Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 128


__ADS_3

"Oh, jadi ini batu giok darah yang kamu temukan?"


Frans mengagumi batu yang Alan peroleh. Ia merupakan seorqng ahli perancang perhiasan yang sengaja Alan undang untuk datang ke perusahaannya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Alan.


"Harganya mahal ini, termasuk langka dan banyak dicari di seluruh negeri. Kamu masukkan saja ke situs Internet. Pasti bakalan ramai," kata Frans.


"Aku tidak berniat untuk menjualnya. Tolong kamu buatkan bentuk yang bagus untuk mempresentasikan perusahaan ini. Mau aku pamerkan di acara perusahaan nanti," pinta Alan.


"Hm, kamu ingin memperlihatkan kepada semua orang bahwa perusahaan ini sebegitu berharganya seperti batu ini?"


Alan mengangguk. "Aku ingin mempersembahkannya kepada orang-orang yang terus setia mendukungku sampai saat ini. Kamu tahu sendiri kan, beberapa waktu yang lalu terjadi masalah besar di perusahaan ini. Banyak sekali yang mengkhianatiku."


Frans menepuk pundak Alan. "Lupakanlah! Sekarang perusahaanmu telah kembali stabil dan aku yakin perusahaan ini akan semakin maju di bawah kepemimpinanmu."


"Oh, iya, Frans. Boleh aku minta tolong lagi?" tanya Alan.


"Apa?"


"Biatkan juga gelang yang bagus dari batu ini."


Frans mengerutkan dahi. "Kamu ... Mau pakai gelang?" tanyanya heran.


"Bukan untukku! Tapi untuk seseorang," jawab Alan.


Frans semakin ingin tahu orang yang Alan maksud. "Untuk siapa? Bukan untuk Sovia, kan?"


Alan memutar malas bola matanya. "Jangan membahas wanita itu lagi!" pinta Alan. "Pokoknya, buatkan saja gelang yang bagus dan mempresentasikan ketulusanku untuk orang itu," katanya.


"Wah, aku curiga kamu sedang jatuh cinta kepada seseorang. Ayolah, beritahu aku siapa orangnya?" tanya Frans.


"Kamu tidak perlu tahu, Frans."


"Tapi, yang kamu sukai bukan cowok, kan?" tebak Frans.

__ADS_1


Alan langsung melotot ke arah Frans.


"Hahaha ... Jangan marah begitu, aku kan hanya bertanya. Itu penting untukku menentukan lingkar tangan yang pas saat aku membuatnya," ucap Frans.


"Kamu kira aku sudah tidak normal gara-gara Sovia? Dasar sialan!" kesal Alan.


***


"Irene ...."


Jeha berlari menyongsong Irene yang baru sampai di kampus. Ia langsung memberikan pelukan dengan hangat. Sejak debut menjadi artis baru, Jeha menjadi jarang bertemu dengan Irene.


"Kangen ...," kata Jeha.


"Bagaimana syuting filmnya? Sudah selesai, ya?" tanya Irene.


Mereka mengobrol sambil berjalan menuju ke ruang perkuliahan.


"Yap! Akhirnya sudah selesai. Tapi, setelah ini juga akan ada project baru lagi. Doakan semuanya lancar," kata Jeha.


"Walaupun hanya sebagai figuran, aku tetap bersyukur mendapatkan tawaran beberapa film dalam waktu dekat ini." mata Jeha tampak berbinar dengan apa yang diraihnya saat ini.


"Semua orang mengawali karir dari bawah, Jeha. Teruslah berusaha keras sampai nanti kamu berada di puncak popularitas."


"Irene! Duduk sini!"


Baru saja Irene masuk, Ares sudah berseru memanggilnya. Ia terbengong sendiri melihat Ares datang ke kampus lebih awal. Biasanya lelaki itu selalu datang di saat-saat akhir.


"Kenapa dia? Kami jadi akrab sekarang ya, sama dia?" tanya Jeha heran. Memang biasanya Ares tidak mau terlihat dekat dengan Irene di depan teman-teman kampusnya.


"Ares sedang berambisi masuk peringkat lima besar fakultas. Dia memaksaku menjadi tutornya," kata Irene.


Jeha tercengang mendengarnya. "Apa dia baru kecelakaan? Apa otaknya tidak beres? Setahuku peringkatnya di satu jurusan saja masih jauh dari 10 besar. Ini mau jadi 5 besar fakultas?"


"Namanya juga usaha, Jeha. Siapa tahu dia memang sanggup mewujudkannya," kata Irene. Ia senang Ares begitu bersemangat untuk menjadi yang terbaik. Sisi kompetisinya memang sangat kuat. Ares tidak pernah mau kalah.

__ADS_1


"Irene, tolong bantu cek tugas yang sudah aku selesaikan ini!" kata Ares seraya menyerahkan selembar kertas kepada Irene.


Sementara, di hadapan Ares masih terdapat laptop dan beberapa buku. Ares benar-benar sedang menggebu.


"Kayaknya kamu lebih butuh uang yang banyak untuk membayar dosen dari pada belajar," sindir Jeha.


Ares mengarahkan lirikan tajam kepada Jeha. "Kenapa? Kamu kira aku tidak mampu jadi lima besar terbaik?" tanyanya.


"Kalau melihat pengalaman yang sudah-sudah, rasanya tidak mungkin."


Ares menyunggingkan senyum. "Aku sangat suka mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin," katanya.


"Dari pada mengomentari usahaku, lebih baik kamu fokus pada karirmu. Mungkin kamu bisa melakukan operasi plastik supaya lebih laku. Masa mau jadi artus kecil selamanya dengan penampilan sejelek ini." berganti Ares mengeluarkan ejekannya.


Mencari masalah dengan Ares memang harus siap sakit hati. Ucapan Ares sering kali menyinggung perasaan orang lain.


"Matamu sudah buta ya, mengatakan aku jelek?" kesal Jeha.


"Memang kamu jelek!"


"Lihat saja nanti! Aku bersumpah dengan wajahku yang seperti ini aku bisa sukses sebagai bintang besar dengan banyak penghargaan. Hal pertama yang akan aku lakukan saat itu adalah melemparkan penghargaan-penghargaanku ke kepalamu!"


"Hahaha ... Silakan simpan mimpimu itu!"


"Sudah, sudah ...."


Irene pusing sendiri mendengarkan perdebatan keduanya.


"Kamu jangan keterlaluan begitu bicaranya , Res!" Irene melotot kepada Ares.


"Ya, kan dia duluan yang cari gara-gara!"


"Jeha, jangan dengarkan Ares. Aku yakin kamu nanti akan sukses. Jangan urusi dia!" kata Irene menenangkan Jeha.


"Dia memang jahat sekali, Ren! Kamu seharusnya tidak perlu membantunya belajar," kata Jeha.

__ADS_1


__ADS_2