
Penyanyi berinisial AG memaksa pacarnya melakukan aborsi.
Jonathan mengembangkan senyum lebar saat melihat salah satu judul artikel yang ada di internet. Sisil melakukan tugasnya dengan baik. Malam ini jagad dunia maya digemparkan dengan pemberitaan tentang Arvy.
"Kenapa kamu kelihatannya sangat bahagia?" tanya Sovia yang sejak tadi melihat tunangannya itu senyum-senyum sendiri sambil memandangi ponsel.
"Coba kamu lihat sendiri." Jonathan menunjukkan ponselnya kepada Sovia.
Sovia melebarkan mata membaca berita yang tengah trending di berbagai platform media sosial.
Penyanyi yang sedang naik daun, Arvy Galaksi, dikabarkan telah memiliki pacar. Ia terlihat beberapa kali mengajak seorang wanita ke sebuah rumah sakit yang dirahasiakan. Diduga kekasih Arvy tengah hamil dan dipaksa untuk menggugurkan kandungannya demi menjaga popularitas Arvy yang kini berada di puncak popularitas. Masih belum jelas siapa sosok wanita tersebut, ada yang menduga dari kalangan biasa dan ada pula yang menduga jika Arvy menjalin hubungan dengan sesama artis.
"Ini sungguhan? Arvy menyuruh pacarnya ab0rsi?" sebagai orang yang pernah dekat dengan Alan, ia merasa hal itu tidak mungkin terjadi. Arvy bukan tipikal orang yang seperti itu.
"Mana aku tahu? Memangnya aku yang menulis beritanya?" Jonathan berpura-pura tidak tahu menahu.
"Gila saja orang yang membuat berita seperti ini. Tapi, itu bagus juga untukmu, Jo. Kamu bisa lebih bersinar dari dia," kata Sovia.
Meskipun tidak percaya dengan berita itu, Sovia tetap senang rival utama Jonathan akhirnya punya celah untuk jatuh. Apalagi Arvy adalah saudara Alan. Ia akan membuat Jonathan menanjak dan menjadi ikut terkenal. Sementara, ia berharap seluruh kelurga Alan bisa hancur sehancur-hancurnya.
"Jo, apa malam ini kamu mau menginap di apartemenku ini?" tanya Sovia. Ia mulai bermanja pada lelaki itu. "Anggap saja aku ingin memberikan selamat untukmu," katanya.
Jonathan menjadi bimbang. Malam ini ia sudah berjanji akan tidur dengan Sisil. Wanita itu pasti telah berada di apartemennya saat ini.
"Bagaimana? Kenapa kamu diam saja?" tanya Sovia.
"Sayang, besok pagi aku ada jadwal manggung. Untuk menginap sepertinya tidak bisa. Tapi, kalau kamu mau memberikan selamat padaku, bagaimana kalau aku memintanya saat ini?" rayu Jonathan.
Sovia tertawa. "Kamu orang yang tidak mau rugi, ya?"
__ADS_1
"Tentu saja. Aku ingin mendapatkan dua-duanya. Baik itu kelancaran karir, juga percintaan denganmu."
Jonathan mengusap pipi Sovia. Ia menurunkan tangannya ke arah leher dan mendekatkan wajahnya perlahan lalu memagut bibir Sovia dengan lembut.
"Kita lakukan di dalam saja," pinta Sovia.
Tanpa pikir panjang, Jonathan mengangkat tubuh Sovia dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia menurunkan tubuh wanita itu di atas ranjang. Seperti kehilangan kesabaran, Jonathan melepaskan seluruh pakaian yang dikenakannya.
"Wow, tubuh tunanganku ini memang tidak bisa disepelekan," gumam Sovia yang terkesima dengan tubuh maskulin Jonathan.
"Berikan ucapan selamat itu padaku sekarang, Sovia!" pinta Jonathan. Ia tak sabar ingin bercumbu mesra dengan wanota di hadapannya.
***
"Bagaimana ini, Ar? Aku takut sekali ...."
Arvy bisa merasakan kecemasan yang saat ini Adila alami. Gara-gara berita bohong yang beredar di internet, Adila meneleponnya sembari menangis.
"Kamu tenang saja, tidak akan ada yang mengenalimu," kata Arvy mencoba menenangkan. Padahal dia sendiri sedang kacau. Ia sangat penasaran dengan orang yang begitu jahat menyebarkan isu tentang dirinya.
"Aku membaca akun media sosialku, Ar. Ada banyak yang mengirim pesan memastikan apa benar wanita di foto itu adalah aku atau bukan."
Adila terdengar masih tidak bisa tenang. Kecemasan kekasihnya itu justru membuat Arvy semakin tidak bisa berpikir.
Memang, saat menjenguk Bian di rumah sakit, ia beberapa kali mengajak Adila pergi dengannya. Ia tak menyangka ada yang diam-diam mengukuti mereka.
"Sudah, sementara kamu jangan main sosial media dulu. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya. Semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir dan tidurlah!"
Arvy mengakhiri panggilan telepon setelah menenangkan Adila. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa. Malam ini ia tidak akan bisa pulang ke apartemennya. Wartawan pasti akan mencari-cari dirinya untuk klarifikasi.
__ADS_1
Arvy memberanikan diri membuka akun media sosialnya. Baru saja ia masuk, ada puluhan ribu komentar yang mampir di postingan foto terakhirnya. Ribuan pesan juga masuk dalam hitungan menit dan terus bertambah.
Ada sebagian fans yang tetap mempercayainya dan tidak menghujat sampai beritanya tidak simpang siur lagi. Tapi, komentar mereka tertutupi oleh banyaknya fans yang menghujat dan kecewa padanya tanpa mencari tahu hal sebenarnya.
"Lihat sendiri kan, sekarang? Beritanya sudah sangat parah!"
Marco baru saja pulang dari kantor. Ia dimarahi habis-habisan oleh pimpinan. Ia dianggap tidak becus untuk mengatur artisnya.
Arvy tak bisa membela diri. Kali ini ia memang kembali merepotkan manajernya itu. Bahkan untuk sementara waktu, ia akan tinggal di apartemen lama milik manajernya.
"Aku sudah mengingatkanmu untuk berhenti pacaran! Kamu itu artis terkenal, banyak yang menyorotmu! Apa kamu tidak sadar?" Marco masih mengomel.
"Memangnya Kakak tahu siapa wanita itu?" tanya Arvy.
"Kamu kira aku buta? Sudah jelas kan, itu Adila? Siapa lagi wanita yang mungkin dekat denganmu selain Adila atau Irene? Kamu kan paling anti berbasa-basi dengan orang apalagi lawan jenis. Itu tidak mungkin Irene karena dia lebih pendek dari Adila. Habis sudah karirmu, Arvy, Arvy ... Kamu memang paling hobi membuatku susah."
"Jangan kamu anggap ini tentang kamu saja, pikirkan juga apa yang akan terjadi dengan Adila!"
"Sudah Kak, cukup! Aku juga tahu seperti apa kondisi saat ini!" bentak Arvy. Ia semakin merasa pusing dan tertekan mendengar semua orang memarahinya.
"Mau membuat alasan apa kepada para fans-mu? Mereka pasti akan menghujat Adila juga karena hal ini."
"Kita lihat saja perkembangannya. Kalau berita ini semakin tak terkendali, aku akan melakukan klarifikasi," kata Arvy.
"Untuk sementara waktu, kamu jangan kemana-mana. Tetaplah di sini. Kamu juga tidak perlu datang ke kantor. Pimpinan sudah memberitahuku untuk menyembunyikanmu."
"Bagaimana dengan jadwal-jadwal konser yang sudah disepakati?" tanya Arvy. Ia tetap memikirkan untuk bertanggung jawab pada kontrak yang sudah terlanjur ia tandatangani.
"Hah! Masih memikirkan hal seperti itu? Aku rasa para penggemarmu akan melemparkan telur busuk saat kamu tampil. Sudahlah, jangan memikirkan hal itu dulu. Perusahaan telah mengaturnya dengan mereka. Lagi pula, aku rasa mereka pasti akan berpikir-pikir kembali untuk mengundang penyanyi yang sedang terkena skandal."
__ADS_1
"Buatkan aku makanan, Kak. Aku lapar," rengek Arvy.
Marco benar-benar tidak percaya artisnya masih bisa memikirkan masalah perut di saat-saat seperti ini. Namun, karena ia baik hati, Marco beranjak ke dapur untuk membuatkan Arvy sesuatu.