Wanita Milik 5 Tuan Muda

Wanita Milik 5 Tuan Muda
Bab 118:


__ADS_3

"Ada apa ini?"


Ayah Sovia akhirnya datang. Ia begitu terkejut melihat kondisi putrinya saat ini. Putri kebanggaannya dipergoki melakukan hal tidak senonoh bersama seorang lelaki.


"Ayah ...." Sovia merengek dengan wajah memelas.


Sebagai seorang ayah, tentu saja ia malu dan merasa telah kehilangan muka.


"Lihat sendiri kelakuan putrimu!" bentak Brata.


"Maafkan dia, Brata. Putriku telah bersalah membuat acaramu jadi terlihat buruk," kata Jiman.


"Ayah ...." Sovia kembali merengek.


"Diam kamu! Berani-beraninya kamu membuat kami semua malu! Urusi masalahmu sendiri!" Jiman memarahi Sovia. "Brata, kita keluar saja." ia mengajak saudaranya keluar dari kamar itu. Sungguh sangat memalukan melihat kelakuan Sovia.


Sovia dan Pion saling tertegun. Mereka tak bisa lagi mengelak dari kenyataan. Semua orang telah mengetahui apa yang mereka lakukan.


"Semalam sepertinya aku minum terlalu banyak, Sovia. Maafkan aku ," kata Pion.


Sovia terlihat geram. Susah payah ia menggunakan kesempatan itu untuk mendapatkan Alan, tapi karena kesalahan Pion, rencananya gagal total. Ia bukan hanya terlihat buruk di hadapan keluarga dan orang-orwng, tetapi juga Alan.


"Aku tidak sepenuhnya salah. Semalam kamu sendiri yang mengambil inisiatif merayuku. Dan kita sama-sama menikmati kesenangan semalam. Jadi, kita lupakan saja semuanya," kata Pion dengan enteng.


Bug!


Sovia melemparkan bantal tepat mengenai wajah Pion saking kesalnya. Ia masih tidak rela menerima kenyataan bahwa semalam dirinya bermesraan dengan lelaki itu, bukan Alan.


"Kenapa kamu jadi galak begini? Bukankah aku cukup memuaskan seperti lelaki yang kamu harapkan?" tanya Pion.


"Diam!" pinta Sovia dengan geram.

__ADS_1


"Jangan galak-galak begitu, kalau kamu kesepian bisa hubungi aku kapanku kamu mau," rayu Pion.


"Keluar kamu sekarang! Keluar!" kesabaran Sovia habis. Ia mengusir lelaki itu agar pergi dari kamarnya.


Saat ia sedang berdebat dengan Pion, tanpa sengaja Sovia melihat Alan bersama Irene melewati pintu kamarnya yang terbuka. Dunianya seakan telah kiamat saat pandangan matanya bertemu dengan Alan. Sekali lagi, Alan melihatnya dalam kondisi yang sangat menjijikan.


"Kak, kita masih lama berdiri di sini?" tegur Irene saat Alan berhenti memperhatikan Sovia di kamarnya. Ia sendiri sama sekali tidak peduli dengan apa yang menimpa Sovia. Ternyata, sebelum ia melaksanakan rencana, Sovia lebih dulu kena batunya.


"Ah, tidak. Ayo kita pergi," kata Alan.


Kondisi kaki yang sakit membuat Alan sedikit harus dipapah Irene. Kejadian yang baru saja dilihatnya bukan sekali ini terjadi. Ia hanya kecewa ternyata Sovia masih belum berubah. Wanita itu selalu saja licik.


"Kita turun sekarang ya, Kak."


"Pamit dulu kepada Pak Brata. Masa kita mau pergi begitu saja," kata Alan.


"Masih mau pamit? Padahal ini semua juga gara-gara keponakannya itu, kan? Menyebalkan!" keluh Irene.


"Belum tentu Pak Brata tahu kalau Sovia melakukan hal itu." Alan masih terlihat berpikir bijak.


***


Sovia mengenakan pakaiannya setelah menyelesaikan ritual mandi. Dalam otaknya kini dipenuhi hasrat untuk melampiaskan amarah kepada kedua temannya, Ayyun dan Joli.


Ia berjalan dengan langkah tegas menghampiri kedua temannya yang tampak sedang berbicara di area tepi kolam renang.


Plak! Plak!


Sovia menampar keras kedua temannya. Ayyun dan Joli terkejut dengan kedatangan Sovia secara tiba-tiba. Keduanya tampak takut dengan kedatangan Sovia.


"Sovia, kami minta maaf," kata Ayyun.

__ADS_1


Plak! Plak!


Sekali lagi Sovia menampar mereka berdua. "Dasar pengkhianat! Kalian sengaja mau menjebakku, kan? Aku tidak akan memaafkan kalian!"


Sovia menjambak rambut keduanya tanpa ampun. Ayyun dan Joli hanya bisa mengaduh karena Sovia tengah melampiasman kekesalannya.


"Lepas, Sovia! Kamu sudah keterlaluan!" bentak Ayyun seraya menepis kasar tangan Sovia darinya.


"Kalian yang keterlaluan! Aku sudah sangat percaya kalian mau membantu rencanaku. Ternyata kalian ingin menjatuhkan aku di hadapan banyak orang!"


"Siapa yang melakukan itu? Kami sudah semaksimal mungkin membantumu!" bantah Joli. "Kamu kan juga lihat sendiri kami yang memberikan obat itu kepada Alan dan wanita yang bernama Irene."


"Kalau kalian becus melakukannya, kenapa jadi Pion yang masuk kamarku? Mata kalian sudah buta atau bagaimana? Dasar sialan!"


"Cukup, Sovia! Aku sudah tidak tahan lagi kamu salahkan terus." Ayyun ikut hilang kesabaran.


"Ini juga gara-gara kalian!" Sovia masih ingin menyalahkan orang lain.


"Hey ... Coba lihat kemari! Ada wanita yang semalam tidur dengan lelaki random di pesta pamannya sendiri yang sangat terhormat!" seru Ayyun. Perkataannya membuat orang-orang yang berada di sekitar memberikan perhatian.


"Apa kalian semua mau tahu? Wanita ini sebenarnya ingin menjebak seorang pengusaha tampan dan kaya raya agar bisa tidur dengannya!" kalimat yang keluar dari mulut Ayyun semakin berbahaya.


"Kamu sudah gila, ya!" Sovia hendak menghajar Ayyun namun dicegah oleh Joli.


"Dia sudah memberikan obat pada pengusaha incarannya agar bisa tidur dengannya. Sayangnya yang datang ke dalam kamar adalah lelaki lain. Hahaha ...." Ayyun tertawa puas mengumbar rencana yang Sovia lakukan.


"Hentikan!" Sovia ingin membungkam mulut temannya yang bocor.


"Kenapa? Itu memang kenyataan, kan?"


Sovia semakin malu menyadari pandangan orang-orang kembali mengarah padanya.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaafkanmu, Ayyun! Berani bicara lagi, aku benar-benar akan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan!" ancam Sovia.


Ayyun tersenyum meremehkan. "Sepertinya kamu sudah kena karma atas perbuatanmu sendiri. Silakan saja lakukan hal-hal buruk lainnya, kamu yang akan kena batunya."


__ADS_2