
Irene mengajak Ares jalan-jalan ke mall. Awalnya lelaki itu mengajak pulang saja karena malas mengikuti kemauan Irene. Ia sudah dibuat menunggu lama di depan rumah Pak Wibowo, sekarang masih disuruh menemaninya jalan-jalan.
Jajan Irene sangat banyak. Sejak tadi Ares terus yang mengeluarkan uang untuk membayar makanan yang Iren beli. Ada creepes, corndog, cumi goreng, tahu crispy, sampai yang terakhir es krim. Berasa sedang menjadi pengasuh anak majikan.
"Kamu tadi lama banget di rumah Pak Wibowo. Dapat ceramah apa aja?" Ares berjalan di sebelah Irene mengikuti langkah wanita itu yang asyik menikmati es krim di tangannya.
"Siapa yang dapat ceramah? Pak Wibowo baik kok, dia nggak marah-marah sama aku."
Ares tertawa kecil. Ia tidak percaya kalau dosen itu bisa melepaskan Irene begitu saja padahal sudah telat mengumpulkan tugas dan datang ke rumahnya tanpa memberi tahu terlebih dahulu. "Lalu kenapa kamu lama di dalam? Apa disuruh nyapu, ngepel, atau cuci piring agar tugasmu diterima?" tanyanya.
"Aku makan," jawab Irene santai.
"Apa?" Ares menoleh ke arah Irene.
Irene memandangi Ares sambil melvmat es krimnya. "Aku numpang sarapan di sana. Aku kan lapar." Ia berlagak seperti orang yang tidak bersalah.
Ares benar-benar kesal mendengarnya. Kalau tahu seperti itu, seharusnya dia langsung tinggal saja wanita tidak tahu diri itu setelah mengantarkannya. Padahal ia di dalam mobil menahan kebosanannya sembari mengkhawatirkan nasib wanita itu di hadapan Pak Wibowo. Dengan santainya, Irene bilang sekalian sarapan di sana.
"Super sekali memang kamu, ahli membuat orang kesal." Ares gregetan sampai ingin mencubiti Irene sampai dia kapok.
"Kenapa marah? Karena tidak aku ajak sarapan di sana?" Irene berpura-pura tidak tahu.
"Hah! Bukan hanya wajahmu yang jelek, ya, kelakuanmu juga memang menyebalkan," ejek Ares.
"Biarin! Kalau aku sempurna malah kasihan kamu bakalan jatuh cinta." Irene menjulurkan lidahnya mengejek Ares. "Makan nih!" Secara sengaja ia menyodorkan es krim miliknya sampai mengotori mulut Ares. Setelah itu, ia lari sekencang mungkin menghindari kejaran Ares.
"Orang ini benar-benar, ya ...." Ares geram. Ia mengelap kasar mulutnya. "Iren!" Serunya seraya mengejar wanita jelek itu.
__ADS_1
Irene cukup kencang berlari. Di dalam mall yang luas itu mereka seperti orang dengan masa kecil kurang bahagia. Pengunjung memperhatikan tingkah aneh mereka keheranan. Sementara, Irene justru tertawa-tawa sudah berhasil mengerjai Ares.
Sesampainya di area tangga darurat, langkah Irene semakin lambat mengingat harus menapaki anak tangga yang menanjak. Ia menoleh sekilas ke belakang, Ares masih terus mengejarnya. Ia berusaha sekuat tenaga memacu kecepannya.
"Auw!" Tubuh Irene tertarik ke belakang saat Ares berhasil menarik ikat rambut hingga kepangan rambutnya terlepas. Ia hampir terjatuh jika Ares tidak menahan pinggangnya.
Kedua mata mereka saling bertatapan begitu dekat. Ares bisa melihat lebih jelas wajah yang sekian lama dibencinya dari dekat. Dengan rambutnya yang tergerai, si jelek itu entah mengapa terlihat manis di matanya. Sejenak pandangannya dibuat terpana. Ia bisa melihat sisi lain Irene yang biasanya tidak pernah ia lihat. Hatinya berdesir dalam posisi sedekat itu dengan lawan jenis.
"Oh, Ya Tuhan ... lepaskan aku!" pinta Irene.
Ares kembali tersadar. Ia meruntuki dirinya sendiri yang beberapa saat terpesona dengan wanita yang sama sekali tidak masuk dalam kriterianya. Ia lepaskan tanganya dari pinggang Irene, membiarkan wanita itu berdiri sendiri.
"Kamu bisa membunuhku, tahu! Bahaya sekali menarik orang di tangga darurat," protes Irene. "Rambutku jadi rusak begini, kan ... s1alan!" Butuh waktu lama untuk mengepang rambutnya. Ia tidak membawa sisir saat ini. Irene merasa kesal.
"Tidak usah diikat, kamu lebih cantik seperti ini."
"Katanya mau nonton. Cepat turun!" Ares mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia malu sekali sudah keceplosan mengatakan hal yang tidak perlu. Bisa-bisanya ia bilang kalau Irene itu cantik.
Irene masih tertegun di tempatnya. Ia yakin Ares tadi sempat memujinya.
"Cepat turun! Biarkan rambutmu seperti itu. Mau didandani juga tetap jelek dan hanya buang-buang waktu!" Seloroh Ares. Ia segera berbalik menuruni tangga menuju tempat mereka akan nonton.
Irene ikut turun dan mengejar Ares. Ternyata ia memang salah dengar. Ares hanya tahu kata-kata yang tepat untuk menghinanya. Tidak mungkin Ares tertarik dengan wujud penyamarannya.
"Ares ... tunggu!" seru Irene seraya berlari mengejar Ares.
Sesampainya di depan bioskop, Ares kembali merogoh koceknya untuk membayar minuman dan popcorn yang akan mereka makan di dalam. Rencananya mereka akan menonton film bergenre action thriller.
__ADS_1
"Nih! Katanya minta popcorn jumbo." Ares menyerahkan popcorn besar kepada Irene, sementara dirinya membawa membawa minumannya. Wanita itu tersenyum lebar.
"Senangnya jalan dengan kalian, aku selalu dapat traktiran," gumam Irene.
"Lambungmu sebesar apa sampai semua makanan muat di dalam sana? Sudah banyak makan badan tetap kecil, jangan-jangan di dalam isinya cacing."
"Ck! Kenapa banyak protes? Hanya satu tahun jangan berlagak tidak mampu menghidupiku. Seperti orang miskin saja." Irene tak mau kalah membalas ejekan yang Ares lontarkan kepadanya.
"Aku belum bekerja, kamu lupa? Uang jajanku memang lumayan, tapi kalau harus membiayaimu setiap kali keluar, aku tidak bisa membeli barang-barang yang aku mau."
"Hahaha ... aku hampir lupa. Kamu kan hanya mahasisw biasa. Kalau kurang uang, minta saja pada keempat kakakmu, mereka punya banyak uang."
"Kamu mengajariku menjadi pengemis?"
"Apa salahnya minta uang ke sesama anggota keluarga? Ini berbeda meminta-minta ke orang lain di lampu merah, ya ...."
"Terserah padamu saja, mungkin kamu memang sudah terbiasa meminta-minta kepada keluargamu."
Ares orang yang keras kepala. Dia memang paling anti meminta bantuan kepada orang lain, sekalipun menjadi seorang anak bungsu. Ares merupakan anak yang paling singkat menikmati kebersamaan bersama orang tuanya. Bahkan, ia tidak ingat sama sekali bagaimana kedua orang tuanya dulu menyayanginya. Usianya baru 5 tahun saat kedua orang tuanya meninggal.
Irene memfokuskan tatapan pada Ares. Meskipun ucapannya menyebalkan, namun ada benarnya juga. Selama ini ia hanya sibuk menikmati kekayaan yang menjadi peninggalan orang tuanya. Irene wanita yang cerdas, pandai dalam banyak hal. Akan tetapi, ia belum pernah menggunakan bakatnya untuk hidup mandiri. Hidupnya sampai membosankan saking ia merasa tidak ada tantangan apa-apa dalam kedupannya.
Hidup Irene selama ini sangat sempurna meskipun tanpa orang tua. Ia bisa melakukan apa saja yang ingin dilakukannya tanpa perlu bersusah payah. Berkat ucapan Ares, ia jadi tersadar bahwa bakat-bakat yang dimilikinya bisa saja hilang jika tidak ia asah dengan baik.
"Hei, lihat kita bertemu siapa di sini?"
Sebuah suara yang muncul mengagetkan Ares dan Irene. Seseorang yang mereka kenal tiba-tiba muncul di sana tanpa disangka-sangka.
__ADS_1