Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 129


__ADS_3

"Oh, iya, Ren. Aku dengar kabar kurang enak dari Arvy," kata Jeha.


Irene terdiam sejenak. Ia mengabaikan tugas milik Ares dan memfokuskan diri pada Jeha. "Kabar apa?" tanyanya.


"Sumpah, ya! Paling malas kuliah duduk di kumpulan ibu-ibu rumpi! Pekerjaannya bahas-bahas orang terus," ucap Ares sembari geleng-geleng kepala.


"Kalau tidak suka nggak usah didengar," kata Jeha kesal.


"Ah! Aku mau pindah. Irene, kalau sudah selesai cek nanti kembalikan lagi padaku!" kata Ares seraya membereskan barangnya yang lantas pindah ke bangku yang lain.


"Bikin kesal saja orang yang satu itu," keluh Jeha.


"Sudah, tidak perlu dipedulikan," kata Irene. "Coba kamu lanjutkan lagi tadi yang kamu mau katakan."


"Di kantor banyak yang bilang kalau lagu baru Arvy mirip dengan gaya musik Hyena. Fans Hyena menuduh Arvy telah melakukan plagiat. Beritanya cukup ramai sih diinternet," kata Jeha.


Irene tidak memikirkan apa yang dilakukannya aman berdampak sejauh itu. Padahal, ia hanya membantu sedikit lagu yang Arvy karang sendiri. Ternyata banyak orang yang merasa lagu itu mirip dengan karya-karyanya sebagai Hyena.


"Kemarin juga sempat ada belasan fans Hyena yang demo di depan kantor agensi meminta Arvy keluar dari dunia industri hiburan. Kasihan banget dia, pasti sekarang sedang sangat stres. Aku harap dia tidak membuka media sosial sementara waktu. Komentar dari netizen kalau dibaca-baca sudah sangat keterlaluan," kata Jeha.


***


Marco terlihat mondar-mandir di ruangan. Sesekali ia mengintip ke arah jendela kaca sembari menghela napas dalam-dalam. Di luar sana masih ada fans Hyena yang mengajukan protes tentang kasus plagiat yang dilakukan oleh artisnya, Arvy.


Sementara, Arvy hanya duduk diam di sofa sembari memainkan ponselnya. Postingan lagu barunya banyak mendapatkan komentar negatif karena mengandung unsur kemiripan dengan karya orang lain. Bahkan banyak yang menyumpahinya agar mati.


"Kenapa kamu masih tenang begini? Kondisi tidak baik-baik saja, Arvy!" ucap Marco kesal.


"Lalu aku harus bagaimana, Kak? Turun dan menemui mereka?" tanya Arvy.

__ADS_1


"Ya tidak begitu juga. Kamu harus segera membuat pernyataan. Katakan kalau kemiripan dengan gaya Hyena hanya kebetulan semata," kata Marco.


"Tidak mau!" kata Arvy.


Marco sampai tercengang mendengar jawaban darinya. Rasanya hidup Marco jadi penuh emosi semenjak menjadi manajer Arvy. Walaupun penghasilannya tinggi, tapi punya Artis yang hobi membantah dan sesuka hati, membuatnya sering makan hati.


"Kamu itu maunya apa sih? Mau menyusahkan orang satu perusahaan, hah? Aku capek ditegur terus oleh direktur. Kamu selalu membuat masalah tanpa henti!" omel Marco.


"Kalau capek berhenti, Kak, bukannya marah-marah," ledek Arvy.


Di saat seperti ini Arvy masih bisa bercanda. Namun, sebenarnya di dalam hatinya ia memiliki tekanan batin yang berat.


"Arvy, serius sedikit kalau aku ajak bicara!" tegas Marco.


"Iya, Kak. Maaf," kata Arvy.


"Karena lagu itu memang bukan aku yang menulisnya, Kak," kata Arvy.


Marco ternga-nga. "Kamu jangan bercanda! Aku bisa jantungan!" bentaknya.


"Aku serius, Kak," kata Arvy meyakinkan. "Memang awalnya aku yang menulis lirik dan mengarang nadanya. Tapi belum sampai selesai aku kerjakan karena ada banyak jadwal lain yang harus aku lakukan. Kalau tidak salah saat itu aku diajak Kakak syuting iklan."


"Waktu pulang, aku menemukan naskah yang sebelumnya belum selesai aku tulis sudah diselesaikan orang lain yang aku tidak tahu siapa. Aku tidak menyangka akan terjadi hal sebesar ini gara-gara masalah itu," kata Arvy


"Aku yakin ini pasti jebakan!" seru Marco. "Sepertinya ada seseorang yang ingin menjerumuskanmu dalam masalah terkait album baru. Tapi, kira-kira siapa orang itu?" Marco berpikir keras memprediksi oknum yang berusaha mengancam karir artisnya.


"Loh, kalian ada di sini?" Ron melongok dari arah pintu mendapati Marco dan Arvy berada di sana. Ia berjalan menghampiri mereka.


"Marco, kamu dicari-cari direktur. Katanya kapan mau melakukan konferensi pers untuk Arvy," kata Ron.

__ADS_1


"Ah!" Marco mengacak rambutnya frustasi.


"Kenapa kamu? Kayak orang stres saja?" Ton terkekeh melihat kelakuan Marco.


"Bagaimana aku bisa melakukan konferensi pers membantah isu itu kalau Arvy sendiri menolak. Dia yang bilang memang bukan dia yang menulis lagu itu sepenuhnya!" kata Marco.


"Lah, memang lagu itu ciptaan Hyena, kan? Memang masalahnya apa?" tanya Ron.


Marco dan Arvy saling berpandangan.


"Maksudmu bagaimana, Ron? Lagu itu Hyena yang membuat? Tapi ... Kertas lagu itu awalnya Arvy yang mengarangnya meskipun belum selesai." Marco terlihat bingung dengan keterangan yang Ron berikan.


"Ya, mungkin saja Hyena hanya berniat membantu. Melihat kertas lagu Arvy yang belum selesai lalu ingin melanjutkan karangan lagunya," kata Ron.


"Jadi, Hyena pernah datang ke kantor ini?" tanya Marco. "Arvy, kamu pernah bertemu Hyena?"


"Mana aku tahu, Kak! Melihat wajah aslinya saja tidak pernah," kata Arvy.


"Siapa tahu kan kamu bisa mengenali dari suaranya," ucap Marco.


"Nada bicara orang bisa berbeda dengan nada Bicaranya, Kak. Aku tidak merasa pernah bertemu Hyena."


"Hm, kalau bukan Hyena sendiri yang mengklarifikasi, percuma saja kita mengadakan konferensi pers. Fans Hyena pasti tetap tidak akan percaya. Apa kita take down saja lagu barumu yang itu?" tanya Marco.


"Jangan pesimis dulu," cegah Ron. "Aku akan membujuk Hyena supaya mau buka suara tentang hal ini."


"Memangnya kamu kenal siapa Hyena?" tanya Marco penasaran.


"Oh, tentu saja. Tapi aku tidak akan mengatakan apapun. Dia menyuruhku untuk menjaga kerahasiaan identitasnya," kata Ron.

__ADS_1


__ADS_2