
Alan menghentikan mobilnya di sebuah gedung tua. Sebelum masuk, ia sempat mengecek kondisi sekeliling. Setelah memastikan aman, ia masuk ke dalam bangunan yang tampak terbengkalai dari luar.
"Selamat datang, Pak." salah satu anak buahnya menyapa ketika ia masuk.
Di balik bangunan bertembok usang itu, terdapat ruangan tertata rapi dengan berbagai peralatan canggih di dalamnya. Anak buah Alan ada puluhan jumlahnya. Mereka memberi salam saat Alan masuk ke dalam.
Tempat itu merupakan salah satu markas organisasi yang dipimpinnya, Black Shadow.
Alan memantau layar-layar monitor yang ada di sebuah ruangan di tempat itu. Ada banyak informasi lintas dunia tercatat di sana. Pekerjaan mereka memantau segala informasi yang masuk. Ketika ada sebuah info rahasia, maka peluang mereka untuk menyusun rencana.
Mereka sering menggunakan informasi yang diperoleh untuk memuluskan bisnis. Terkadang ada beberapa pejabat yang sulit diajak kerja sama. Ketika menemukan celah kesalahan atau aib mereka, Black Shadow akan memberikan ancaman untuk membeberkan data tersebut jika tidak mau mengikuti kemauan mereka.
"Pak, informasi yang Anda minta sudah saya dapatkan," kata salah satu anak buahnya yang lain.
Alan mengikuti anak buahnya menuju meja kerja yang terdapat sebuah monitor di atasnya.
"Ini informasi yang sudah berhasil saya cetak. Selengkapnya bisa Anda lihat di situs. Agak sulit mendapatkannya karena sepertinya dia juga pandai melindungi identitasnya. Bahkan identitas saya hampir tercuri."
Alan mengerutkan dahi. "Maksudmu, dia juga jago melakukan peretasan?"
"Sepertinya begitu, Pak. Atau mungkin ada orang lain yang melindunginya."
Alan mulai membaca-baca informasi tentang Irene. Wajah yang terpampang di sana mengingatkan lagi padanya tentang Alenta. Masih tidak bisa dimengerti jika Irene adalah Alenta.
__ADS_1
Ia melihat-lihat potret Irene sejak kecil hingga besar. Wanita itu memang sudah terlihat cantik sejak kecil.
"Saya mengumpulkan informasi dari berbagai negara dengan mencocokkan wajahnya yang pernah diunggah ke jaringan internet. Sepertinya wanita ini sering berpindah-pindah tempat dan melakukan banyak hal."
Alan melihat-lihat data yang anak buahnya berikan secara jeli dan teliti. Matanya sampai hampir tak berkedip mengetahui informasi yang selama ini tidak ia ketahui tentang Irene.
Ia terduduk di kursi depan monitor. Informasi yang barusan ia baca seakan tak bisa dipercaya. Irene benar-benar di luar dugaannya.
"Dia wanita yang sangat cerdas, Pak. Sudah pernah lulus kuliah di luar negeri mengambil dua mata kuliah sekaligus dalam usia yang masih sangat muda. Orang tua angkatnya juga bukan orang sembarangan."
Alan tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri yang tidak tahu apa-apa tentang Irene. Bahkan pembalap wanita yang disukainya ternyata adalah Irene. AI, nama pembalap itu. Ia tak pernah menyadari jika nama itu inisial dari Abraham Irene.
Lalu, suara merdu seorang Hyena juga milik Irene. Penerjemah cantik bernama Alenta, hantu cantik di rumahnya, wanita yang pernah ia temui di Eropa, semuanya orang yang sama: Irene Abraham.
"Orang yang pernah bermasalah dengan keluarga Anda ternyata bukan dari pihak keluarga Abraham, Pak. Ini dia orangnya."
Alan menerima lembaran foto yang anak buahnya berikan.
"Mereka dari keluarga Bramasta yang selalu menjadi saingan bisnis keluarga Narendra. Mereka sempat berjaya kekita bisnis keluarga Narendra melemah. Memang keluarga Bramasta masih ada kaitan saudara dengan keluarga Abraham. Tapi, hubungan mereka juga kurang baik. Saat berbisnis di kota ini, mereka sering menggunakan nama besar Keluarga Abraham yang lebih dulu sukses di Kota S. Jadi, kebanyakan orang pasti mengenal mereka sebagai bagian dari keluarga Abraham. Padahal hal itu tidak benar."
Alan mulai mengerti kenapa ibunya sangat membenci Irene. Ternyata memang benar, ada pihak yang ingin membuat keluarganya hancur. "Lalu, apa mereka masih ada di kota ini?" tanyanya.
"Mereka sudah lama pindah ke wilayah Eropa dan mencoba berbisnis di sana. Namun, belum lama ini aku dengar keluarga itu dibantai habis oleh kelompok Big-O."
__ADS_1
"Organisasi lawan kita?" tanya Alan. Ia jadi tertarik untuk membahasnya.
"Benar, Pak. Kabarnya pemimpin Big-O juga merupakan orang dari negara kita. Mereka sudah menjadi buruan berbagai negara karena bisnis-bisnis gelap yang dilakukan."
"Apa kamu tahu siapa orangnya?"
"Belum, Pak. Cookies saja kesulitan melacak bahkan sampai identitas mereka hampir terbongkar waktu itu. Jaringan mereka sudah terbilang kuat. Putus satu rantai tak akan memusnahkan organisasi itu."
"Baiklah, teruskan pekerjaanmu. Terima kasih informasinya," kata Alan.
"Baik, Pak."
Alan bangkit dari tempat duduk anak buahnya. Ia berjalan menuju ke lantai atas menaiki anak tangga. Dari atas sana ia bisa melihat pemandangan sekeliling yang terlihat sepi, hanya ada hamparan persawahan dan sungai.
Alan mengambil ponselnya. Ia mencari nomor telepon Irene yang sudah lama tidak dihubunginya. Namun, ketika ia mencoba menghubungi, nomor itu tidak tersambung. Sepertinya ponsel Irene tidak aktif.
"Maafkan aku. Kenapa aku bisa mengusirnya?"
Alan memukulkan tangan pada tiang balkon dengan kesal. Ia kesal kepada dirinya sendiri. Memang Irene sudah menyembunyikan identitasnya. Namun, ia juga telat untuk mendapatkan informasi tentang Irene. Dulu ia sempat mencari tahu tentang Irene, tapi kurang sungguh-sungguh melakukannya
"Bodoh kamu, Alan! Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Alan terus memukuli kepalanya sendiri. Ia tidak tahu lagi harus mencari Irene kemana.
__ADS_1
"Apa aku harus ke desa? Mungkinkah Irene ada di rumah kakek dan neneknya?"