
Ruangan gereja yang dihiasi dengan rapi dan penuh bunga segar menjadi saksi bisu dari momen yang sangat bersejarah. Cahaya lembut yang menyinari setiap sudut memberikan sentuhan romantis pada suasana. Pada altar, terdapat panggung yang indah dengan hiasan bunga putih yang elegan dan kain putih yang mengalir menambah kesakralan tempat itu.
"Lihat kakak kita. Dia tampak gagah di depan sana. Setelah begitu banyak hal terjadi, akhirnya si jelek Irene menikah dengan kakak kita," ucap Arvy.
"Apa setelah ini kamu akan menyusul untuk menikah juga?" tanya Alfa.
"Kalau Kak Alan tidak keberatan, aku sudah siap untuk menikah dengan pacarku," kata Arvy dengan mantap.
Alfa tertawa kecil dengan kepercayaan diri adiknya itu. "Aku harap Adila mrmang benar-benar sudah bisa menerimamu. Dia kelihatannya sangat membencimu sekarang," ujarnya.
"Sembarangan! Itu karena Adila amnesia saja, Kak. Sekarang Adila sudah sadar kalau aku sangat mencintainya," kata Arvy.
"Hahaha ... Aku hanya khawatir padamu kalau dia tiba-tiba hilang ingatan lagi waktu menikah denganmu," ledek Alfa.
Ia berhenti bercanda dengan Arvy saat melihat adik bungsunya yang tampak duduk terdiam dengan lesu di sampingnya. Sedikit banyak ia tahu apa yang saat ini Arez rasakan di pernikahan Irene.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Alfa seraya merangkul punda Ares.
Ares sedikit terkejut karena sejak tadi ia masih melamum. "Ah, Kak, aku baik-baik saja," ucapnya.
"Sudahlah, Res. Kalau nanti Irene sudah jadi kakak ipar kita, kamu pasti akan melupakannya. Masih banyak wanita lain di dunia ini selain Irene," sahut Arvy dengan entengnya.
Ares menyunggingkan senyum kecut. "Bagaimana kalau suatu saat kamu melihat di depan Sana aku dan Adila menikah. Apa kamu bisa mengatakan hal seperti itu kepada dirimu sendiri?"
Arvy merengut. Adiknya sudah berani membalikkan kata-katanya. Ia langsung terdiam.
"Makanya jangan asal bicara!" kata Alfa dengan nada rendah.
"Aku niatnya menghibur, Kak!" kilah Arvy.
"Kamu yang namanya menghibur dan meledek hampir tidak ada bedanya. Lebih baik diam!" kata Alfa tegas.
__ADS_1
Alan berdiri dengan penuh keyakinan, mengenakan setelan jas hitam yang rapi, dan senyuman bahagia menghiasi wajahnya. Ia menatap ke depan dengan tatapan penuh harap, siap untuk mengucapkan janji suci kepada wanita yang dicintainya.
"Wah, pengantinnya cantik, ya!"
"Iya, dia cantik sekali. Kenapa berbeda dengan wanita yang biasanya Pak Alan kenalkan?"
"Aku dengar wanita itu selama ini menyamar pura-pura jadi jelek."
"Benarkah? Aku jadi melihat seperti orang yang sangat berbeda."
Irene memasuki ruangan dengan gaun pengantin putih murni yang indah. Gaun itu melambangkan kesucian dan keanggunan Irene saat dia berjalan dengan langkah lembut menuju altar. Raut wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tak tergambarkan, dan matanya berkilauan seperti permata yang menghiasi gaunnya.
"Irene ...." panggil Winda.
Irene menoleh ke arah Winda. Di sana ada sekumpulan teman-teman kampusnya yang datang. Ia membalas lambaian tangan Winda seraya tersenyum.
Para tamu yang hadir dalam pakaian formal mereka memperhatikan dengan penuh antusiasme dan haru ketika Irene berjalan menuju Alan. Sebuah lagu indah mengalun di latar belakang, menciptakan suasana yang penuh emosi.
Pandangan mereka yang penuh kasih mengalir satu sama lain, dan dengan suara yang penuh keyakinan, Alan mulai mengucapkan janji suci yang akan mengikat mereka berdua dalam ikatan perkawinan.
Alan dengan suara yang penuh pengharapan berkata, "Irene, hari ini, di hadapan saksi-saksi ini dan di hadapan Tuhan, aku, Alan, dengan sepenuh hati menerima dan menyatakan cintaku kepadamu. Aku berjanji untuk selalu mencintaimu, mendukungmu, dan menghargaimu. Aku akan menjadi pasanganmu yang setia, setiap hari sepanjang hidupku."
Irene memandang Alan dengan mata yang penuh cinta, dan saat tiba giliran untuk mengucapkan janjinya, ia dengan lembut menjawab, "Alan, hari ini aku, Irene, dengan sukacita menerima dan menyatakan cintaku kepadamu. Aku berjanji untuk mencintaimu tanpa syarat, mendukungmu dalam suka dan duka, dan menjadi pasanganmu yang setia dan sejati. Aku akan berjalan bersamamu melalui kehidupan ini, menjaga dan menyayangi kita berdua."
Setiap kata yang mereka ucapkan penuh makna, menggetarkan hati semua yang hadir. Cinta dan keberanian mereka dalam mengucapkan janji suci tersebut benar-benar terasa dalam ruangan itu.
Dalam keheningan yang menggema, pencerahan yang lembut menyinari mereka berdua di altar. Suasana yang terasa sakral dan magis membuat semua orang terhanyut dalam momen itu. Suara pastor yang lembut dan penuh kebijaksanaan menggema di ruangan gereja.
"Dengan janji suci yang kalian sampaikan, aku mengucapkan kalian suami dan istri. Apa yang telah digabungkan oleh Tuhan, tidak ada yang memisahkannya."
Tepuk tangan riuh rendah terdengar dari para tamu yang penuh sukacita. Momen ini menjadi simbol dari persatuan cinta yang tak tergoyahkan antara Alan dan Irene. Mereka saling memandang, senyum bahagia terukir di wajah mereka.
__ADS_1
Para tamu mulai mengucapkan selamat kepada pasangan baru ini, memenuhi ruangan dengan kegembiraan dan cinta. Terdengar suara peluk hangat dan tawa riang di sekitar mereka. Mereka merayakan kesuksesan cinta yang telah melampaui segala rintangan.
"Irene, Alan, selamat atas pernikahan kalian," ucap Alberto.
Irene langsung memeluk Arberto dengan hangat, begitu pula dengan Alan. Bagaimanapun juga lelaki paruh baya itu sudah sangat berjasa dalam hidup Irene, juga dalam hubungan keduanya.
"Ayah angkat, terima kasih atas kedatangannya," kata Irene.
"Aku harap ke depannya hanya kebahagiaan yang melingkupi hidupmu, tidak ada yang bisa aku berikan kepada kalian berdua selain restu," kata Alberto.
"Itu sudah cukup bagi kami, terima masih atas dukungannya selama ini," kata Alan.
"Irene, selamat atas pernikahanmu," ucap Myria.
Irene kembali terharu melihat kehadiran Myria di sana. "Terima kasih, Tante," ucapnya.
"Heh! Sudah aku bilang panggil aku kakak! Kamu ingin aku jewer, ya?" Myria marah kepada Irene.
Irene merengut. "Kak, aku mau dijewer," katanya mengadukan ucapan Myria pada Alan.
"Oh. Mentang-mentang sudah menikah mau dapat pembelaan?" sindir Myria.
"Kamu ini kenapa, Myria? Kamu kan memang tantenya, wajar kalau Irene memanggil kamu tante," sahut nenek yang juga ada di barisan sana.
"Ah, Ibu ... Mentang-mentang dia cucu masih lebih membela Irene! Aku kan juga anak Ibu!" protes Myria.
"Nanti kalau kamu sudah menikah dan punya anak, akan ibu sayangi lebih dari Irene!" kata nenek sekaligus menyindir Myria yang belum juga berkeinginan untuk menikah.
"Hahaha ... Tante, ayo cepat menikah!" Irene memanfaatkannya untuk ikut meledek tantenya.
"Ah! Kamu itu! Sudahlah, aku mau makan!" Myria memukul kecil kepala Irene sebelum turun dari pelaminan.
__ADS_1