Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 270:


__ADS_3

Alan mengemudikan mobilnya melewati jalanan yang semakin sepi. Irene melamun sambil memandangi deretan pepohonan yang mereka lewati. Alan memulai pembicaraan untuk mengalihkan perhatian Irene, "Kamu siap untuk bertemu kakek dan nenekmu?"


Irene tersenyum, "Ya, aku sudah sangat merindukan mereka. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali aku bertemu dengan mereka. Tapi aku juga merasa cemas. Bagaimana menjelaskan tentang apa yang terjadi di sana?"


Alan meletakkan tangannya di atas tangan Irene, "Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Kakek dan nenekmu pasti akan mengerti. Nanti kita jelaskan bersama-masa," katanya.


Irene tersenyum lega, "Terima kasih, Kak. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."


Tiba-tiba, Alan berhenti di tengah jalan yang sepi dan menoleh ke arah Irene, "Ada satu hal lagi yang ingin kubicarakan sebelum kita sampai di sana. Aku ingin membicarakan tentang Hamish."


Irene langsung merasa khawatir, "Ada apa dengan Kak Hamish?"


Alan menggelengkan kepala, "Tidak, jangan khawatir. Kita sama-sama tahu kalau dia masih terbaring di rumah sakit. Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku telah menempatkan anak buahku di sana untuk menjaga kakek dan nenekmu. Itu untuk keselamatan mereka."


Irene membelalakkan mata, "Kamu sudah melakukan apa? Kakek dan nenekku sudah tua, mereka tidak akan merasa nyaman dengan banyak orang di sekitar mereka."


Alan menenangkan Irene, "Jangan khawatir, aku sudah memberitahu mereka tentang situasi ini dan mereka sangat senang dengan kehadiran anak buahku. Mereka merasa aman dan nyaman karena ada orang-orang yang menjaganya."


Irene merasa lega, "Benarkah? Kalau begitu tidak masalah," katanya.


Alan tersenyum, "Kamu tidak perlu mencemaskan banyak hal. Ada aku yang akan siap berbagi suka dan duka bersamamu," ucapnya seraya mencium tangan Irene.


Setelah beberapa lama berkendara, mereka akhirnya sampai di rumah kakek dan nenek Irene. Mereka disambut dengan senyum hangat dan pelukan yang penuh cinta. Namun, Irene terkejut melihat banyak anak buah Alan yang berjaga-jaga di sekitar rumah.


Alan menjelaskan, "Jangan khawatir, mereka anak buahku hanya bertugas untuk menjaga keamanan kakek dan nenekmu. Mereka sangat terampil dan sudah berpengalaman dalam hal ini."


Kakek Irene merespon, "Ah, jadi ini yang Alan maksudkan. Kemarin sempat ada anak buah Hamish yang menganggu. Alan yang membantu menyingkirkan mereka," katanya.


"Sayang, apa kamu lelah?" tanya nenek sembari memeluk cucunya.

__ADS_1


Irene menggeleng. Ia bergelayut manja pada sosok nenek yang dirindukannya.


"Sudah lama sekali kami tidak melihatmu, Alan. Kamu semakin tampan dan gagah seperti kakekmu," ucap nenek Irene dengan senyuman.


"Terima kasih, nenek. Saya senang bisa bertemu dengan nenek dan kakek lagi setelah sekian lama," jawab Alan dengan sopan.


Irene yang masih memeluk neneknya tersenyum kecil. Dia merasa bahagia melihat Alan begitu akrab dengan kakek dan neneknya.


"Duduklah!" pinta Kakek.


Keduanya segera menempatkan diri duduk berdampingan di ruang tamu.


"Kakek, aku ...."


Dari arah dalam tiba-tiba muncul seorang lelaki muda yang membuat Alan dan Irene tertegun. Mereka terkejut ada orang lain di rumah itu selain kakek dan nenek.


"Oh, Elios, kemarilah! Duduk!" pinta kakek.


"Kamu ... Elios Hector, kan?" tanya Alan memastikan. Ia sedikit ragu bahwa ia seperti mengenal lelaki muda itu.


"Kamu ... Alan Narendra? Yang dulu menolongku waktu kecopetan di Iran?" Elios balik bertanya. Wajah Alan dan Irene juga seperti tidak asing baginya.


"loh, kalian sudah saling kenal?" tanya kakek terlejut. Pertanyaannya juga mewakili perasaan Irene dan nenek yang penasaran.


"Dulu kami pernah bertemu di Iran, Kek. Aku sempat kecopetan dan Alan yang menghajar copetnya. Lalu, Nona ini juga dulu yang jadi penerjemah Alan."


Irene menoleh ke arah Alan. Ia bahkan tidak ingat pernah bertemu dengan lelaki muda itu.


"Waktu kamu menipuku, jadi Alenta," sindir Alan dengan suara lirih.

__ADS_1


Irene baru paham. Ternyata ia juga sempat mengenal Elios dengan identitas lainnya. Tapi, ia tak mengingat momen itu.


"Elios, ini Irene, kakakmu," ucap nenek.


Elios membulatkan mata. Tidak disangka jika wanita itu ternyata adalah kakak kandungnya.


Irene menoleh ke arah nenek.


"Dia adikmu yang selama ini hilang, Ren," kata nenek.


Irene memandangi wajah Elios dengan seksama. Kedua mata mereka saling bertatapan. Irene tak pernah menyangka jika lelaki muda yang tampak tampan itu adalah adiknya. Berarti ucapan Hamish waktu itu memang benar adanya, adik Irene masih hidup.


Irene merasa sangat terkejut dan senang sekaligus sedih. Ia tidak menyangka masih memiliki keluarga lain selain nenek dan kakeknya. Alan juga merasa terkejut karena wajah Elios terlihat sangat familiar.


"Pantas aku kadang berpikir kalau Elios ada mirip-miripnya dengan Irene," gumam Alan.


"Jadi, dia Zayn, nek?" tanya Irene memastikan.


"Iya, Sayang. Dia adikmu, Zayn," kata nenek menegaskan.


Irene masih sulit untuk mempercayainya.


"Adikmu dulu diculik. Beruntung dia diselamatkan keluarga Hector dan dibesarkan dengan baik oleh mereka." kakek menepuk punggung Elios. Ia merasa bangga sekaligus bahagia bisa menemukan cucunya.


Elios mengembangkan senyum. "Salam kenal. Mungkin ini sangat terdengar canggung. Tapi, aku juga baru tahu kenyataan ini belum lama. Nama asliku Zayn Abraham. Ayah angkatku, Ricky Hector yang mengakuinya sendiri kalau sebenarnya aku bukan anak kandung mereka. Tuan Alberto yang memberikan alamat kakek dan benek kepadaku," ucapnya.


"Alberto sudah menceritakan semuanya kepada kakek, Ren. Aku lega karena kamu bisa bersama Alan. Jangan lagi berurusan dengan Hamish," pinta kakek sembari menghela napas dalam. Ada raut kekecewaan yang tersirat di wajahnya.


"Aku minta maaf ya, Kek. Kak Hamish masih koma tapi aku tinggal," ucap Irene.

__ADS_1


Kakek berusaha untuk tersenyum. "Tidak apa-apa. Itu memang salahnya sendiri. Yang penting kamu baik-baik saja. Lagi pula, Alberto pasti akan merawatnya dengan baik. Tantemu juga berusaha membantu merawat Hamish di sana. Kamu fokus saja dengan dirimu sendiri."


Seketika suasana berubah hening. Mereka satu sama lain merasa tidak enak hati. Irene tahu jika kakeknya juga masih peduli pada Hamish meskipun kelakuannya sudah keterlaluan.


__ADS_2