya.
"Tentu saja." Hamish turut tersenyum yang menyiratkan sesuatu. Ia tahu kalau apa yang Irene katakan sangat bertolak belakang dengan realita yang terjadi.
"Titip salam kalau Kakak bertemu dengan Kakek dan Nenek," pinta Irene.
__ADS_1
Hamish meletakkan gelas winenya. Ia menarik pinggang Irene agar wanita itu bersandar padanya.
***
"Apa Nona yakin akan memakai wajah ini?" tanya Ron saat melihat penampilan Irene di belakang panggung.
Irene berdandan dengan identitas aslinya sebagai diri sendiri. Ia berniat untuk mengatakan siapa sebenarnya Hyena kepada Alan yang sengaja ia turut undang sebagai salah satu tamu VIP di sana.
"Setelah ini aku mungkin tidak akan muncul lagi. Aku melakukannya untuk memenuhi permintaan seseorang dan pada kesempatan kali ini aku juga akan jujur kepada seseorang," kata Irene sembari memasangkan sarung tangannya.
Irene mengambil dua buah topeng yang ada di meja. Ia bingung untuk menentukan mana yang akan dikenakannya.
"Menurutmu aku harus pakai yang mana, Ron? Topeng Rubah atau Hyena?" tanyanya.
"Pakai saja topeng Hyena, Nona. Itu sesuai dengan nama karakter yang Anda buat. Lagi pula, saya khawatir kalau Anda memakai topeng rubah anggota Big-O akan mengenali Anda sebagai Nona Cookie," usul Ron.
Irene berpikir sejenak. Saat itu memang ia mengenakan topeng rubah.
Irene mengenakan topeng Hyena di wajahnya. Setelah siap, ia keluar dari ruang ganti menuju ke atas panggung tempat fan meeting dilaksanakan. Ron memberikan sebuah mic kepada Irene.
"Nona," panggil Ron.
Irene tersenyum. "Kenapa lagi?" tanyanya.
"Saya takut Anda akan semakin terkenal," katanya.
Irene hampir ingin tertawa dengan ucapan Ron. "Aku tidak peduli dengan itu, Ron. Aku hanya ingin menyanyi di hadapan seorang teman," ucapnya.
"Tuan Hamish akan tahu, Nona." Ron kembali mengingatkan.
__ADS_1
"Urusannya terlalu banyak, Ron. Dia tidak akan sempat mengecek apa yang aku lakukan selama di sini. Lagipula, apa Kak Hamish akan peduli kalau aku suka menyanyi? Kamu aneh-aneh saja!" gumam Irene.
"Baiklah, waktu yang telah lama kita nanti-nantikan akhirnya tiba. Mari kita sambut bersama-sama kehadiran penyanyi kita ... Hyena! Kita panggil bersama-sama ... Hyena! Hyena! Hyena!"
Irene menapaki satu persatu anak tangga menuju ke atas langgung setelah mendengar panggilan dari pembawa acara. Suara sorakan riuh terdengar memanggil namanya.
Musik telah mengalun. Irene mulai menyanyikan lagu andalannya di depan para pengemarnya. Suaranya yang merdu mampu membuat semua orang terpana dan fokus untuk mendengarkannya.
Irene melayangkan pandangan ke jajaran kursi VIP yang telah ia tentukan siapa saja yang hadir. Tampak Adila melambaikan tangan ke arahnya dengan begitu bahagia. Ia juga melihat Arvy dan Ares ada di sana. Tak ketinggalan Bian dan Nida juga turut hadir. Sayangnya, Alan tak tampak ada di sana.
Irene menyelesaikan lagunya dengan sangat baik. Ia diberikan tepuk tangan yang meriah dari para penonton.
"Halo, Hyena, apa kabar?" tanya si pembawa acara.
"Baik, Edrick. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Irene balik.
"Oh, kalau perasaanku jangan di tanya. Rasanya sangat luar biasa bahagia bisa berkesempatan untuk bertemu dengan seorang penyanyi misterius yang selama ini karyanya selalu trending di mana-mana. Apalagi aku berkesempatan sebagai pembawa acara secara langsung. Aku rasa yang lain juga iri denganku."
Edrick membawakan acara dengan gaya lawakan yang cukup menghibur. Ia mampu membuat para tamu undangan tertawa.
"Sejak dulu ada yang ingin aku tanyakan. Mungkin pertanyaanku juga mewakili sebagian besar penggemarmu," kata Edrick.
"Apa itu?" tanya Irene penasaran.
"Kenapa kamu memilih untuk menyembunyikan identitas asli sebagai penyanyi? Bahkan sampai sekarang kamu tampil di depan kami memakai topeng. Di luaran sana banyak yang mengaku-ngaku sebagai dirimu, loh!"
"Benarkah? Hahaha ...." Irene tertawa dengan ucapan Edrick. "Sebenarnya aku hanya ingin orang lain menyukai suaraku saja. Tidak penting penyanyi aslinya seperti apa? Yang penting lagu dan isi di dalamnya mampu tersampaikan dengan baik."
"Tapi, kami sangat penasaran dengan wajah Hyena yang sebenarnya. Apa boleh kalau topengnya dibuka saja?" pinta Edrick.
__ADS_1
Para tamu undangan sontak menjadi riuh meminta topeng yang Irene kenakan untuk dilepas.