Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 52: Kecurigaan


__ADS_3

"Kak Alan ...." Irene tercengang mengetahui lelaki yang tidak sengaja ditabraknya adalah Alan.


Alan ikut mematung sejenak. Ia mengucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya bukanlah halusinasi. "Miss A?" tanyanya memastikan.


Irene sampai lupa kalau sekarang ia sedang memakai penampilan aslinya. Ia sudah terlanjur memanggil nama Alan dan harus berpura-pura menjadi sosok yang Alan kenal.


"Oh. Hai ...." ia tersenyum lebar.


Alan langsung menarik tangan hantu cantik itu ke tempat yang sepi. Ia terus memastikan bahwa wanita yang ada di hadapannya benar-benar Miss A. "Kamu bohong, kan ... kamu pasti bukan hantu. Sepertinya semua orang juga bisa melihatmu."


"Bukankah aku pernah bilang kalau aku setengah hantu? Mereka memang bisa melihatku kalau malam. Aku ini hantu tapi seperti manusia." Irene berusaha mengelak.


Pikiran Alan yang awalnya dipusingkan dengan Sovia kini jadi fokus memikirkan siapa sebenarnya Miss A. Sosok hantu itu sudah lama tak muncul di rumahnya namun tiba-tiba ada di tempat seramai itu.


"Kamu sedang berbohong, kan?" tanya Alan lagi.


Irene menghela napas. "Apa untungnya juga membohongimu. Sudahlah! Aku mau pergi menikmati waktu bisa hidup di antara manusia. Kamu tidak usah mencampuri urusanku, oke?" Ia berniat pergi hanya untuk menghindari pertanyaan Alan yang mencurigainya. Tidak disangka, Alan menahan tangannya agar tidak pergi.


"Terserah kamu hantu atau bukan, aku senang bisa bertemu denganmu di sini." Alan berkata dengan tatapan mata tegasnya membuat Irene mengalah dan kembali duduk.


Keduanya duduk bersebelahan dalam diam sembari memandangi keramaian di area pasar malam. Sesekali Alan mencuri pandang kepada wanita yang sangat membuatnya penasaran. Ia yakin sebenarnya wanita itu bukanlah hantu. Satu hal yang membuatnya bingung, kenapa wanita itu kerap terlihat di rumahnya. Ia pernah bertanya kepada beberapa pelayan tapi tidak ada satupun yang tahu siapa wanita itu sebenarnya. Ataukah dia ada hubungannya dengan Irene.


Irene. Wanita yang dipilih sang kakek juga membuatnya penasaran. Ia pernah berusaha mencari tahu identitas tentang Irene Abraham. Akan tetapi, tidak ada sedikitpun informasi yang dia peroleh, bahkan mengenai keluarga Abraham itu sendiri. Sementara sang kakek tak memberitahu apapun.


"Kamu kenapa?" tanya Irene yang sejak tadi merasa diperhatikan.


"Tidak ... memangnya aku kenapa?"


"Sejak tadi terus melihatku. Apa ada yang aneh?" Irene memberikan lirikan tajamnya.


Alan menggeleng. "Sekarang kamu pindah di sini?" tanyanya.


"Kamu pasti kangen ya? Pasti nyari-nyari aku di rumahmu ...," ledek Irene. "Kesepian kan pasti kalau nggak ketemu aku?"

__ADS_1


Alan tersenyum. "Benar. Aku sangat kesepian selama kamu tidak ada di sana. Kira-kira, bagaimana cara membawamu pulang?"


Irene tidak menyangka Alan akan memberikan jawaban seperti itu. Ia mulai berpikir kalau Alan mulai tertarik padanya. "Jangan bilang kalau kamu menyukai aku."


"Memangnya kenapa kalau iya?" Alan berkata tanpa keraguan sama sekali.


Irene mengedip-ngedipkan mata seakan tak percaya. "Hahaha ... lucu sekali. Ada manusia menyukai hantu sepertiku?"


"Kalau hantunya secantik dirimu, semua orang juga pasti suka." Alan menunjukkan keseriusannya. Ia memang tertarik dengan sosok Miss A yang ia temui di taman rumahnya.


"Oh, iya? Lalu, bagaimana dengan wanita itu? Aku sudah tahu kalau kamu punya pacar bernama Sovia." Irene sangat ingin tahu reaksi Alan jika dirinya membahas Sovia. Benarkah lelaki itu bisa kehilangan akal sehat karena seorang hantu?


Alan terdiam sejenak mendengar nama yang sudah ia coret dalam ingatannya. Baru saja ia mendapat pengkhianatan dari wanita tidak tahu diri itu.


Drrt ... Drrt ....


Tiba-tiba ponsel Irene berbunyi. Ia segera mengecek ponselnya. Tertera nomor salah satu anak buah kakeknya. "Maaf, aku harus pergi sekarang!"


Irene buru-buru berlari pergi meninggalkan Alan. Ia mencari tempat yang aman untuk bisa berbicara dengan Ron.


"Hah!" pekik Alan yang kesal karena kehilangan jejak Irene.


Irene yang telah berhasil lari dari Alan masuk ke dalam toilet umum. Ia menghubungi kembali nomor Ron karena sambungan teleponnya tadi terputus.


"Halo, Ron ... ada apa?" tanya Irene.


"Nona, Tuan Hamish telah kembali."


Irene merasa heran mendengar informasi yang baru saja diterimanya. "Memangnya kenapa kalau Kak Hamish pulang? Aku juga sudah sangat merindukannya. Dimana kakek?"


"Tuan Hamish menahannya di rumah dan tidak mengizinkan Beliau keluar atau menghubungi siapapun."


Irene bertanya-tanya, mengapa kakak sepupunya sampai harus menahan kakek mereka? Apa yang Ron katakan membuatnya semakin bingung.

__ADS_1


"Sepertinya saya juga akan sulit menghubungi Anda, Nona. Pesan dari kakek Anda, jangan sampai Tuan Hamish menemukan Anda."


Irene antara bingung dan ingin tertawa. "Memangnya kenapa aku harus bersembunyi dari kakakku sendiri?"


"Tuan Hamish ingin menikahi Anda, Nona. Ia Tuan Abraham sampai ditahan hanya karena tidak menyetujuinya."


"Kak Hamish mau menikahiku? Tidak masuk akal. Hubungan kami sudah seperti adik kakak kandung. Kamu jangan mengada-ada, Ron!" Irene semakin ingin tertawa dengan cerita yang Ron sampaikan.


"Kalau saya berbohong, tidak mungkin saya lepas kontak dengan Anda, Nona."


Apa yang Ron katakan cukup masuk akal. Ron memang sudah lama tidak menghubungi atau membalas pesannya.


"Situasinya terlalu rumit untuk memberikan penjelasan kepada Nona. Yang jelas, Tuan Abraham meminta Anda bersembunyi untuk sementara waktu dari Tuan Hamish."


"Hm, baiklah." Irene belum begitu paham dengan situasinya. Namun, Ron tidak mungkin berbohong.


"Nona juga perlu berhati-hati dengan Tuan Alan."


"Kenapa juga dengan dia?" tanya Irene penasaran.


"Tuan Alan sepertinya semakin ingin tahu tentang Anda."


"Tapi, semua jejak digital yang berkaitan denganku sudah kamu hapus, kan?" tanya Irene memastikan.


"Sudah, Nona."


Irene bernapas lega. "Jangan katakan ini pada kakek. Aku akan berusaha menyelesaikan urusanku di sini secepatnya."


"Baik, Nona."


Irene menutup telepon dari Ron. Ada banyak pertanyaan dalam otaknya. Berita yang baru saja ia dengan masih membuatnya bingung. Ia tidak percaya Hamish bisa berbuat seperti itu kepada kakek. Ingin menikahinya? Itu tidak masuk akal. Jarak usia mereka cukup jauh dan Hamish sudah seperti kakaknya sendiri.


Selain urusan dengan sepupunya, Irene juga harus memikirkan penyamarannya. Ia sudah terlalu sering menampakkan wajah aslinya sampai membuat Alan semakin penasaran. Apalagi Ares juga pernah melihat juga.

__ADS_1


Alan sempat melihat saat ia mengeluarkan ponselnya. Sudah pasti ia akan curiga dengan dirinya. Mana ada hantu yang punya ponsel segala. Irene menepuk kepalanya sendiri merasa dirinya telah berbuat bodoh.


__ADS_2