Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 230: Pengakuan Ares


__ADS_3

"Tapi, kayaknya aku pernah kenal wajahmu yang ini," ujar Ares.


Irene menutupi wajahnya dengan tangan. "Wajahku memang pasaran," ucapnya.


"Buka dulu buka dulu!" Ares menarik tangan Irene agar tak menutupi wajah. Ia mengamati secara seksama tampilan wajah Irene yang terlihat tidak asing baginya.


"Ah! Aku baru ingat!" seru Ares. "Kamu yang nyamar jadi penerjemahnya Kak Alan waktu itu, kan?" tanyanya. "Kamu yang ngaku-ngaku Alenta waktu itu?"


Ares terus mendesak Irene agar mengakuinya. Ia yakin pernah melihat Irene dengan wajah aslinya waktu itu.


"Ah, sudahlah! Itu memang aku!" tegas Irene. Ia tak bisa lagi mengelak karena semua yang Ares tuduhkan memang dirinya.


"Parah banget kamu. Pantas Kak Alan sangat marah. Ternyata selama ini kamu juga membuntutinya dengan wajah asli ini. Dasar!" Ares mencubit pipi Irene dengan kencang sampai wanita itu mengaduh.


"Kamu juga yang waktu itu menyelamatkan aku, ya?" tanya Ares.


"Hah, apa?" Irene balik bertanya sembari memegangi pipinya bekas cubitan Ares.


Keduanya saling bertatapan. Ares tidak akan melupakan wajah itu. "Waktu aku berkelahi dengan Fathir dan teman-temannya, kamu datang membantuku. Apa kamu sudah lupa?"


Irene mencoba mengingat kembali saat itu. Ia memang pernah menolong Ares saat tidak menyamar.


"Aku sangat berterima kasih untuk waktu itu. Ternyata selama ini aku tidak jauh-jauh dari wanita jagoan itu."


Ares tertawa kecil mengingat kejadian yang sudah lama lewat. Ia menertawakan dirinya sendiri karena selama ini wanita yang dikaguminya ternyata adalah Irene.


Irene waktu itu adalah wanita pertama yang menurutnya keren sampai dia penasaran dan ingin bertemu dengannya lagi. Ternyata wanita jagoan waktu itu adalah si jelek Irene.


"Ini beneran wajah asli kamu? Coba buka, siapa tahu kamu masih pakai topeng!"


Ares memegangi wajah Irene untuk mengeceknya sendiri.


"Aduh, Ares! Sakit! Aku cuma pakai make up!" bentak Irene.


"Mana krim yang biasa kamu pakai? Aku jadi penasaran!"

__ADS_1


Ares merebut paksa tas Irene. Ia mengeluarkan beberapa benda dari dalam sana yang biasa Irene pakai untuk penyamaran.


"Gila, ya ... Jadi setiap hari kamu pakai ini?" tanya Ares. "Apa wajahmu tidak rusak?" tanya Ares sembari mengamati botol berisi krim warna coklat gelap itu.


"Itu racikan khusus untuk seseorang. Isinya sebenarnya sunblock yang diwarnai lebih gelap. Jadi malah bagus untuk melindungi tubuh," jawab Irene.


"Pantas kamu jarang pakai pakaian terbuka. Repot sekali untuk memakai ini. Effort-mu lumayan juga untuk berbohong. Kalau Kak Alan tidak terima, bisa kali ya, kamu dipenjara dengan tuduhan pembohongan publik," ledek Ares.


"Kamu suka ya, lihat orang menderita?" kesal Irene.


"Kalau lihat si jelek Irene yang menderita sih aku akan tertawa bahagia. Tapi, karena ternyata kamu orang yang sudah menyelamatkan aku waktu itu, aku akan memaafkanmu," kata Ares.


Irene berdecih. "Padahal aku lebih sering membantumu dengan wajah jelekku," protesnya.


"Iya, sih. Tapi, aku suka aja lihat kamu susah. Hahaha ...." Ares tertawa puas.


"Di dunia ini memang orang selalu memandang fisik baru bisa menghargai orang lain," sindir Irene.


"Ya, kalau sudah tahu begitu, kenapa sejak awal harus datang ke rumah kami dengan wajah jelekmu itu? Kenapa tidak jujur saja apa adanya?" tanya Ares.


"Kalau aku suka kamu memangnya kenapa?"


Ares memasang wajah serius sembari menatap Irene, membuat wanita itu menjadi kikuk.


"Apaan sih, malah bercanda seperti ini!"


Irene terlihat ingin mengabaikan candaan Ares yang menurutnya tidak lucu.


"Aku tidak sedang bercanda, aku memang menyukaimu," kata Ares.


Irene hanya terkekeh mendengarnya. Ia rasa Ares hanya sedang menggodanya. Selama ini, yang ia tahu Ares selalu membencinya. Sejak awal pertemuan sampai akhirnya mereka menjadi semakin dekat karena satu kampus.


Seorang Ares yang biasa dikelilingi banyak wanita cantik tidak mungkin tertarik dengan Irene versi dekil.


"Orang bilang aku selalu punya selera yang sama dengan Kak Alan. Ketertarikanku untuk kuliah dan masuk perusahaan memang terus terang terinspirasi dari Kak Alan. Memang waktu itu Kak Alex yang lebih dulu mengurus perusahaan. Namun, keinginanku semakin besar saat Kak Alan meninggalkan restorannya dan bergabung dengan Narendra Group."

__ADS_1


"Waktu kamu awal datang memang aku kaget kenapa Kakek membawa wanita jelek kampungan sepertimu ke rumah, bahkan harus satu sekolah denganku. Dulu aku memang benci padamu dan berharap kamu tidak betah supaya perjodohannya batal."


"Aku juga tidak habis pikir saat Kak Alan bilang menyukai wanita jelek sepertimu. Yah, walaupun aslinya kamu memang secantik ini. Pokoknya aku heran saja dengan perasaan Kak Alan."


"Tapi, makin lama aku semakin mengenalmu, meskipun wajahmu memamg buruk rupa, tapi ternyata dekat denganmu itu sangat menyenangkan. Setiap momen yang pernah kita lewati sangat seru. Dari mulai kita berantem bareng, membuat kekacauan di perusahaan, bertengkar setiap saat, main game bersama, sampai keseruan-keseruan lain yang tidak bisa aku lupakan."


"Berkat kehadiranmu, aku rasa kehidupan yang aku jalani jadi lebih berwarna dan menantang. Dan baru akhir-akhir ini aku menyadari kalau berjauhan denganmu membuat aku kesepian."


"Jadi, kalau nanti kami menikah dengan Kak Alan aku pasti akan bahagia untukmu sekaligus patah hati. Apa kamu mau denganku kalau Kak Alan tidak mau memaafkanmu?" tanya Ares.


"Kamu apa-apaan, sih? Kenapa harus bicara seperti itu? Aku tidak mau hubungan kita jadi aneh. Aku anggap tak pernah mendengar ucapanmu!" kata Irene.


"Hahaha ... Sudah aku duga kamu akan denial. Aku tidak akan sejahat itu mengganggu hubungan kalian. Aku hanya mau kamu tahu kalau aku juga menyukai Irene yang jelek tapi baik hati," kata Ares. "Ah, sudahlah! Kita pulang sekarang saja!"


Ares menyalakan mesin mobilnya. Ia mengemudikan mobil miliknya keluar dari area parkiran kampus. Sepanjang perjalanan keduanya terlihat diam.


Setelah 30 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di rumah.


"Cepat turun!" perintah Ares.


"Aku belum memakai riasanku," ucap Irene yang hendak mengambil krim dari dalam tasnya.


"Halah, kita sudah sampai rumah ngapain pakai menyamar segala!"


Ares membuka paksa pintu samping Irene dan menarik wanita itu keluar.


"Ares!" keluh Irene. Ia terpaksa memasang hoody di kepalanya untuk menyembunyikan wajah.


"Buat apa menyamar lagi? Aku dan Kak Alan juga sudah tahu," ucap Ares.


"Tapi kan masih banyak yang belum tahu. Aku tidak mau membuat mereka kaget."


Ares menarik paksa Irene dari dalam mobil dan membawanya masuk rumah. Irene menutup wajahnya saat beberapa pelayan terlihat tengah bekerja membersihkan rumah.


"Sudah, sudah ... Aku mau masuk kamar sendiri!" kata Irene ketika ia digiring naik ke dalam lift.

__ADS_1


__ADS_2