
"Duar! Duar!"
Saat Alenta dan Alan bertengkar, tiba-tiba terdengar suara letusan di angkasa. Ternyata, tak jauh dari tempat mereka berada sedang diadakan pertunjukkan kembang api yang meriah. Letusan kembang api yang diluncurkan ke langit terlihat indah, bahkan mampu mengalihkan perhatian mereka. Perdebatan di antara keduanya terhenti. Mereka mendongakkan wajah, terpana melihat indahnya pemandangan malam itu.
"Kenapa ada pesta kembang api did aerah pedesaan seperti ini?" tanya Alan heran.
"Ini sudah biasa diadakan setiap tahunnya. Biasanya digelar setelah panen raya gandum sebagai perwujudan kegembiraan warga desa," jawab Alenta.
"Kamu sepertinya tahu banyak hal juga tentang negara ini. Apa kamu memang pernah tinggal lama di sini? Atau kamu asli penduduk sini?"
"Entahlah! Aku manusia dengan gen campuran. Kalau status kewarganegaran tentu saja Indonesia. Apa itu penting?" Alenta menjawab dengan nada ketus.
"Tidak juga ... Aku hanya penasaran, bahkan banyak bahasa bisa kamu kuasai."
"Kalau bisa aku ingin menguasai semua bahasa di dunia. Lalu mempelajari juga tentang bahasa alien."
Alan tertawa dengan kesombongan yang Alenta tunjukkan. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke langit menikmati indahnya kembang api yang bersinar di langit malam.
Alenta mengajak Alan berjalan-jalan ke area pasar malam tempat pesta kembang api digelar. Karena sebelumnya telah makan malam, mereka hanya membeli makanan ringan sembari melihat pertunjukkan tradisional khas di sana.
"Bagaimana dengan bisnismu yang waktu itu? Apa berjalan dengan lancar?" tanya Alenta di sela-sela pertunjukkan opera mini di sana.
"Maksudmu kerjasama dengan perusahaan Iran itu?" tebak Alan.
"Ya, itu! Apa ada yang lain?" Alenta terdengar terus berbicara ketus kepada Alan.
"Kamu pikir perusahaanku hanya sibuk bekerjasama dengan satu perusahaan saja? Itu hanya salah satu yang berkaitan dengan ekspor-impor."
"Oh, aku kira tidak ada sumber kerja sama lain sampai harus sejauh itu melayani tamu sampai membuat orang lain terlihat seperti pelayan!" Alenta kembali mengingat momen menyebalkannya bersama Amina.
"Memangnya kamu merasa seperti pelayan?"
"Lalu apalagi sebutannya untuk orang yang disuruh mengikuti semua keinginan tamu terhormat itu sekalipun keinginannya tidak masuk akal?" Alenta menatap kesal kepada Alan. Setiap kali pembahasan itu terulang, ia pasti akan marah.
"Padahal tujuanku agar kalian bisa berteman baik."
__ADS_1
"Hah! Berteman?" Alenta ingin tertawa. Sudah jelas wanita itu punya maksud terselubung di luar urusan kerjasama, tetapi Alan tetap meladeninya. "Lalu bagaimana, apa akhirnya kalian bisa lebih dekat atau mungkin ada niatan untuk hubungan yang lebih serius seperti pernikahan?"
Alan mengernyitkan dahi. "Ucapanmu terdengar seperti orang yang sedang cemburu."
"Ah bon?" (benarkah?)
"Kalau diperhatikan, gaya bicaramu sekarang lebih santai padaku, ya! Biasanya pakai bahasa formal," sindir Alan.
"Kenapa aku harus seperti itu? Aku tidak sedang bekerja untukmu. Ini juga terpaksa menemanimu karena kemauan paman!"
Malam itu, acara jalan-jalan mereka diiringi dengan perdebatan yang tidak berkesudahan. Keduanya sama-sama keras kepala tidak mau mengalah, saling meladeni omongan satu sama lain. Hingga malam semakin larut, akhirnya mereka kembali ke mansion.
***
Saat Irene keluar dari kamarnya, ia mengunjungi kamar yang dipakai Alan bermalam. Kamar tersebut dalam keadaan terbuka. Ternyata Alan sudah tidak ada di sana.
"Pagi-pagi sekali Alan berpamitan pulang," ucap sang paman yang tiba-tiba sudah ada di sana.
Irene kaget sekaligus merasa malu. Ia seakan baru saja ketahuan ingin tahu tentang keberadaan Alan.
"Syukurlah? Kenapa?" tanya sang paman heran.
"Ya, syukur saja. Jadi, aku tidak perlu repot paman suruh-suruh lagi untuk menemaninya!" ucapnya. Ia bergegas berlari melewati sang paman dan menuruni tangga. "Aku mau ke kebun belakang, Paman!" serunya.
Dengan langkah girang, Irene berjalan menuju kebun yang terletak di halaman belakang. Di sana tampak ada beberapa pekerja yang sedang memanen anggur. Irene tertarik untuk ikut serta memanen buah tersebut.
"Bonjour, Minni ...," sapa Irene kepada salah seorang pekerja yang usianya masih muda. Dulu, ia merupakan teman bermainnya saat tinggal di sana.
"Bonjour, mademoiselle Irene," jawabnya.
Irene mengambil satu gunting yang tergeletak di dekat sana. Ia ikut membantu Minni memetik anggur yang telah berwarna keunguan dan menaruhnya di dalam keranjang yang dibawa oleh Minni.
"Kenapa kamu masih bekerja di sini? Aku dengar kamu mau menikah, Minni?" tanya Irene.
"Saya tidak jadi menikah, Nona." Minni menjawab sembari terus fokus memanen anggur-anggurnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Irene penasaran.
"Tentu saja karena Louis menemukan wanita yang lebih baik dari pada saya. Apalagi kekasih barunya seorang anak pengusaha keju.siapalah saya sampai harus Louis pertahankan." raut wajah Minni terlihat biasa padahal membahas sesuatu yang terdengar cukup menyebalkan.
"Aku pikir Louis sangat mencintaimu, Minni. Sejak kecil kalian sudah begitu dekat dan tidak bisa dipisahkan."
"Namanya perasaan akan terus berubah seiring berjalannya waktu, Nona. Bagaimana dengan Nona sendiri? Apakah perjodohannya berjalan lancar?" Minni bertanya balik kepada Irene.
"Dari mana kamu tahu kalau aku dijodohkan?" tanya Irene heran.
"Tuan Besar yang mengatakannya. Berita penting dari Anda tentu saja akan mudah terdengar sampai ke sini."
Irene tidak tahu kalau kakeknya akan mengatakan perjodohan itu juga kepada pamannya. "Hah! Dasar kakek ...," gumamnya lirih.
"Tamu yang kemarin itu pasti calon suami Nona, ya?" tebak Minni. Lagi-lagi tebakannya tepat.
"Kok kamu bisa menebak seperti itu?"
"Tuan Besar bilang akan ada tamu istimewa yang akan datang. Jadi, aku rasa itu calon suami Nona."
"Hahaha ... Tidak seperti itu juga. Sebenarnya aku sedang dijodohkan dengan lima lelaki, Tuan Muda Keluarga Narendra. Memang, Alan salah satunya. Tapi, belum tentu juga aku memilihnya. Saudara-saudaranya yang lain juga tidak kalah menarik!"
"Sepertinya Tuan Alan seorang lelaki yang baik hati. Nona pasti akan diperlakukan dengan baik setelah menjadi istrinya. Tuan Alan sangat cocok bersanding dengan Nona."
"Kamu bicara apa, sih!" Irene menyembunyikan mukanya yang memerah karena malu. Ia tidak ingin orang lain tahu jika dia mulai ada rasa kepada lelaki itu.
"Ah, iya! Aku mau ke sirkuit menonton balapan. Apa kamu mau ikut?" tanya Irene.
"Sayang sekali, Nona. Saya telah ada janji dengan orang lain."
"Yah, padahal jarang-jarang aku bisa datang ke sini. Kenapa kamu harus sibuk saat aku di sini." Irene agak kecewa.
"Kalau Nona memberitahu jauh-jauh hari, pasti saya bisa meluangkan waktu. Tidak sopan kalau saya tiba-tiba membatalkan janji dengan orang."
"Hahaha ... Tidak apa-apa, Minni, aku hanya bercanda. Lain kali saja kita jalan berdua."
__ADS_1
Irene mengembangkan senyumannya. Di sana memang terkenal orang-orangnya yang menepati janji. Tidak ada istilah pertemuan dadakan seperti di negaranya sendiri.